Baby Proposal

Baby Proposal
BP 50



Setelah satu minggu Emeli mencoba bertahan bekerja di perusahaan yang Ken pimpin. Akhirnya Emeli tidak tahan lagi melihat kemesraan mereka.


"Basreng! Chimol!!" seru Emeli.


"Kami Nona!' sahut keduanya sambil berlari dari lantai atas menuruni anak tangga lalu berdiri di hadapan Emeli.


"Aku mau, kalian culik Al sekarang juga!" perintah Emeli kesal.


"Laksanakan Nona!" sahut mereka.


"Tapi ingat, jangan sampai meninggalkan jejak." Pesan Emeli kepada dua anak buahnya.


"Baik Nona!" sahut Chimol. "Kami berangkat Nona."


Emeli menganggukkan kepalanya, lalu duduk di sofa. "Dokter! paman Sendhok!" panggil Emeli.


"Ada apa?" tanya Dr Alan dari arah pintu lalu berjalan menghampiri Emeli, duduk di kursi lain.


"Saya Nona!" sahut SenDhok berjalan tergopoh gopoh menghampiri Emeli.


"Putraku sudah tidur?" tanya Emeli.


"Sudah Nona!" sahut Shendok.


"Temani putraku di kamar, jangan kau tinggalkan sebelum aku datang!" perintah Emeli.


"Baik Nona!" Paman Shendok kembali ke lantau atas menuju kamar Ansell.


"Dr, siapkan peralatan. Malam ini Al akan datang." Ucap Emeli.


"Baiklah, akan kupersiapkan." Dr Alan bangkit dari duduknya, lalu beranjak pergi menuju ruang medis. Sementara Emeli menunggu duduk di sofa.


"Kau sudah terlalu lama pergi, Al. Sudah waktunya kau kembali." Gumam Emeli tersenyum.


***


Dua jam Emeli menunggu, akhirnya Basreng dan Chimol kembali, memanggul tubuh Al yang dalam keadaan pingsan.


Emeli bangkit dari duduknya menatap tubuh Al di pundak Basreng. "Apa yang kalian lakukan padanya?"


"Tuan Al melawan kami Nona. Terpaksa aku buat pingsan." Jawab Basreng.


Emeli tertawa kecil. "Tidak masalah, ayo cepat bawa keruangan medis."


Kemudian mereka melangkah bersama menuju ruang medis di bawah tanah. Basreng meletakkan tubuh Al di kursi besi, lalu mengikat kedua tangan dan kakinya ke kursi.


Basreng, Chimol dan Emeli berdiri di sudut ruangan memperhatikan Dr Alan bekerja.


"Basreng, kau bantu aku!" perintah Dr Alan.


"Baik Dok!" sahut Basreng.


Dr Alan mulai memasang alat alat medis di kepala dan di dada Al, di bantu Basreng. Lalu menyalakan lampu tembak ke arah wajah Al supaya pria itu tersadar dan membuka mata.


Perlahan Al membuka mata, berkali kali mengerjapkan pandangannya untuk menyesuaikan pencahayaan.


"Kalian siapa? lepaskan aku!" seru Al berusaha melepaskan ikatan tangannya. Namun ikatan tangannya terlalu kuat, usaha Al untuk lepas sia sia saja.


"Basreng, Chimol, bantu aku membuka matanya Tuan Al!" perintah Dr Alan.


"Baik Dok!" sahut mereka berdua memegang kepala Al lalu membuka mata Al supaya terbuka lebar.


"Hentikan!!" teriak Al. Namun Dr Alan membungkam mulut Al menggunakan kain.


Emeli menggigit kuku jarinya, memperhatikan Al di paksa melotot, lalu Dr Alan mendekatkan sebuah alat kecil ke arah kedua bola mata Al. Pemindaianpun di lakukan dan membutuhkan beberapa menit.


"Tet tet tet!!"


Tiba tiba layar monitor berwarna merah bertuliskan warning. Dr Alan balik badan dan mengoprasikan komputernya yang mengalami gangguan karena virus.


"Semoga berhasil." Gumam Emeli pelan.


