Baby Proposal

Baby Proposal
BP 11



Sesampainya dirumah, Emeli mendapat sambutan hangat dari Ibu mertuanya dan Nathan. "Bagus kelayapan terus!" ucap Ibu Nathan. "Kau lihat? wanita yang kau pertahankan sudah tidak menghargaimu sebagai suami lagi!"


Nathan yang sudah terpengaruhi kata kata Ibunya, menatap tajam Emeli. "Dari mana kau?"


"Aku capek!" sahut Emeli malas menanggapi pertengkarang yang tidak ada hentinya.


"Emeli!" pekik Nathan menarik tangannya kasar. "Aku masih suamimu!"


Emeli tersenyum sinis, "tidak lagi, sejak kau menikahi wanita itu."


"Plak!


"Jaga ucapanmu! benar kata Ibu, kau memang tidak berguna!"


"Deg!"


Hati Emeli serasa di remas, namun ia betusaha untuk tetap stabil. Dengan menelan salivanya susah Emeli berusaha untuk tersenyum. "Jika aku sudah tidak berguna, ceraikan aku."


"Tidak akan pernah! itu sebagai hukuman buatmu!" Nathan langsung balik badan dan melangkahkan kakinya menemui Sandra di kamar. Sementara Ibu Nathan tertawa mencemooh menatap Emeli.


"Dasar mandul!" Ibu Nathan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Emeli yang masih terpaku di tempatnya.


"Ya Rabb, di mana hati mereka." Emeli melangkahkan kakinya menasuki kamar duduk di sofa, ia letakkan tasnya di atas meja. "Arga.." ucapnya pelan. Lalu merebahkan tubuhnya di sofa menatap langit langit kamar. Pria muda yang memiliki sikap tegas tanpa basa basi. Tapi siapa pria itu sebenarnya? Emeli menarik napas panjang memejamkan matanya. Hari yang melelahkan untuk Emeli, ia harus mondar mandir rumah lalu ke Club. Mengurusi sahabatnya.


"Nathan..kau telah berubah." Pikiran Emeli yang terus berkecamuk memikirkan sahabat dan suaminya, membuat Emeli pusing. Ia membalikkan tubuhnya telungkup di sofa memeluk bantal untuk ganjalan kepalanya. Ia menarik napas panjang pelan untuk menenangkan pikirannya. Tak lama kemudian tanpa terasa ia akhirnya tertidur pulas.


Suara pintu di ketuk dari luar, perlahan Emeli membuka matanya. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 7:00 pagi.


Mata Emeli melebar, "ya ampun, hampir saja kesiangan," ia langsung bangun dan turun dari atas sofa. Ia menatap ke arah pintu yang masih di ketuk dari luar lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Nathan" Emeli berpikir jika yang mengetuk pintunya adalah Nathan, ternyata Marni asisten rumah tangga. "Marni?"


"Maaf Non, saya mengganggu." Marni menunduk sesaat.


"Tidak , hampir saja aku kesiangan." Emeli menatap ke arah pintu kamar Nathan. "Nathan sudah bangun?" tanya Emeli.


"Belum Non, Non Sandra juga belum bangun," jawab Marni.


"Belum bangun?" Emeli menundukkan kepalanya. Sudah lebih satu bulan Emeli tidur sendirian. Nathan tidak pernah lagi datang ke kamarnya semenjak Sandra hamil.


"Ya sudah, Aku mandi dulu." Emeli mengucek matanya.


"Baik Non, saya siapkan sarapan."


Emeli menganggukkan kepala, lalu ia menutup pintu kamar untuk segera bersiap siap. Hari ini, ia akan mendatangi Cafe milik Arga.


Tiga puluh menit berlalu, Emeli telah selesai dengan dirinya. Ia gantungkan tas di pundaknya, sekilas menatap bayangan wajahnya di cermin dan tersenyum. "Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin."


Emeli berjalan keluar kamar menemui Marni di dapur. "Sarapan Non." Marni menyodorkan roti bakar di atas piring lalu ia letakkan di atas meja.


"Tida, nanti saja." Emeli mengambil segelas air mineral di atas meja lalu meminumnya. "Takut terlambat." Ia letakkan gelas di atas meja.


"Baik Non," sahut Marni


"Katakan pada Nathan, kalau aku pergi bekeraj." Marni menganggukkan kepala menatap punggung Emeli hingga hilang di balik pintu.


***


Emeli berdiri di halaman Cafe Elements, mengedarkan pandangan ke seluruh halaman Cafe.


"Kau mau bekerja, atau bengong di sini?"


Emeli balik badan menatap Arga yang sudah berdiri di belakangnya. Sesaat Emeli terpaku menatap Arga, "maaf."


