
Emeli berjalan dengan langkah gontai, ia tidak berhenti memikirkan Nathan. Pria itu bisa se-egois itu, hanya memikirkan perasaannya tanpa melihat hati Emeli yang sudah di sakitinya. Untuk kesekian kalinya wanita itu mengusap air mata di pipinya. Matanya yang sembab dan terasa panas membuat pandangannya menyipit. Emeli yang sedari tadi berjalan sambil melamun, tidak menyadari di depannya berdiri seorang pria tengah membuka pintu mobil.
"Bukk!!
Langkah Emeli mundur ke belakang, ia tengadahkan wajah menatap seorang pria berambut pirang, matanya besar tengah menatap tajam ke arahnya.
"Maaf, maaf," ucap Emeli melipat kedua tangannya menatap pria itu.
Sejenak pria itu memperhatikan wajah Emeli yang terlihat sangat kusut, lalu ia berjalan mendekatinya. "Arga, kau siapa?" pria itu mengulurkan tangan menyebut namanya.
Emeli termangu sesaat, lalu ia menurunkan tangan dan membalas jabatan tangan pria bernama Arga. "Emeli."
Arga menarik kembali tangannya. "Kau mau kemana dan dari mana?" tanyanya tanpa basa basi.
"Aku habis melamar kerja." Suara Emeli terdengar serak di telinga Arga.
"Dapat?" tanyanya lagi, dengan tatapan terus ke wajah Emeli.
Emeli menggelengkan kepala sesaat, "tidak."
"Kau butuh pekerjaan?" Arga menyilangkan kedua tanggan di dada tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya pada Emeli.
Emeli menganggukkan kepala, ia melirik sesaat ke arah Arga lalu mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
Arga menurunkan tangannya lalu mengambil dompet di saku celananya. "Ini kartu namaku, datang saja ke Cafeku." Arga memberikan kartu nama pada Emeli.
Emeli diam terpaku menatap kartu nama di tangan Arga, lalu beralih menatap Arga bingung dengan sikap Arga yang baru saja kenal beberapa menit yang lalu tapi sudah mempercayainya untuk menawarkan pekerjaan. "Ayo ambil, bukankah kau butuh pekerjaan?"
Dengan ragu ragu tangan Emeli perlahan mengambil kartu nama di tangan Arga. "Terima kasih."
"Jangan sungkan." Arga tersenyum tipis. "Aku tunggu kedatanganmu besok pagi."
Emeli mengangguk sekilas menatap Arga yang berlalu begitu saja. Ia menundukkan kepala menatap kartu nama di tangannya.
"Mungkin ini awal yang baik." Emeli tersenyum, ia masukkan kartu nama pemberian Arga ke dalam tas. Emeli memutuskan untuk pulang dan memberitahu kabar gembira ini pada Clara.
***
Emeli telah sampai di halaman rumah, ia berjalan dengan hati bahagia perlahan membuka pintu. Senyum yang sedari tadi mengembang berubah kepanikan saat melihat Marni tengah menangis di depan tubuh Nathan yang tergeletak di atas lantai.
"Nathan!" pekik Emeli langsung menghampiri Marni dan jongkok di hadapan tubuh Nathan "Marni, Nathan kenapa?!"
Emeli mengangkat tubuh Nathan di bantu Marni. "saya tidak tahu Non, tiba tiba saja Tuan pingsan," jawab Marni ketakutan.
"Dimna Sandra dan Ibu?" Emeli menatap wajah Marni yang masih terisak.
"Tuan baru saja pulang dari mana, saya tidak tahu Non, tahu tahu Tuan pingsan."
"Marni bantu aku pindahin Nathan ke kamar. Marni menganggukkan kepala lalu mengangkat tubuh Nathan di pangkuan Emeli memapahnya ke dalam kamar pribadinya. Lalu Emeli membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur. Sekilas Emeli melihat punggung Nathan terdapat beberapa luka lebam.
"Nathan di pukul? di pukul siapa?" ucap Emeli dalam hati. Lalu ia meminta Marni ntuk membalikkan tubuh Natha supaya telungkup. Kemudian Emeli memeriksa beberapa titik di area punggung suaminya. Pakaian Nathan yang terbuka menudahkan Emeli untuk memeriksanya.
