
"Ayo, Emeli. Lakukan sesuatu." Ucap Emeli dalam hati. Perlahan ia turun dari atas tempat tidur lalu berjalan mengendap endap ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Dua puluh menit berlalu, Emeli telah selesai membersihkan diri. Lalu ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan balutan handuk di tubuhnya. Ia bergegas memungut pakaian pengantinnya lalu ua gunakan kembali. Emeli tidak punya pilihan selain memakai pakaian itu lagi dari pada harus membuang waktu untuk mencari pakaian lainnya.
Sesaat ia menoleh ke arah Al yang masih tertidur pulas. Lalu melangkahkan kakinya dengan tergesa gesa menuju pintu kamar yang tak terkunci. Perlahan Emeli berjalan mengendap, sesekali ia bersembunyi saat melihat anak buah Al berjaga jaga di setiap sudut mansion itu.
"Arga, Clara, kalian di mana? aku harus kemana?" tanya Emeli dalam hati.
Sesaat Emeli terdiam di bawah meja, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.
"Sebaiknya aku pergi dari sini, dan meminta bantuan Polisi untuk membebaskan Clara dan Arga." Gumam Emeli pelan.
Emeli kembali bergerak dengan cara merangkak, dari satu pilar ke pilar lain. Namun usahanya sia sia saat mencapai pintu utama, terdapat beberapa pria berjaga di depan pintu utama. Emeli kembali menutar arah mencari jalan lain lewat pintu belakang.
Senyum Emeli mengembang saat melihat pintu belakang tidak ada penjagaan. Ia kembali merangkak menuju pintu itu. Namun saat ia hendak berdiri, baju yang ia kenakan terasa menyangkut. Emeli menoleh ke belakang dan tengadahkan wajah menatap ke arah Al yang sudah berdiri di belakangnya dan menginjak ujung gaun pengantin yang Quenby kenakan.
"Kau mau pergi kemana? melarikan diri?" tanya Al tersenyum sinis.
"Lepaskan!" seru Emeli menarik ujung gaunnya.
Namun Al tidak mau menggeser kakinya. Ia membungkukkan badan lalu menarik paksa tangan Emeli supaya berdiri.
"Kau istriku, turuti semua perintahku!" bentak Al sambil menyeret paksa tangan Emeli, kembali ke kamar pribadinya.
"Lepaskan aku, kau bukan suamiku!" pekik Emeli sambil memukul tanga Al dan menendang kaki pria itu. Namun semua usaha Emeli sia sia.
Sesamoainya di dalam kamar, Al menghempaskan tubuh Emeli ke atas tempat tidur, lalu ia naik ke atas tubuh Emeli tanpa memberikan kesempatan sedikitpun pada wanita itu.
"Semakin kau liar, semakin aku menyukaimu." Bisik Al di telinga Emeli membuatnya begidik.
"Brengsek, kau sudah gila!" umpat Emeli.
Al membungkam mulut Emeli dengan ciuman panasnya, sehingga Emeli kesulitan bernapas. Entah setan apa yang sudah merasuki Al. Cara dia memperlakukan Emeli dengan kasar, wangi parfum maskulin dan ciuman liar di setiap inci tubuh Emeli. Membuat wanita itu tidak bisa membendung hasratnya. Tanpa Emeli sadari, ia pun ikut menikmati permainan Al, hingga keduanya terpuaskan.
Suasana kamar yang tadi terdengar suara desahan napas saling memburu, erangan kecil dari bibir Emeli dan Al. Mengakhiri permainan keduanya, dan akhirnya terkulai lemas bermandikan keringat. Emeli tidak mengingat apa apa lagi selain sensasi ketenangan begitu juga Al. Keduanya perlahan tertidur pulas tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka.
***
Matahari mulai bersinar di ufuk timur. Suara burung berkicau dan cahaya mentari mulai menerobos masuk lewat celah kaca jendela. Perlahan Emeli membuka mata, yang pertama ia lihat sosok Al yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Ayo bangun!"
Al mengangkat tubuh Emeli lalu mrnggendongnya.
"Bersihkan badanmu, karena dokter sudah menunggumu untuk pemeriksaan."
"Dokter? memangnya aku sakit? tidak, aku tidak mau!" sahut Emeli.
"Kau harus di periksa, apakah kau sudah hamil?" goda Al sambil menundukkan kepala menggigit kecil hidung Emeli.
"Hentikan! apa kau sudah gila? mana mungkin aku hami dalam senalam. Asal kau tahu, aku tidak mungkin memiliki..?" ucapan Emeli terhenti, ia teringat masa lalunya yang di perlakukan buruk oleh mertua dan mantan suaminya.
"Kau tidak perlu berbohong." Jawab Al.
Kemudian Al melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan menurunkan tubuh Emeli ke dalam air hangat yang sudah tersedia di dalam bak mandi yang berukuran besar.
"Jangan lama lama, aku tidak suka menunggu." ancam Al lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
"Dasar gila!" umpat Emeli.