
Emeli yang masih berbicara dengan Clara di ruang tamu, lalu mereka memutuskan untuk mencari Jimy. Clara langsung berdiri di ikuti Emeli dari belakang. Kemudian mereka meninggalkan rumah mencari Jimy kembali.
Seharian mereka mondar mandir mencari keberadaan Jimy. Namun pria itu menghilang dan tidak di temukan di manapun. Akhirnya Emeli dan Clara menyerah untuk tidak melanjutkan mencari Jimy.
Clara berpikir, kalau Jimy sudah kembali ke Negaranya, meninggalkannya tanpa memberitahu dulu padanya. Emeli berusaha meyakinkan sahabatnya, dia dan Clara mengalami hal yang sama. Sama sama di tinggalkan pria yang mereka cintai.
****
Sebuah mobil menepi di halaman restoran L'Avenue Restauran. Seorang pria keluar dari pintu mobil menatap lurus ke dalam restoran berbagai menu masakan khas Indonesia.
Perlahan Pria itu melangkahkan kakinya masuk kedalam restoran, matanya menatap sekitar ruangan lalu memilih salah satu meja tepat di dekat kaca jendela restoran. Seorang waitress menghampirinya. Dan bertanya menu apa yang akan dia pesan. Pria itu menganggukkan kepala sesaat lalu ia memesan makanan dan minuman khas Manado. Waitress itu pun berlalu dari hadapannya.
Pria itu mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitar. Tatapan matanya berhenti pada seorang gadis yang duduk di kursi tak jauh dari tempat duduknya, bersama seorang pria dan seorang wanita lainnya. Ia menatap tajam gadis itu yang tengah menikmati makan malamnya.
"Apa aku tidak salah lihat?" ucapnya dalam hati. Matanya fokus memperhatikan gadis itu tanpa berkedip.
"Aku tidak mungkin salah," gumamnya tersenyum tipis. "Akhirnya, aku tidak perlu repot repot mencarinya. Tapi sebelum itu aku harus memastikan kebenaran identitas gadis itu."
Pria itu berdiri dari duduknya saat seorang waitress datang membawa pesanannya. Namun pria itu langsung membayarnya dan meminta waitress untuk membawa kembali makanannya. Ia menoleh kembali menatap gadis itu untuk memastikan. Pria itu tersenyum samar lalu melangkahkan kakinya meninggalkan restoran.
Sementara itu, Emeli dan Arga dan Clara yang berada di restoran yang sama dengan pria tadi. Tengah menikmati makan malam dengan tenang. "Aku sudah kenyang." Emeli mengusap perutnya yang rata.
"Makananmu saja tidak habis, kenyang dari mana?" ucap Arga.
"Dia lagi diet," sela Clara tertawa kecil.
"Apa aku harus habiskan semuanya? kalau aku gendut bagaimana? nanti kau tidak suka lagi," goda Emeli.
"Kau gendut atau tidak, aku tetap suka," timpal Arga. Emeli tertawa kecil menatap horor Arga.
"Hei, enak saja kalian mesra mesraan di depanku," sungut Clara.
Arga tersenyum tipis menatap Clara. Lalu ia menundukkan kepalanya sesaat. "Aku tidak sedang bercanda Emeli," ucap Arga dalam hati. Namun Emeli yang tidak menaruh hati pada Arga, sama sekali tidak peka jika yang di katakan pria itu bukan sekedar candaan.
"Hei, malah bengong!" Clara menepuk tangan Arga yang ada di atas meja.
"Iya sabar, Nona Clara." Arga Tertawa kecil lalu memanggil waitress dan membayar semua makanan dan minuman yang telah ia pesan.
"Kita pulang?" tanya Arga menatap Emeli.
Emeli menganggukkan kepala, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya bersama Arga menuju halaman Restoran, di ikuti Clara dari belakang.
"Terima kasih ya, buat makan malamnya." Emeli tersenyum mengembang menatap Arga.
"Tentu," jawab Emeli tertawa kecil.
"Hah, mulai deh!" sungut Clara.
****
"Emeli..."
"Ya?" Emeli menoleh ke arah Clara sesaat, lalu kembali menatap wajahnya di cermin.
"Apa kau menyukai Arga?" tanya Clara.
Emeli tersenyum, lalu berdiri. Berjalan mendekati Clara lalu naik ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah Clara.
"Tidak, aku menganggapnya sahabat. Aku belum bisa membuka hatiku untuk yang lain." Emeli mengungkapkan isi hatinya pada Clara yang masih menyimpan rasa untuk Nathan. Pria yang ia cintai sekaligus telah membuangnya untuk selama lamanya. Entah bagaiamana keadaan Nathan setelah pisah dengannya. Emeli berharap, Nathan cepat sembuh seperti sedia kala.
"Oh, syukurlah. Aku masih punya kesempatan untuk mendekati Rangga." Clara tertawa lebar menatap Emeli. Lalu menutupi wajahnya dengan bantal.
"Kalian cocok kok, aku dukung kau, Clara." Emeli melirik ke arah Clara.
Clara menoleh ke arah Emeli dari balik bantalnya. "Sungguh?"
Emeli menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Terima kasih." Clara kembali menutup wajahnya dengan bantal. Detik berikutnya suasana kamar tiba tiba hening, semua asik dengan lamunannya masing masing.
"Tapi, aku sangat mencintai Jimy. Dan aku sudah berjanji akan mencarinya kemanapun dia pergi," ucap Clara pelan.
"Aku akan membantumu."
"Sungguh?" Clara menoleh lagi ke arah Emeli.
"Ya."
Clara menurunkan bantalnya, lalu mencubit hidung Emeli. "Kau memang sahabat terbaikku." Clara tertawa lebar, saat melihat Emeli cemberut. "Tapi, aku juga tidak menolak jika Rangga melamarku."
Emeli menatap horor Clara, lalu mengambil bantal dan bangun memukul tubuh Clara dengan bantal.
"Ih serakah kau, ya!"
Emeli tertawa terbahak bahak dan membiarkan sahabatnya memukuli tubuhnya dengan bantal. Hingga wanita itu kelelahan, akhirnya ia berbaring kembali menatap langit langit kamar. Tak terasa, waktu terus berlalu. Dan merekapun tertidur pulas hingga pagi menjelang.