
Saat permainan di mulai, Emeli memilih duduk di pojok ruangan memperhatikan sekitar ruangan. Tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang baru saja datang.
Suasana ruangan itu hening seketika saat seorang pria muncul lalu duduk di kursi di antara mereka dengan tatapan mata tajam bagaikan elang. Emeli akui, sekilas melihat perawakannya yang tinggi dan rahang yang besar.
"Semua pria di sini menyeramkan," ucap Emeli dalam hati. Pria itu tersenyum pada Clara dan menatapnya dengan lembut tapi menakutkan. Wajahnya mirip dengan pria yang ada di foto kamar Clara. Emeli menduga jika pria itu adalah Jimy.
Jimy sedikit membungkuk dan berbisik di telinga Clara lalu kembali berdiri tegap. Clara tengadahkan wajah menatap Jimy lalu menganggukkan kepala. Entah apa yang mereka bicarakan.
Ia teringat masa kecilnya dulu yang selalu memainkan trik trik permainan bersama teman kecilnya dulu. Emeli memang terbilang bandel karena dia tidak sekolah seperti pada umumnya anak anak. Tantenya sama sekali tidak mau mengeluarkan uang untuk membiayai sekolah Emeli.
Menit berlalu terasa sangat lama bagi Emeli, ia merasakan kakinya pegal. Ia sandarkan tubuhnya di kursi lalu memejamkan mata. Hampir saja ia tertidur jika tidak mendengar suara Clara yang tertawa senang. Emeli menautkan kedua alisnya lalu berdiri menghampiri Clara.
"Ada apa? tanya Emeli.
"Aku menang! seru Clara tersenyum lebar. Menatap ke arah Emeli sesaat.
Clara berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada menatap pria itu yang ikut berdiri. "Bagaimana Jimy? aku hebat bukan?" ucap Clara. Namun pria itu hanya diam dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Yes, you are great." Pria itu tersenyum sinis, ia melirik ke arah Emeli sekilas.
"I want to talk, come with me." Pria yang ternyata bernama Jimy mengajak Clara untuk berbicara di ruangan yang berbeda.
Clara menarik tangan Emeli untuk ikut bersamanya. Jika Emeli di tinggalkan, ia khawatir akan di ganggu oleh pria pria yang ada di ruangan itu.
Mereka memasuki ruang pribadi Jimy. Pria itu mempersilahkan Emeli masuk, sementara Clara sudah lebih dulu masuk sebelum Jimy memintanya. "Kau mau bicara apa, sayang." Clara mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Sementara Emeli berpura pura melihat ke kaca jendela. Dia bisa melihat ruang kasino dari ruangan Ferto. Lama kelamaan Emeli mulai risih mendengar suara rintihan dari bibir Clara yang sedang bermesraan dengan Jimy. Emeli tidak mengerti kenapa Clara masih mau bercinta dengan pria itu yang hanya akan melukai hatinya semakin dalam. Bukankah Clara yang mengatakan jika Jimy tidak mencintainya?
Akhirnya Emeli memalingkan wajahnya mendekati mereka yang tengah berciuman. Sembari menundukkan kepala, Emeli berkata. "Clara, aku menunggumu di luar." Emeli langsung balik badan melangkahkan kakinya menuju pintu tanpa menunggu persetujuan Clara.
"Hei! kau tidak perlu pergi, apa kau ingin bergabung bersamaku?"
Sejenak Emeli berhenti terpaku, lalu kembali berjalan keluar ruangan.
"Siapa gadis itu?" tanya Jimy menatap tajam Clara.
"Sahabat baruku, sudahlah jangan bicarain dia terus," sungut Clara.
Sementara Emeli duduk di kursi luar ruangan. Ia diam menundukkan kepala dan bertanya dalam hatinya. "Apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau seperti ini."
