
Di hari usia sang bayi menginjak 6 bulan. Al terpaksa harus meninggalkan Emeli dan putranya yang belum di berikan nama. Al memiliki pekerjaan penting di luar Negeri yang butuh penanganannya langsung.
Sehari sebelum keberangkatan Al. Ia sudah memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk menjaga Emeli dan putranya dengan taruhan nyawa.
Meski sikap Al terhadap bawahannya masih terkesan arogan, namun sejak kehadiran Emeli. Di mata anak buahnya, Al lebih bersikap bijaksana dan hangat. Tidak seperti sebelumnya menganggap kepercayaan lebih berharga dari pada sebuah nyawa.
Anak buahnya yang handal, cerdas, terpercaya, di letakkan di garis depan untuk mengawal Emeli dan putranya kemanapun mereka pergi jika di butuhkan pergi keluar rumah.
Cctv Al siapkan di setiap sudut ruangan untuk memastikan Emeli dan putranya aman dalam pengawasan. Semua itu Al lakukan setelah diam diam mendapatkan informasi bahwa Cindy dan Jimi sudah bekerjasama untuk melenyapkan putranya atas perintah Ibu tiri Emeli yang tidak menginginkan semua harta warisan itu jatuh pada putra Emeli.
Al sendiri belum siap menceritakan tebtang orang tua kandung Emeli. Karena ia takut wanita itu meninggalkannya dan membawa pergi putra yang selama ini ia inginkan.
Pagi ini kembali terjadi kehebohan di kediaman Al. Rumah yang selalu tenang kini selalu terdengar ramai dan hangat, entah itu suara tangisan bayi Emeli yang selalu terdengar kencang atau teriakan Emeli yang memanggil Al atau anak buahnya.
"Chi Mol!!!!" teriak Emeli dari lantai atas.
"Saya Nona!" sahut Chi Mol tengadahkan wajah menatap ke arah Emeli.
"Panggil Dokter Alan cepat!" seru Emeli.
"Baik Nona!" sahut Chi Mol lalu berlari menuju lorong.
"Bas Sreng!!"
"Saya Nona!" sahut Bas Sreng siap siaga.
"Panggil Paman Kubis kemari, aku membutuhkan bantuannya, cepat!"
"Baik Nona!" sahut Bas Sreng lalu bergegas menuju ruangan lain.
"Hufft, lumayan olahraga bibir." Kata Emeli di akhiri tertawa kecil, lalu ia balik badan menatap ke arah Al yang berdiri di ambang pintu menyandarkan bahunya.
"Jadi begitu? kau senang berteriak di pagi hari, menggoda anak buahku supaya mereka panik. Begitu?" ucap Al.
"Ya bisa di bilang begitu, dari pada rumah sebesar ini sepi? aku bosan suasana rumah yang sepi." Jawab Emeli berjalan menghampiri Al.
"Kalau aku menginginkan program anak kedua, apa kau juga menginginkan syasan rumah ini ramai?" tanya Al, tangannya meraih pinggang Emeli dan mendekapnya erat.
"Hei, itu beda lagi ceritannya." Bisik Emeli pelan.
"Apa kau sudah tidak waras? bagaimana kalau Dokter Alan dan paman Kubis datang?" tanya Emeli.
"Biarkan saja mereka menunggu," kata Al lalu tertawa lebar.
"Hem, Tuan!"
Al dan Emeli menoleh ke belakang, nampak Dokter Alan dan Kubis sudah berdiri di belakang mereka.
"Hah, kalian selalu datang tidak tepat waktu!" ucap Al menatap jengah keduanya.
Dr Alan dan Kubis hanya menundukkan kepala dan mengulum senyumnya.
"Kami di perintahkan Nona Emeli." Sahut mereka berdua.
"Dr, coba kau lihat putraku." Emeli melepaskan pelukan Al, lalu mereka berjalan masuk ke dalam kamar putranya.
Dr Alan mendekati putra Emeli yang tengah tertidur pulas, sementara suster Kara yang membantu Emeli merawat putranya menyingkir dan berdiri di sudut kamar.
"Ini hal biasa Nona, putra anda sebentar lagi tumbuh gigi. Jangan khawatir, aku akan memberikan obat." Kata Dokter Alan sambil memeriksa kondisi putra Al.
"Oya Paman Kubis, aku minta kau mencarikan makanan khas Indonesia. Aku sudah lama tidak makan makanan Indonesia. Maukah kau mencarikannya untukku?" pinta Emeli.
"Tentu Nona, segera saya pergi mencari." Jawab Kubis membungkukkan badan sesaat, lalu ia beranjak pergi meninggalkan kamar putra Emeli.
"Bagaimana Dok? putraku baik baik saja bukan?" tanya Al.
"Jangan khawatir, putra kalian baik baik saja." kata Dokter Alan. "Kalau begitu, aku siapkan obatnya dulu."
"Silahkan Dok!"
Dr Alan beranjak pergi dari kamar, lalu Suster Kara kembali duduk di kursi menjaga putra Emeli.
Al menarik tangan Emeli keluar dari kamar, menuju kamar pribadinya.
"Sayang, besok aku sudah berangkat. Jadi..aku mau habiskan waktu hari ini bersamamu." Bisik Al di telinga Emeli lalu menutup pintu kamar pribadinya.