"Selesai!" Dr Alan menarik alat itu kembali. Basreng dan Chimol melepaskan kepala Al dan terkulai lemas di kursi.


"Bagaimana Dok?" tanya Emeli khawatir.


"Kita lihat reaksinya Nona. Semoga tidak ada yang salah." Imbuh Dr Alan.


"Tik tik tik!"


Mereka menahan napas memperhatikan Al yang perlahan menggerakkan kepalanya, matanya terbuka. Ia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Satu persatu di tatapnya orang orang yang ada di dalam ruangan itu.


Matanya tertuju ke arah Emeli yang berdiri mematung. Al beranjak dari kursi, berjalan perlahan mendekati Emeli. Menatapnya tajam, kedua tangan bertolak pinggang. Memperhatikan Emeli dari ujung rambut hingga ujung kepala.


"Kau siapa?" tanya Al.


Mata Emeli melebar, menatap horor ke arah Al. "Kau tidak mengenalku?" tanya Emeli


Al menggelengkan kepalanya, melipat kedua tangannya di dada.


"Dok, bagaimana ini?" tanya Emeli menghampiri Dr Alan.


"Ini aneh, seharusnya tidak ada kesalahan." Kata Dr Alan.


"Kalian itu aneh, sudahlah aku capek!" Al berlalu begitu saja keluar dari ruangan.


Emeli hanya diam menatap bingung punggung Al hingga hilang dari pandangan. Mereka semua mengeluh kecewa, usaha mereka sia sia.


Namun detik berikutnya, mereka mendengar ciri khas Al memanggil Basreng dan Chimol.


"Basreng, Chimol, siapkan makan malam!" serunya lantang.


"Huaaa!!"


Emeli berlari keluar dari ruangan, tersenyum lebar menatap Al yang merentangkan kedua tangannya.


"Huaaaa!!" teriak Emeli berlari lalu loncat ke pangkuan Al.


"Hahaha!" Al tertawa terbahak bahak menggendong tubuh Emeli.


"Kau jahat!" rutuk Emeli.


"Aku kangen sayang, tapi aku juga lapar!" sahut Al.


"Makan dulu..atau..?" Emeli tersenyum.


Al memainkan kedua alisnya, lalu membawa Emeli menuju kamar pribadinya. Dr Alan dan dua anak buahnya bernapas lega, ternyata mereka berhasil mengembalikan Al seperti semula.


***


"Sayang, aku masih belum mengerti. Mengapa tiba tiba aku berada di sini?" tanya Al, menatap putranya yang tertidur lelap di pangkuannya.


Emeli menarik napas dalam dalam. Kemudian ia menceritakan apa yang terjadi selama Al pergi. Hingga ia memutuskan untuk mencarinya ke semua tempat termasuk Indonesia.


"Aku baru ingat, apa yang terjadi padaku. Saat aku hendak kembali ke rumah, sekelompok orang tak di kenal menculikku. Setelah itu, aku tidak ingat apa apa lagi." Ungkap Al.


"Lupakan, semuanya sudah berakhir. Mereka sudah aku musnahkan. Sekarang waktunya kita hidup normal membesarkan putra kita." Timpal Emeli.


"Kau benar sayang, kita akan menetap di sini. Membesarkan putra kita, dan melupakan semuanya, tinggalkan dunia hitam." Usul Al.


"Aku setuju sayang!" sahut Emeli duduk di samping Al lalu mencium puncak kepala Ansell.


"Program anak kedua?" tanya Al.


"Whatt??" Emeli menatap horor Al yang tertawa terbahak bahak.


Emeli memeluk mereka berdua, tidak ada lagi kegundahan dan ketakutan. Semua telah berakhir dengan indah. Memiliki keluarga kecil yang harmonis, saling menguatkan dan kepercayaan yang di miliki Emeli telah membawa keluarganya mendapati kebahagiaan.


Al memutuskan untuk menyelesaikan kesalahpahaman antara dirinya dan Yuna, memutuskan pertunangannya dan kembali ke pelukan Emeli, dan kembali mendapatkan cintanya juga putra satu satunya.