Emeli menarik napas panjang, ia menoleh ke dua pria yang lewat di depannya tengah berbincang dengan bahasa asing lalu mengetuk pintu di mana Clara berada bersama pria itu. Emeli menautkan kedua alisnya memperhatikan dua pria itu masuk ke dalam ruangan setelah pintu di buka dari dalam ruangan. Tak lama kedua pria itu keluar dari ruangan pergi menjauh.
"Clara," gumam Emeli. Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau sahabatnya baik baik saja. Namun detik berikutnya jelas terdengar dari dalam ruangan suara jeritan Clara yang memanggil Emeli. Dengan panik wanita itu berdiri mendekati pintu. Dengan segenap tenaga yang ia miliki. Emeli mendobrak pintu berkali kali dan akhirnya pintu itu terbuka lebar. Nampak Clara tengah menggigil ketakutan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Emeli berlari menghampiri Clara dan memeluknya.
"Plok! Plok! pria itu tepuk tangan sendiri menatap tajam pada Emeli. " Hebat!"
Emeli menoleh ke arah Jimy. lalu ia berjalan mendekatinya dengan menatap tajam pria itu. "Jimy, pria yang di kagumi sahabatku Clara?" Emeli tertawa mencemooh. "Sepertinya sahabatku perlu di cek kejiwaannya, dia telah salah mengagumi pria brengsek sepertimu!"
"Hei apa maksudmu? apa kau tidak punya sopan santun masuk tanpa mengetuk pintu?!" Jimy menatap kesal Emeli.
Emeli meludah di lantai dengan tatapan tajam ke arah Jimy lalu balik badan menatap Clara yang telah selesai menggunakan pakaiannya. "Kita pulang."
Namun Clara menepisnya, "Emeli, kau salah paham."
Emeli menautlan kedua alisnya menatap tajam wajah Clara, jelas jelas dia ketakutan. Lalu apa yang salah paham? Emeli menggelengkan kepala tidak mengerti.
"Clara, maksudmu-?"
"Emeli, sebaiknya kau menunggu di luar. Dan jangan melakukan apapun tanpa seizinku." Clara berjalan mendekati Jimy lalu mereka berdua berjalan bersama meninggalkan Emeli yang berdiri terpaku menatap bingung.
Emeli menggaruk rambutnya yang terasa gatal, "apa maksud Clara? aku salah paham apa?" ia terus berpikir coba mencerna pernyataan Clara, tapi sama sekali tidak menemukan jawabannya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali duduk tanpa melakukan apapun jika tidak ada izin dari Clara.
Menit berlalu, satu jam sudah Emeli masih duduk di kursi. Berkali kali ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23:16. Emeli berdecak kesal, sudah hampir tengah malam, namun Clara masih bersama Jimy
Emeli berkali kali menguap, rasa kantuk sudah menyerang membuat matanya sulit untuk terbuka.
"Emeli, kita pulang."
Emeli menoleh ke samping, nampak wajah Clara terlihat lebam dan matanya sembab. Emeli berdiri langsung menangkup wajah Clara. "Apa yang terjadi? dia menyakitimu lagi?" tanya Emeli.
"Tidak, jangan salah paham dulu." Clara menarik tangan Emeli yang hendak pergi ke ruangan di mana Ferro berada.
"Tapi Clara?"
"Sudah kubilang, kau salah paham." Clara menarik paksa tangan Emeli lalu membawanya menjauh dari ruangan Jimy.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Clara!" Emeli menepis tangan Clara.
Clara balik badan menatap Emeli. "Dia punya kelainan Emeli, ketika kami bercinta. Semakin aku kesakita, dia semakin bergairah," jelas Clara.
"Apa??!" mata Emeli melebar menatap Clara. "Dan kau diam saja di perlakukan seperti itu?"
Clara menganggukkan kepalanya, "sudahlah, nanti kau mengerti ucapanku." Clara menarik tangan Emeli, kemudian mereka meninggalkan Club.
Sepanjang perjalanan pulang, Emeli tidak habis pikir dengan cara mereka berhubungan. Sesekali Emeli melirik ke arah Clara merasa kasihan.