
Jimy duduk di ruang kerjanya menatap ke layar monitor di depannya. Ia mencari data pribadi tentang Emeli. Hasratnya begitu besar untuk menjadikan Emeli target berikutnya setelah Clara. Tapi ada yang beda dengan Jimy kali ini. Pria itu merasa di tantang oleh keberanian Emeli. Ia ingin tahu sejauh mana wanita itu bisa bertahan. Apakah sama saja seperti wanita lainnya?
Jimy tersenyum tipis menatap beberapa foto Emeli yang terlihat sederhana dan natural. Pria itu terus menatap layar monitornya dan melihat semua foto yang baru saja orang kepercayaannya kirimkan.
"Emeli Felicia," gumam Jimy pelan sambil menatap foto wanita tersebut. "Gadis liar yang penuh dengan kejutan."
Suara ketukan pintu dari luar mengejutkannya. Ia mengalihkan pandangan pada pintu ruangan. "Masuk."
Seorang pria tinggi besar masuk dan membungkuk hormat pada Jimy. Pria itu menyerahkan beberapa dokumen yang telah Jimy tunggu.
Jimy menerima dokumen tersebut dan membacanya. Senyum Jimy mengembang saat apa yang dia inginkan telah didapatkan.
"Orleans Corp, yang bergabung di sebuah bursa efek terbesar di Asia, cukup menarik," ucap Jimy pelan.
"Kedua orang tuanya bercerai, Nona Emeli di bawa ke Indonesia oleh Nyonya Alice. Dan di titipkan pada tantenya sebelum meninggal. Sementara Tuan Sam Yunfak menikah lagi."
Jimy menatap tajam pria itu. "Meninggal?"
Pria itu menganggukkan kepala. "Nona Emeli sama sekali tidak mengetahui siapa Ayahnya."
"Ada lagi?" tanya Jimy
"Tidak ada Tuan, untuk saat ini hanya itu saja informasi yang kami dapatkan."
Jimy menatap tajam pria itu lalu mengangguk. "Kau boleh pergi."
Pria itu membungkuk sesaat, lalu berjalan mundur meninggalkan ruangan. Pria itu menatap semua informasi yang telah terkumpul. "Emeli.." ucap Jimy pelan.
"Wanita itu memiliki masa lalu yang buruk sejak kecil, pernikahannya pun berakhir hanya karena dia wanita mandul." Jimy tersenyum tipis.
****
Sore itu Emeli berniat untuk menjenguk di rumahnya. Sesampainya di rumah Clara ia mendapati wanita itu tengah melamun. "Clara, apa kau baik baik saja?" Emeli duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Clara yang duduk melamun.
"Iya." Clara melirik sesaat ke arah Emeli.
"Clara, katakan padaku. Apa yang terjadi?" Tangan Emeli menyentuh pundak Clara yang menoleh padanya.
"Emeli, Jimy benar benar tidak mencintaiku Clara langsung turun dari atas tempat tidur menatap Emeli.
"Lalu?"
"Aku tidak terima itu." Emeli menarik napas panjang, menatap dalam wajah Clara.
Clara berjalan lebih dekat, tubuhnya yang mungil membuat Clara harus tengadahkan wajah menatap Emeli. "Maaf.."
"Sepertinya kau di pengaruhi alkohol." Emeli menatap kedua bola mata Clara yang berwarna merah.
"Tidak." Clara tertawa kecil, lalu detik berikutnya wajahnya berubah cemberut.
"Tidak akan pernah aku meninggalkanmu, apapun yang akan terjadi." Emeli tetap bersikeras dengan keputusannya meski Clara mengusirnya. Ia tahu, sahabatnya sangat membutuhkan seseorang yang bisa mengerti keadaannya sekarang. Sebagai sahabat, Emeli tidak akan meninggalkannya.
"Aku mau pergi! Clara mendorong bahu Emeli cukup keras, hingga mundur beberapa langkah dan jatuh tepat di atas kursi.
Clara menjatuhkan tubuhnya di lantai, kepalanya menunduk menangis sesegukan. Clara benar benar dalam pengaruh alkohol.
Emeli berdiri lalu menghampiri Clara, duduk di hadapan Clara yang tengah menangis. "Dengar, aku tidak tahu apa yang sedang kau sembunyikan dari aku. Tapi aku tidak akan memaafkan diriku jika meninggalkanmu sendirian." Kemudian Emeli berdiri, sesaat menatap Clara. Lalu ia beranjak pergi keluar dari kamar.
