
"Mas balik yuk ke Jakarta" pinta Nia.
"Ayok sayang" ucap Justin tersenyum mengelus pucuk kepala Nia.
Justin dan Nia mengemas seluruh pakaiannya dan kembali ke Jakarta.
Ketika Sampai di Jakarta, Justin dan Nia tidak sengaja menyerempet seorang wanita yang tengah melintas di pinggir jalan dan ada seorang pria disampingnya.
"AKH!" ucap wanita yang tidak sengaja terkena mobil Justin.
"Mas, kita nabrak orang, ayok mas kita tolongin dia, kasian mas" ucap Nia.
"Iya sayang" ucap Justin.
Justin dan Nia keluar dari dalam mobil untuk memeriksa kondisi wanita yang mereka tabrak.
"Mbak gak apa-apa?" tanya Justin pada wanita yang sedang menunduk menahan sakit.
"Gak apa-apa kok mas" ucap Kiara mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Kiara?" batin Justin.
"Pa... !" ucap Cakra yang langsung dibungkam oleh Kiara dan Kiara memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya.
"Pa?, apa maksudmu?" tanya Nia.
"Hm, gak apa-apa kok, lupakan saja, itu tidak penting" ucap Kiara tersenyum.
Cakra yang mendengarnya pun menatap ibunya tidak percaya jika ibunya akan mengatakan hal itu.
"Mas Justin" batin Kiara menatap Justin berlinang air mata dan kemudian menatap Nia.
"Pah, Cakra kangen banget sama papah" batin Cakra dan meneteskan air matanya.
"Kalian saling mengenal ya sebelumnya?, sepertinya kalian sudah saling mengenal sebelumnya" ucap Nia.
"Enggak kok mbak, saya tidak pernah mengenalnya" ucap Nia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang menetes.
Justin yang mendengar perkataan Kiara sontak terkejut dan menatap dengan tatapan sendu.
"Kalau mbak gak kenal sama pacar saya, kenapa mbak nangis?, atau kaki mbak terluka ya karena tadi tertabrak oleh pacar saya?" tanya Nia.
"Pacar?, apa dia sudah berpisah dengan Aislinn?, ataukah dia berselingkuh dari Aislinn?, jika memang benar mas Justin berselingkuh dari Aislinn, tega sekali dia, dia meninggalkan ku begitu saja, tanpa diceraikan olehnya dan juga tanpa diberikan nafkah lahir dan batin selama bertahun-tahun, dan sekarang dia mengkhianati Aislinn juga" batin Kiara.
"Mbak, coba kakinya diluruskan" pinta Nia.
Kiara meluruskan kakinya dan terlihat celana Kiara robek dan darah terus mengalir di kaki Kiara.
Justin yang melihat kaki Kiara pun segera menggendong tubuhnya membawa masuk ke dalam mobil. Justin menurunkan kursinya, agar kaki Kiara bisa diluruskan.
"Mas" ucap Nia mengejar kepergian Justin.
Justin tidak menjawab panggilan Nia dan terus berjalan ke mobilnya, meletakkan Kiara secara perlahan di bangku sampingnya dan Nia yang melihat pun akhirnya dengan terpaksa duduk di bangku belakang bersama dengan Cakra Rayyanza, anak kandung dari Justin yang tidak diketahuinya.
Nia menatap Justin dengan air matanya yang menetes.
"Sayang, tolong ambilkan tisu di belakang kursi ku" pinta Justin pada Nia.
Cakra yang mendengarnya menatap dengan tatapan mata sedih dan tidak percaya, jika ayahnya kembali berselingkuh dengan wanita lain.
"Ini sayang" ucap Nia memberikan beberapa lembar tisu pada Justin.
"Hapus air matamu, aku tahu kamu sakit, tapi aku tidak ingin melihat mu meneteskan air mata, aku sadar, aku salah, telah membuatmu terluka, tidak sengaja menabrak mu tadi" pinta Justin pada Kiara memberikan beberapa lembar tisu yang tadi diberikan oleh Nia.
