Baby Proposal

Baby Proposal
BP 41



Sehari setelah penyerangan tempo hari. Tersiar di media online bahwa Cindy mengalami kecelakaan parah. Meski tak sampai mati, namun cukup membuat Cindy berpikir dua kali untuk mengganggu hidup Emeli lagi.


"Sukurin, siapa suruh membangunkan macan tidur." Rutuk Emeli tertawa kecil sambil membersihkan kuku di jarinya yang lentik, sesekali menoleh ke arah putranya yang tengah bermain jempol tangannya sendiri.


Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Emeli.


"Masuk!"


Pintu terbuka lebar, terlihat Bassreng dan Chimol berdiri di ambang pintu. Membungkukkan badan sesaat lalu melangkah bersama dan berdiri di hadapan Emeli.


"Duduklah!" perintah Emeli.


Dengan ragu ragu, mereka duduk di kursi berhadapan dengan Emeli. Selama ini, mereka tidak pernah di perlakukan layaknya keluarga. Sejak adanya Emeli di rumah itu, kini tidak ada lagi sekat di antara mereka.


"Ada berita apa, Paman?" tanya Emeli meletakkan gunting kuku di atas meja.


"Nona, ada hal penting yang harus kami sampaikan menyangkut pertemuan penting yang menyangkut kelangsungan perusahaan milik Tuan Al." Jelas Chimol.


"Tentang apa?" tanya Emeli tidak mengerti.


Bassreng dan Chimol menjelaskan kepada Emeli tentang pertemuan besok. Emeli berkali kali menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang di jelaskan Chimol dan Bassreng.


"Bagaimana Nona? apakah Tuan Al sudah bisa di hubungi?" tanya Chimol.


"Tidak, aku tidak tahu mengapa nomer ponselnya tidak bisa di hubungi. Tapi aku yakin, suamiku baik baik saja di sana." Emeli tersenyum menatap kedua orang kepercayaannya.


"Bagaimana dengab besok, Nona?" tanya Bassreng.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengambil alih semua pekerjaan Al." Jawab Emeli tegas.


Bassreng dan Chimol menganggukkan kepalanya, mereka tidak meragukan kemampuan Emeli.


***


Keesokan harinya Emeli sudah terlihat rapi. Menggunakan celana jeans dan kaos yang di lapisi jaket berwarna hitam. Rambutnya di ikat sembarangan, sederhana namun ciri khas perempuan Indonesia yang memiliki warna kulit berbeda selalu terlihat eksotis di mata pria dari luar Indonesia.


Setelah selesai, ia memastikan kamar putranya cukup aman untuk di tinggalkan. Lalu ia mempercayakan kemanan putranya pada Dr Alan dan Bassreng. Sementara Emeli pergi kepertemuan itu dengan pengawalan pribadi, Chimol dan Owreg Thempe.


Kemudian mereka berangkat menggunakan mobil yang berbeda. Sepanjang perjalanan, Emeli berpikir keras untuk menyelesaikan masalah di perusahaan Al.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di halaman perusahaan. Chimol membukakan pintu mobil untuk Emeli, lalu mereka berjalan bersama di ikuti Owreg Thempe.


Sesampainya di ruangan yang cukup besar, nampak beberapa pria sudah duduk di kursinha masing masing. Di antara mereka terdapat seorang wanita berparas cantik, duduk bersebelahan dengan Jimi dan seorang pria lain yang wajahnya hampir mirip dengan Al. Perbedaannya Al memiliki mata gelap, sedangkan pria itu matanya coklat.


Sejenak Emeli menatap pria bermata coklat tersebut, lalu duduk di kursi paling depan berhadapan dengan mereka semua.


Semua pria menatap kagum melihat sosok Emeli yang berbeda dengan yang lain, apalagi mereka baru pertama kali melihat istri Al pemilik perusahaan Golden Park. Selama ini, Al memang menyembunyikan Emeli dari pandangan pria manapun. Bahkan Emeli masih belum mengetahui asal usul Al, tetapi Emeli sudah sangat menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada suaminya.


Pertemuan penting itupun di mulai. Di awali dengan pria bermata coklat yang memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya.


"Namaku, Kei. Silahkan di mulai Nona Emeli."


Emeli menyatakan diri, mulai saat ini. Ia yang akan mengambil alih dan setiap keputusan akan di ambil berdasarkan persetujuan Emeli selama suaminya belum kembali. Tidak hanya itu, Emeli menyusun berbagai rencana untuk kemajuan perusahaan milik Al semakin berkembang tidak hanya di kota itu.


Semua orang yang hadir di dalam ruangan itu menatap kagum dengan kecerdasan Emeli memimpin rapat. Bagaimana ia menyampaikan visi dan misinya membuat para pria itu semakin terpesona, termasuk Kei.


"Sekian dan terima kasih!" ucap Emeli di akhir dengan senyuman.


Semua orang bertepuk tangan dan merasa puas dengan apa yang di sampaikan Emeli. Lalu Emeli menandatangani beberapa dokumen penting yang di sodorkan wanita yang duduk di sebelah Kei yang tak lain sekretaris Al.


"Siapa namamu?" tanya Emeli tengadahkan wajahnya menatap wajah wanita itu.


"Fany!" sahut wanita yang bernama Fany tersenyum sekilas.


Setelah selesai menandatangani, semua orang yang ada di pertemuan itu menjabat tangan Emeli. Lalu satu persatu meninggalkan ruangan termasuk Fany. Tinggallah Jimi dan Kei yang masih ada di dalam ruangan itu.


"Emeli, apa kau lupa padaku?" tanya Jimi.


Emeli tersenyum sinis menatap jengah Jimi. "Tentu saja aku tidak lupa bodoh!" sahut Emeli menatap tajam. "Kau yang telah menipuku, Clara juga Rangga."


"Oya, di mana Clara?" tanya Jimi berpura pura.


"Kenapa kau bertanya padaku, bodoh? aku yakin kau tahu di mana Clara." Jawab Emeli ketus.


"Nona Emeli. Aku tidak menduga kau ternyata wanita cerdas." Kata Jimi berjalan mendekati Emeli.


Namun Chimol dan Owregh yang berada di belakang Emeli langsung maju dan menahan tubuh Jimi supaya menjauh dari Emeli.


"Oke, santai. Aku tidak akan menyakitinya." Jimi kembali mundur.


"Jimi, kita pergi!" perintah Kei.


Jimi menoleh, lalu menganggukkan kepalanya.


"Sampai ketemu lagi Nona Emeli." Kata Kei tersenyum manis.


Emeli hanya menanggapi dingin lalu memerintahkan kedua bodyguardnya untuk pergi dari ruangan tersebut.


"Pan Chimol, apa kau kenal siapa Kei?" tanya Emeli. "Mengapa wajahnya hampir mirip dengan suamiku?"


"Adik tiri Tuan Al!" sahut Chimol.


"What?" Emeli terkejut mendengar informasi dari Chimol.


"Benar Nona!"


Emeli terdiam sejenak. "Paman, berikan semua informasi tentang Al." Pinta Emeli.


Selama ini Emeli tidak tertarik untuk mengetahui asal usul Al. Tapi setelah bertemu Kei, Emeli sangat penasaran dengan wajah Kei yang memiliki kemiripan dengan Al. Ternyata Al memiliki saudara tiri, beda Ibu.