"Ayo masuk." Arga berjalan dengan santai sejajar dengan Emeli memasuki ruangannya.


"Kau siap untuk bekerja?" tanya Arga.


Emeli menganggukkan kepala, "siap pak," sahut Emeli cepat. Menatap pria di hadapannya yang akan menjadi Bosnya, berkali kali membuat Emeli menjadi kikuk hanya dengan tatapan matanya. Raut wajah yang tak terbaca, karakternya yang lembut dan tegas membuat pipi Emeli memerah tatkala beradu pandang dengan pria itu. Meskipun sampai saat ini posisi Nathan belum tergantikan di hati Emeli.


"Silahkan hari ini kau mulai bekerja, Sandi akan membantumu." Arga berdiri lalu berjalan keluar ruangan memanggil salah satu pekerjanya.


Tak lama, Arga kembali dengan seorang pria bernama Sandi. Arga kembali duduk lalu meminta tanda pengenal Emeli. "KTP mu?"


"Ada Pak." Emeli mengeluarkan KTP dari dalam tasnya lalu ia berikan pada Arga.


Arga mengambil tanda pengenal Emeli, dan memperhatikan KTP yang ada di tangannya. "Emeli Felicia." Matanya melirik ke arah Emeli.


"Benar Pak." Emeli menundukkan kepala sesaat.


"Baik, akan saya urus. Kau boleh bekerja hari ini. Dan kau Sandi." Arga menatap Sandi yang berdiri di samping Emeli.


"Saya Pak."


"Siapkan meja khusus, hari ini ada sahabat saya." Arga memberikan perintah.


"Baik Pak."


Kemudian mereka berdua undur diri dari ruangan Arga. Sementara Arga mulai membuat surat kontrak pekerjaan untuk Emeli. Berkali kali ia menyebut nama Emeli, kadang ia tersenyum sendiri. "Nama yang cantik, secantik orangnya," gumam Arga.


Dengan semangat dan harapan yang besar dalam hati Emeli, ia bekerja dengan sangat baik. Mengantarkan pesanan pengunjung Cafe. Wajah Emeli yang terbilang cantik membuat kaum Adam menyukai dan bertanya siapa namanya. Tidak ada satupun yang tahu, di balik kecantikan Emeli tersimpan masa lalu yang buruk.


"Emeli."


Emeli menoleh ke arah suara, Arga berdiri di belakangnya. "Iya Pak?" Emeli membungkuk sesaat.


"Bawakan dua cangkir Espresso shot ke ruangan."


"Baik Pak." Arga kembali ke ruangan di mana sahabatnya berada.


Emeli menemui Sandi untuk minta di buatkan dua cangkir Espresso pesanan Arga. Tak lama Sandi buatkan, Kemudian ia letakkan dua cangkir Espresso ke atas nampan. "Makasih ya San." Emeli tersenyum pada Sandi lalu ia berjalan menuju ruangan.


Langkah Emeli terhenti di depan pintu yang tertutup. Ia mengetuk pintu dua kali. Terdengar suara Arga dari dalam ruangan.


"Masuk!"


Perlahan tangan Emeli membuka pintu dengan nampan di tangan kanan. Ia melihat Arga tengah menatapnya sementara sahabat Arga duduk membelakangi Emeli.


"Silahkan Pak." Emeli meletakkan dua cangkir Espresso di atas meja.


"Emeli Felicia."


Emeli melirik ke arah sahabat Arga. Ia terkejut dan berdiri tegap saat mengetahui sahabat Arga adalah Jimy, pria berkebangsaan Itali.


"Kau!" mata Emeli melebar menatap Jimy yang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Kalian saling kenal?" tanya Arga ikut terkejut, ternyata sahabatnya sudah mengenal Emeli lebih dulu.


Emeli menoleh ke arah Arga lalu menganggukkan kepala, lalu ia alihkan pandangan pada Jimu dengan tatapan benci. Emeli teringat Clara, ada keinginannya untuk bertanya di mana Clara. Tapi ia urungkan, pekerjaan tidak boleh di campur adukkan dengan masalah pribadi.


"Saya permisi dulu Pak." Sesaat ia membungkuk, menatap Arga lalu ia balik badan melangkahkan kakinya.


"Dia bekerja di sini?" tanya Jimy menatap Arga.


Arga mengangkat kedua bahunya, "ya, baru hari ini dia bekerja di sini," ucap Arga menatap Jimy yang menyalakan sebatang rokok. Tidak aneh jika Jimy mengenal banyak wanita cantik dari kalangan manapun. Arga dan Jimy bersahabat sudah sejak kecil, ia tahu betul bagaimana sahabatnya itu.


"Kau kenapa?" tanya Jimy mengepulkan asap rokok ke udara.


"Tidak ada." Tersungging senyum di sudut bibir Arga.