"Makasih" ucap Nia tersenyum kecil mengambil tisu dari tangan Justin dan menghapus air matanya.
Kiara menoleh sejenak ke Nia dan Nia pun tersenyum. Nia tidak mengetahui, jika wanita yang ia dan Justin tabrak adalah istri pertama Justin yang ditinggalkan begitu saja, hanya demi menikah dengan Aislinn.
Justin menoleh sejenak Kiara dan meneteskan air matanya, namun ia menghapusnya sebelum Kiara ataupun Nia melihatnya.
"Maafkan aku Kiara, berada di samping mu seperti ini, membuat ku merasa semakin bersalah, aku sangat merindukanmu dan juga anak kita Cakra Rayyanza" batin Justin dan menoleh ke arah Kiara yang tengah menghapus air matanya namun air matanya terus menetes.
"Aku tahu Kiara, yang sakit bukanlah kaki mu, walaupun kaki mu itu mengeluarkan banyak darah, tapi yang sakit hatimu bukan?, sampai kamu terus menerus meneteskan air mata seperti itu, seandainya tidak ada Nia, pasti aku sudah menghapus air mata mu itu, setidaknya untuk sedikit menenangkan perasaan mu itu, dan menepis rasa rinduku padamu" batin Justin yang meneteskan air mata.
"Kamu kenapa nangis mas?" tanya Nia yang melihat Justin menangis dari cermin yang ada di dalam mobilnya.
Kiara yang mendengar pun menatap Justin dengan air mata yang masih terus menetes. Menatap mata Kinara yang berlinang air mata itu membuat air mata Justin terus menetes.
"Kamu kenapa mas?" tanya Kiara.
"Gak apa-apa kok" ucap Justin menghapus air matanya.
Nia yang mendengarnya pun dibuat terbakar api cemburu.
"Pertanyaan aku gak dijawab, sedangkan pertanyaan dia dijawab, katanya gak kenal sama dia, tapi kenapa mas dia nanya langsung dijawab sih sama mas Justin, sepertinya tidak mungkin, jika mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya, mereka terlihat sangat dekat, walaupun berjarak, ku tau, pasti mereka pernah ada hubungan spesial, tapi siapa wanita itu?, apa dia mantan kekasih mas Justin?" batin Nia bertanya-tanya menatap Justin dan Kiara secara bergantian yang masih saling menatap.
"Temenin gw ke rumah sakit yuk, jenguk temen gw" ucap Davira pada Clarissa.
"Emang lu punya temen lagi selain gw?" tanya Clarissa.
"Ya punya lah" ucap Davira.
"Ya udah ayok" ucap Clarissa.
"Itu kan papah, dia gendong siapa?" batin Clarissa bertanya-tanya.
"Lho, itu kan mamah, ngapain dia sama cowok dan cewek itu?" batin Davira bertanya-tanya.
"Kok ada Cakra sih?, ngapain dia disitu?" batin Clarissa bertanya-tanya.
"Cakra ngapain ya disitu?" batin Davira bertanya-tanya.
"Dokter, suster tolong istri saya" teriak Justin.
"Apa mas?, istri?" tanya Nia terkejut.
"Mas jawab" ucap Nia memegang tangan Justin.
"Nanti aku jelaskan, yang terpenting sekarang Kiara baik-baik saja" ucap Justin membawa Kiara ke dalam ruang perawatan.
Setelah dokter mengobati luka Kiara, Justin membawa Kiara dengan menggendongnya dan meletakkannya di bangku rumah sakit.
"Mas, jelaskan sama aku semuanya, mengapa kamu mengatakan jika wanita ini adalah istrimu, bukannya istri mu itu hanya Aislinn mas?" tanya Nia.
Davira dan Clarissa pun berlari menghampiri mereka.
"Papah" panggil Clarissa.
