
Satu minggu berlalu mereka mengurus surat surat. Hari berikutnya mereka berangkat ke Chicago. Setelah melewati 22 jam, 10 menit. Akhirnya mereka telah sampai di Bandara Chicago Internasional O'Hare Airport.
Kemudian mereka mencari hotel untuk menginap sebelum mencari alamat temapt tinggal Jimy. Arga memutuskan menginap di hotel O'Hare Inn Suites hotel berbintang 2. Sementara Clara dan Emeli hanya mengikuti apa kata Arga. Karena mereka berdua, ini pertama kalinya mereka berdua menginjakkan kaki ke Chicago. Tapi tidak bagi Arga, dia sudah biasa jalan jalan ke mana saja yang dia mau.
"Hei, mana mungkin kita tidur bertiga bersama dia!" tunjuk Clara pada Arga.
Arga hanya cengengesan sambil garuk kepalanya, duduk di sofa.
"Clara sudahlah, aku bisa tidur di sini. Kalian berdua di atas tempat tidur."
"Clara, atau kau mau tidur bareng Arga?" goda Emeli.
"Apa? ih males," sungut Clara bibirnya maju ke depan.
"Hahahaha!
Emeli dan Arga tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Clara yang cemberut. Meski mereka sudah putus, tapi Clara masih menyimpan rasa untuk Arga.
"Hei kalian, aku mau tidur. Jangan berisik oke?!"
"Siap bos! sahut mereka berdua tertawa pelan.
" Aku juga capek banget." Clara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di ikuti Emeli memeluk guling menghadap Clara.
"Clara, apa kau yakin dengan semua ini?" tanya Emeli masih ada keraguan di hatinya, jika yang mengitim surat itu adalah Jimy.
"Aku yakin sekali, tapi-?"
"Tapi apa?" potong Emeli memegang tangan Clara.
"Yah apa salahnya di telusuri kebenarannya bukan?' tanya Clara ia sendiri menjadi tidak yakin.
" Hah, kau ini!" sahut Emeli menepuk kening Clara.
"Kalau memang alamat itu palsu, kita bisa langsung balik ke Indonesia." Clara menoleh ke arah Arga yang sudah tertidur.
"Sebaiknya kita harus cepat cari alamat itu, supaya kita cepat pulang ke Indonesia. Aku tidak betah tinggal lama lama di Negeri orang lain." Emeli merubah posisi tidurnya telentang lalu menejamkan mata. Bayang wajah mantan suaminya terbayang lagi, ia membuka mata kembali.
"Kau kenapa?" tanya Clara memperhatikan Emeli terlihat gelisah.
"Aku teringat Nathan."
Clara mendesah pelan, lalu ikut bangun dan duduk di sebelah Emeli.
"Buat apa kau pikirkan dia? belum tentu dia memikirkan kau, Emeli."
Emeli menoleh ke arah Clara. Ia tahu betul bagaimana Nathan. Tidak pernah sedikitpun menyakiti hati Emeli, tapi entah kenapa ia berubah.
"Aku khawatir, dia menyakitiku karena terpaksa."
"Ayolah Emeli, jangan polos polos amat. Luoakan Nathan dan mulai hidup yang baru, oke?!"
Clara kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Emeli, matanya menatap Arga yang tertidur di sofa.
"Arga.." gumamnya pelan. Namun jelas terdengar oleh Emeli.
"Halah! sahut Emeli berbaring menimpa tubuh Clara. " Kalau masih cinta, katakan cinta. Sebelum Arga di miliki wanita lain."
"Ih apaan. Siapa juga yang masih cinta." Clara tersenyum menatap wajah Arga.
Emeli memajukan bibirnya, lalu berbaring membelakangi Clara. Suasana di kamar itu menjadi hening, Clara dan Emeli hanyut dalam pikirannya masing masing. Sampai akhirnya mereka tertidur pulas hingga sore menjelang.
"Hei kalian semua lapar apa tidak? kalau lapar ayo bangun!" seru Arga.
Emeli dan Clara menggeliat kemudian saling berpelukan masih dalam keadaan mata terpejam.
"Kalau kalian masih mau tidur, ya sudah. Aku cari makan sendiri, sambil jalan jalan."
"Tunggu!" pekik Emeli. "Aku lapar!"
"Aku juga." Clara bangun mengucek matanya.
"Ya sudah, kalian bangun dan bersihkan badan."
"Oke." sahut mereka serempak.