
Setelah mereka puas menyantap makanan Prime Steak dan Stone Crab. Meski Emeli tidak terlalu menyukainya. Kemudian mereka berjalan jalan menyusuri tepi jalan raya.
"Hei tunggu!"
"Ada apa Clara?" sahut Emeli dan Arga bersamaan menoleh ke arah Clara yang membuka kertas surat yang di berikan Jimmy.
"Lihat itu!" tunjuk Emeli ke arah Bar Aviary di ujung jalan.
"Ya kenapa?" tanya Arga menatap ke ujung jalan.
"Bukankah itu nama Bar yang tertera dalam surat ini? alamatnya sudah benar." Clara kembali menunjukkan alamat dalam surat itu, selain alamat rumah terdapat alamat Bar yang Jimy tuliskan.
"Iya, kau benar," sahut Arga.
"Ayo kita ke sana!" Clara berjalan mendahului Emeli dan Arga.
"Tunggu dulu Clara! Arga menarik tangan Clara.
" Apalagi?" tanya Clara menatap tajam Arga. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Jimy lagi.
"Bagaimana kalau salah?" tanya Emeli.
"Kita coba, mana tahu kita salah atau tidak? kita harus cari tahu." Pinta Clara.
"Baiklah! ayo!" seru Emeli berjalan mendahului kedua sahabatnya. Kemudian Clara dan Arga mengikuti langkah Emeli di depan.
Sesampainya di halaman Bar mereka tertegun, karena mereka tidak melihat ada aktifitas di dalamnya.
"Kok sepi?" tanya Emeli.
"Iya, mungkin ini tempat tinggal Jimy?" tanya Clara ragu.
"Clara kau mau kemana?" seru Arga melihat Clara berjalan mendekati pintu Bar.
"Emeli, sebaiknya kita cegah Clara sebelum terjadi hal hal yang tidak di inginkan." Arga berlari menyusul Clara di ikuti Emeli dari belakang.
"Clara!" seru Arga masuk ke dalam Bar yang memang tidak ada aktifitas apapun.
"Ayo ke sini!" seru Clara berdiri di depan pintu ruangan lain.
"Clara jangan main main!" seru Emeli mulai khawatir.
Arga dan Emeli menajamkan pendengarannya, tapi mereka tidak mendengar apapun.
"Clara, apa kau sudah gila?" sungut Emeli mulai tidak nyaman.
"Ah kalian penakut!"
Clara membuka pintu ruangan yang tidak tertutup di ikuti Emeli dan Arga. Mereka terdiam, mata mereka melebar saat melihat beberapa pria berpakaian jas putih berjajar rapi. Di depannya mereka berdiri seorang pria menggunakan jas kotak kotak hijau putih, di jarinya terselip cerutu, kaca mata menghiasi wajahnya yang terlihat arogan. Kaki kanannya menginjak seorang pria tak berdaya, wajahnya bengkak bersimbah darah.
"Clara, kita salah masuk," bisik Emeli yang berdiri paling depan.
"Clara, kau cari masalah." Timpal Arga pelan dengan tatapan tajam.
"Tuan, maafkan kami. Kami salah masuk." Emeli tertawa kecil, sembari menggaruk kepalanya.
"Mana dia ngerti bahasa Indonesia," bisik Arga.
Mata mereka melebar, saat pria yang menginjak pria lain berjalan menghampiri di ikuti salah satu pria berjas putih.
"Siapa kalian?' tanya pria itu dalam bahasa asing.
"Kami dari Indonesia, kami tersesat. Maafkan kami tuan." Arga menjawab. Karena dia mengerti bahasa yang di gunakan pria tersebut.
"Siapa namamu?" tanya pria itu menatap wajah Emeli.
Kalau cuma di tanya siapa namamu, Emeli mengerti meski dalam bahasa asing. Selain itu, Emeli tidak tahu apa apa.
"Emeli."
"Nama yang cantik, secantik wajahmu." Pria itu tertawa kecil menoleh ke arah pria berjas putih di belakangnya. Lalu menghisap cerutunya dengan dalam.
"Tangkap mereka!" perintah pria itu kepada pria berjas putih di belakangnya.
"Tuan, tuan, kami minta maaf!" Arga berusah untuk menyelamatkan dua sahabatnya. Namun pria berjas putih itu sudah mengepung dan menangkap mereka bertiga.
"Bawa mereka!" perintah pria itu lagi.
"Celakalah kita, Clara," ucap Emeli pelan.
Clara hanya diam karena saking ketakutannya. Begitupula dengan Arga, ia tidak ingin terjadi apa apa pada dua sahabatnya dan memilih diam saat mereka membawa paksa keluar dari Bar.