"Mamah" panggil Davira.
Justin dan Nia yang melihat anak mereka memergoki mereka pun dibuat panik.
"Clarissa" ucap Justin terkejut.
"Davira" ucap Nia terkejut.
"Pah, apa maksud dari semua ini?, jelaskan semuanya sama Clarissa pah" ucap Clarissa meneteskan air matanya.
"Oke, papah akan menjelaskan semuanya sama kamu" ucap Justin.
"Cakra, Clarissa, maafkan papah nak" ucap Justin menunduk meneteskan air matanya.
"Kenapa papah panggil Cakra nak juga?" tanya Clarissa menunjuk Cakra.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Justin pada Clarissa menunjuk Cakra.
Clarissa menatap sejenak Cakra begitupun dengan Cakra.
"Dia lelaki yang Clarissa cintai om" timpal Davira.
Clarissa dan Cakra menatap Davira dengan berlinang air mata. Kiara dan Justin yang mendengar sontak menangis tersedu-sedu.
"Mas, jelaskan semuanya pada anak kamu sekarang, Clarissa berhak untuk tahu semua yang telah terjadi" pinta Kiara sesenggukan.
"Pah, jelasin sama aku, pa yang sebenarnya terjadi?" tanya Clarissa berlinang air mata.
"Cakra adalah kakak kamu Clarissa" ucap Justin.
"Apa pah?, jadi aku dan Cakra itu saudara?" tanya Clarissa terkejut.
Mendengar perkataan ayahnya sontak membuat Cakra terkejut karena saat ini ia sudah memiliki perasaan pada Clarissa.
"Jadi om itu ayahnya Clarissa?, lalu apa hubungan om sama mamah aku?" tanya Davira.
"Mamah kamu?" tanya Clarissa terkejut.
Selama bersahabat dengan Davira, Clarissa memang tidak pernah bertemu dengan ibu Davira.
"Maafkan mamah nak, Clarissa maafkan saya, saya dan mas Justin sudah lama menjalin hubungan" ucap Nia menunduk.
"Apa mah?" tanya Davira terkejut.
"Tega banget ya lu sama gw!, gw kira lu sahabat gw, tapi ternyata nyokap lu malah berpacaran dengan bokap gw" ucap Clarissa mendorong Davira dan langsung pergi dari sana.
"Clarissa" panggil ayahnya.
"Clarissa tunggu" ucap Davira mengejarnya.
Sementara Cakra terdiam dan bersandar di dinding rumah sakit.
"AKH!" ucap Cakra dengan suara keras mengacak-acak rambutnya.
Kiara langsung menghampiri Cakra dan memeluknya, Cakra pun memeluk ibunya.
"Maafkan papah nak" ucap Justin yang ingin memeluk Cakra namun Cakra mendorongnya hingga Justin jatuh ke belakang.
"Puas pah?, apa papah puas?, papah telah menghancurkan hidup ku dan mamah selama bertahun-tahun dan sekarang papah menghancurkan hatiku lagi dengan hal ini, pah, aku sangat mencintai Clarissa, tapi ternyata, Clarissa hanyalah adik ku" ucap Cakra sesenggukan.
"Clarissa bukan adik kamu Cakra" ucap Justin menggelengkan kepalanya.
"Apa maksud papah?" tanya Cakra berlinang air mata.
"Apa kamu ingat?, papah menikah dengan Aislinn dan Aislinn sudah memiliki bayi?, Clarissa itu anak Aislinn bersama mantan suaminya, bukan anak kandung papah, Clarissa bukan darah daging papah nak, jadi, dia bukanlah adik kamu, kejarlah cintamu itu nak, papah tidak ingin melukai hati kamu lagi, kejar Clarissa nak" pinta Justin tersenyum dengan air mata yang terus mengalir sembari menepuk pundak Cakra.
Cakra yang mendengar pun segera bangkit dan mengejar kepergian Clarissa.