
Emeli masih terpaku memperhatikan kotak hadiah yang di berikan Cibdy, suara mendesis di dalam kotak itu semakin terdengar walau halus.
Emeli berjalan perlahan mendekati meja, lalu mengangkat kotak di atas meja lalu ia dekatkan ke telinga kotaknya itu.
"ssssss"
"Ular?" ucap Emeli dalam hati. "Hm, rupanya dia ingin bermain main denganku. Baiklah, aku tunjukan kepadamu siapa Emeli. Aku, adalah seorang ibu yang akan melindungi putranya hingga napas terakhir, dan aku seorang istri yang akan menjaga keutuhan rumah tangga dan kehormatan suamiku, aku punya ide."
Emeli kembali meletakkan kotak itu di atas meja, tak lama Al keluar dari kamar mandi hanya menggunakan balutan handuk di tubuhnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Al berjalan mendekati Emeli lalu menatap kotak di atas meja. Tangan Al terulur hendak mengambil kotak hadiah di atas meja namun Emeli mencegahnya.
"Sayang, kemarilah!" rayu Emeli meraih pinggang Al lalu mendekapnya erat.
"Tumben kau bersikap manis, ada apa? apa kau menginginkanku? hei sayang, ini masih sore." Goda Al menekan hidung Emeli dengan hidungnya.
"Tidak, bukan itu. Aku punya satu permintaan, apa kau mau mengabulkannya?" tanya Emeli.
"Tentu saja sayang, apapun akan aku berikan asal kau tidak meninggalkanku.." jawab Al tersenyum tipis.
"Tapi tidak sekarang, permintaanku akan ku simpan. Suatu saat nanti, aku akan memintanya darimu."
"Kau selalu membuatku penasaran Emeli, tidak apa apa. Aku akan menepati semua janjiku."
"Baiklah, sekarang kau pakai pakaianmu. Kita makan bersama," perintah Emeli.
Al menganggukkan kepalanya, lalu melepas pelukan dan berjalan menuju lemari pakaian. Sementara Emeli diam diam membawa kotak itu keluar dari kamarnya lalu menemui Bas Sreng dan Chi mol.
"Nona, apa yang bisa aku lakukan?" tanya Bas Sreng.
"Kau antarkan kotak ini ke rumah Cindy." Perintah Emeli, lalu ia berikan kotak itu kepada Bas Sreng.
"Cindy hendak melukai putraku dengan kado yang berisi ular, aku mau kau antarkan kembali ular itu ke pemiliknya yaitu Cindy. Ingat, kau jangan meninggalkan jejak dan rahasiakan dulu hal ini dari Al."
Bas Sreng dan Chi Mol menganggukkan kepalanya tanda mereka mengerti maksud Emeli. Setelah selesai memberikan perintah, Emeli menuju dapur dan meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan makanan. Beberapa detik Emeli menunggu lalu ia kembali ke kamarnya dengan membawakan Al makanan di atas nampan.
"Kau dari mana?" tanya Al yang sudah terlihat rapi dan duduk di tepi tempat tidur.
"Aku membawakan makanan untukmu," jawab Emeli lalu ia letakkan nampan di atas meja.
"Kemarilah!
Al mengerutkan dahinya menatap Emeli, lalu ia beranjak dari tepi tempat tidur menghampiri Emeli lalu meraih pinggangnya dan mendekapnya dengan erat.
"Ada apa? tumben kau manis sekali?" tanya Al bingung dengan sikap Emeli yang tiba tiba berubah sangat manis, biasanya Emeli suka menggoda Al dengan permintaan aneh aneh.
"Tidak ada!" sahut Emeli.
"Apa kau merencanakan sesuatu di belakangku dan kau mau melarikan diri?" tanya Al curiga dan khawatir kalau Emeli akan meninggalkannya dan membawa pergi putra yang sangat ia inginkan.
"Aku tidak akan kemana mana, aku tetap di sini bersamamu selama kau masih menginginkanku, aku akan pergi jika kau sudah tidak membutuhkanku lagi." Jawab Emeli.
"Sstt!"
Al meletakkan satu jarinya di bibir Emeli, lalu mendekapnya erat.
"Kau nyawaku, hidupku, dan putra kita adalah napasku. Bagaimana mungkin aku tidak membutuhkanmu"
Emeli tersenyum puas mendengar ungkapan hati Al. Begitu juga sebaliknya dengan Emeli, akan melakukan apa saja demi Al dan putranya