Dengan langkah gontai Emeli memasuki kamarnya, ia duduk di tepi tempat tidur memikirkan sikap Clara yang tiba tiba saja kasar. Di mana Clara yang periang? Emeli mendesah gusar. Ia naikkan kedua kakinya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tung!
Bunyi ponsel miliknya berbunyi. Emeli hanya menatap ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur tanpa ada keinginan untuk melihatnya.
" Tung!"
Kembali ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Dengan malas Emeli mengambil ponsel dan membuka layar ponsel. Tertera no tak di kenal, "siapa? paling orang iseng." Ia membuka pesan di ponsel dan membacanya.
Emeli menarik napas panjang, meletakkan kembali ponselnya di atas tempat tidur. "Ya Tuhan, ada apa lagi Nathan?" gumamnya pelan.Emeli kembali mendesah, lalu ia turun dari atas tempat tidur berjalan dengan malas menuju pintu kamar dan membukanya perlahan.
"Clara?" ucap Emeli pelan. Ia melihat Clara tergesa gesa pergi keluar rumah. "Mau kemana dia?" Emeli kembali masuk ke dalan kamar mengambil tas dan ponselnya, lalu ia keluar kamar menyusul Clara. Namun sayang, Clara sudah meninggalkan halaman rumah menggunakan mobilnya.
Emeli langsung berlari ke menuju jalan mencari tukang ojeg. Kebetulan sekali di ujung komplek tak jauh dari rumah Clara ada pangkalan ojeg. Emeli berlari ke arah pangkalan ojeg.
"Bang, kejar mobil yang baru saja lewat, cepat!
"Baik, Neng!" tukang ojeg menyodorkan helm pada Emeli.
Emeli langsung naik ke atas motor, mengikuti mobil Clara dari belakang sambil menggunakan helm. Tak lama kemudian mobil Clara berhenti di sebuah hotel.
"Berhenti bang!" Emeli menepuk pundak tukang ojeg. "Jimy?" ucap Emeli pelan. Ia turun dari atas motor, dengan tatapan lurus ke arah Clara dan Jimy berjalan bersama memasuki hotel.
"Bang berapa?" tanya Emeli mengeluarkan dompet dari dalam tas.
"Tiga puluh ribu Neng."
Emeli mengeluarkan uang tiga lembar, lalu ia berikan pada tukang ojeg. "Makasih."
Emeli berdiri mematung tak jauh dari halaman hotel. Ia ragu untuk mengikuti Clara ke dalam hotel. Emeli memutar badan dan memutuskan untuk kembali lagi ke rumah, ia khawatir Clara marah lagi.
"Emeli?" sapa seorang pria yang baru saja keluar dari pintu mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Arga, kau Arga bukan?" tanya Emeli menatap ke arah Arga, pria yang memberikan kartu nama padanya tadi siang.
"Kau sedang apa selarut malam begini?"
Emeli diam menatap Arga, terlihat sebentuk alis yang bertaut. "Aku..." Emeli tidak melanjutkan ucapannya.
"Oke, kalau kau tidak mau bilang juga tidak apa apa. Sekarang kau mau kemana?" tanyanya lagi.
"Aku mau pulang." Emeli mengedarkan pandangannya ke arah lain mencari ojeg atau angkutan umum. Namun Arga langsung membuka pintu mobil dan menarik tangan Emeli pelan.
"Ayo masuk, aku antarkan kau pulang." Emeli hanya diam mengikuti langkah Arga lalu masuk ke dalam mobil di susul Arga.
"Aku antar kau kemana?" Arga melirik sesaat ke arah Emeli.
Emeli menoleh ke arah Arga, lalu ia menyebutkan alamat rumah Emeli. Sepanjang jalan tidak ada perbincangan, sesekali Emeli menatap ke arah Arga yang fokus ke depan. Wajahnya yang rupawan dan rambutnya yang pirang, sangat menawan di pandang mata. "Tampan" ucap Emeli dalam hati.
"Ada apa?" Arga melirik sesaat ke arah Emeli.
Emeli terkejut, Arga mengetahui kalau ia curi curi pandang. "Tidak ada." Emeli menundukkan kepala.