"Ada apa Non?" tanya Marni penasaran.
Emeli memalingkan wajahnya menatap Marni "Di antar siapa Nathan pulang?"
"Non Sandra," sahut Marni.
Emeli tercenung sesaat, "Marni, kau ambil air hangat dan kain lembut. Buat Nathan sadar, aku pergi dulu sebentar."
Marni menganggukkan kepala, "baik Non."
Emeli berjalan keluar kamar menuju kamarnya. Lalu ia membuka laptop pemberian Nathan. Untuk mencari informasi tentang jenis kelainan.
"Apakah Sandra punya kelainan seperti temannya Clara?" gumam Emeli. Ia menarik napas panjang lalu ia hembuskan perlahan. Perlahan Emeli berdiri lalu berjalan naik ke atas tempat tidur. Ia merasakan kantuk yang mulai menyerangnya. Tak terasa Emeli pun tertidur.
Baru saja beberapa menit, Emeli terbangun dari tidurnya saat Ibu Nathan datang ke kamarnya dan menarik paksa tangan Emeli. "Enak saja kau tidur, dasar wanita tidak berguna!'
" I, Ibu?" Emeli mengucek matanya.
"Ayo bangun, rawat suamimu yang sedang sakit. Hari ini Sandra tidak pulang ke sini. Dia muntah muntah sejak kemarin. Sepertinya dia hamil." Ibu Nathan tersenyum lebar. Bicara seenaknya tanpa memikirkan hati Emeli lagi. "Ayo bangun!" Wanita itu langsung keluar dari kamar Emeli.
"Jadi mereka sudah pulang sejak kemarin? gumam Emeli. Selepas dari bulan madu, Nathan dan istrinya pulang ke rumah Sandra. Dan Emeli tidak di beritahu apa apa.
Emeli menghela napas dalam dalam lalu ia turun dari atas tempat tidur. Ia tetingat kata kata Ibu Nathan baru saja. Yang mengatakan kalau Sandra hamil. Tak ada harapan lagi untuk Emeli mempertahankan rumah tangganya. Emeli berjalan gontai memasuki kamar Nathan, ia melihat pria itu sudah duduk di tepi tempat tidur. " Emeli."
"Apa kau butuh sesuatu? tanya Emeli.
Nathan menggelengkan kepalanya, " duduklah, aku ingin bicara."
Emeli duduk di kursi menghadap Nathan. "Ada apa?" tanya Emeli menundukkan kepalanya.
"Sandra..?"
"Hamil?" potong Emeli.
"Kau sudah tahu? Nathan menatap raut wajah Emeli yang terlihat biasa saja. " Kau tidak marah?" tanya Nathan.
Emeli menggelengkan kepalanya, sejak hidupnya berantakan dan mendapatkan kekecewaan. Emeli sudah tidak memiliki perasaan lagi. "Maafkan aku Emeli."
Nathan merasa bersalah telah mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menyentuh Sandra. Bahkan ia menulis pesan singkat untuk menutupi kebohongannya jika ia tidak bisa hidup tanpa Emeli. Sudah kodratnya manusia memiliki sifat berubah. Hari ini belum tentu sama dengan hari esok. Hanya mereka yang memiliki komitmen dan menjaganya sampai mati. Dan Emeli memaklumi itu semua, dari pada harus mengeluhkan yang hanya membuat hatinya semakin terluka.
"Sudahlah Nathan, tidak perlu lagi kau menjelaskan. Dan tidak perlu lagi kau membohongiku untuk menutupi itu semua dengan kata kata rayuanmu." Emeli berdiri. "Aku lelah."
Emeli berjalan keluar kamar Nathan, dan berpas pasan dengan Sandra yang baru saja datang. "Kau sedang apa di kamarku?"
"Bukan urusanmu," jawab Emeli malas, wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan Sandra yang masih mau menghinanya.
Emeli mengunci pintu kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. "Sudahlah Emeli, buat apa kau menangis lagi. Lebih baik kau bekerja cari uang untuk menghidupi dirimu sendiri." Emeli memotivasi dirinya sendiri. Meski ia pun tidak yakin jika esok akan lebih baik lagi dari hari sekarang. Wanita itu kembali menguap dan memejamkan matanya. Perlahan ia tertidur lagi hingga pagi menjelang.