Baby Proposal

Baby Proposal
BP 40



Pagi pagi sekali Emeli sudah bangun tidur, ia turun dari atas tempat tidur, duduk di kursi depan cermin. Kemudian ia menggunakan rollan di seluruh rambutnya. Ia tersenyum sendiri melihat rambutnya di penuhi rollan. Meski Emeli sudah tidak tinggal di Indonesia lagi, namun kebiasaannya dari makanan hingga barang yang di gunakan masih kebiasaan ia tinggal di Indonesia.


Kemudian ia beranjak pergi ke kamar mandi, hal yang pertama Emeli lakukan menyikat gigi, lalu membasuh mukanya menggunakan pencuci wajah. Rencanaya hari ini, Emeli akan mengajak putranya jalan jalan.


Dari dalam kamar mandi, Emeli yang tengah asik mengusap usap wajahnya menggunakan sabun pencuci muka. Terdengar suara gaduh di halaman rumahnya. Awalnya Emeli mengabaikan suara gaduh itu, namun semakin lama terdengar suara desingan peluru dan teriakan Bas Sreng juga Chi Mol.


"Ada apa?" gumam Emeli sambil terus mengusap wajahnya dengan sabun, melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi menuju balkon kamar.


"Hah!!" Mata Emeli melotot, mulutnya menganga melihat ke bawah rumah. Nampak berpuluh puluh pria sudah mengepung mansion dan beberapa mobil yang baru saja datang menurunkan pria pria lengkap dengan senjata api.


"Sialan! rutuk Emeli lalu balik badan masuk ke dalam. Mengunci pintu balkon kamar rapat rapat. Lalu ia menghampiri putranya yang masih tertidur pulas


"Kau diam disini, jangan menangis bekerjasamalah denganku." Tunjuk Emeli ke arah putranya. Lalu ia membuka lemari tempat penyimpanan senjata api laras panjang yang sudah di sediakan Al.


Emeli memilih salah satu senjata api laras panjang, lalu ia gantungkan di pundaknya. Setelah itu dua senjata api berukuran sedang menjadi pilihan Emeli berikutnya.


"Berani sekali membangunkan macan yang sedang tidur!" ucap Emeli sambil menatap rambutnya yang di penuhi rollan lalu ia bergegas keluar dari kamar dan mengunci pintunya rapat rapat.


Emeli berlari menyusuri lorong lalu menuruni anak tangga, kedua tangannya mengarahkan senjata api ke arah musuh yang mulai merangsek masuk ke dalam ruang tamu.


"Dor Dor Dor Dor!!"


Satu, dua, tiga musuh langsung ambruk ke lantai bersimbah darah.


"Paman Sen Duok, tangkap!!" Emeli melemparkan satu senjata apinya, saat melihat Sen Dok kehabisan peluru.


"Terima kasih Nona!" sahut Sendok, tangan kanannya menangkap senjata api yang Emeli lemparkan.


"Dor Dor!!"


"Gubrakkk!!" Dua musuh ambruk menimpa meja.


Emeli kembali menuruni anak tangga, lalu berlari ke arah pintu yang sudah rusak di dobrak oleh musuh. Dari balik tembok, kembali membidik lawannya, peluru kembali di lesatkan.


"Dor Dor Dor!!"


"Prankkk!! terdengar suara kaca jendela pecah. Emeli balik badan lalu menarik pelatuk sambil berguling menghindari musuh.


"Dor Dor Dor!!"


Peluru berseliweran, Emeli bersembunyi di balik pilar. Ia kehabisan pelurunya, lalu membuang senjata api di tangannya kelantai dan menggantinya dengan senjata api laras panjang. Ia menyembulkan kepala menatap ke arah pintu. Nampak Chimol dan Bassreng di ambang pintu, kemudian Emeli berlari ke arah mereka.


"Nona, musuh semakin banyak." Kata Bassreng lalu bersembunyi di balik tembok.


"Sebaiknya kita?"


"Duarrrr!!!


"Duarrr!!!" Ledakan terjadi bersamaan dengan suara jeritan.


"Serang!" Seru Chimol berlari keluar di ikuti Emeli dan Bassreng.


"Dor Dor Dor Dor!!"


Baku tembak di halaman semakin imbang. Tim Emeli berhasil melumpuhkan musuh, dan memukul mundur sebagian musuh yang terluka.


"Dor dor dor!!"


"Duarr!!"


Peledak kembali Dr Alan lemparkan ke arah musuh yang melarikan diri.


"Matilah kalian!" seru Chimol tertawa lebar.


"Klikk!!"


"Kita lihat, aku yang mati atau kau yang mati. Wanita sialan!"


Bassreng, Chimol, dan yang lain menoleh ke arah Emeli. Nampak Cindy menempelkan senjata apinya tepat di kepala Emeli.


"Letakkan senjata kalian!" perintah Cindy.


Dr Alan dan yang lain menurunkan senjatanya di atas rumput lalu kedua tangan mereka di angkat ke atas.


"Jangan sekali sekali kau menyakiti Nona kami, kau akan rasakan akibatnya." Ancam Bassreng.


Cindy tertawa terkekeh. Ia sudah merasa menang dengan menahan Emeli. Bagi Cindy, kematian Emeli lebih penting dari pada kewaspadaannya.


"Bukk!"


Seorang pria yang tak lain anak buah Al, bernama Gulay langsung memukul kepala Cindy menggunakan balok kecil hingga ambruk dan tak sadarkan diri, darah segar mengalir di kepala Cindy.


"Wow Paman Gulay datang tepat waktu!" seru Emeli tertawa lebar. "Paman Bassreng, Paman Gulali kalian urus mayat mayat ini, dan jangan tinggalkan jejak. Kalian paham!!" perintah Emeli.


"Baik Nona!" sahut Bassreng dan yang lain.


"Paman Chimol, Paman Sendok, urus semua kerusakan dan kembalikan rumah seperti semula!" perintah Emeli.


"Baik Nona!" sahut mereka serempak.


Emeli berlari masuk ke dalam rumah untuk memastikan putranya baik baik saja. Sesampainya di dalam kamar, Emeli tersenyum melihat putranya masih dalam keadaan tidur pulas.


"Hh, rambutku jadi berantakan. Rollannya jatuh kemana ya?" ucap Emeli meraba rollan rambutnya yang berkurang.