Baby Proposal

Baby Proposal
BP 17



Dua wanita tengah asik duduk di teras rumah berbincang bincang di selingi tawa canda. Ya, Clara tengah membicarakan tentang Jimy yang memiliki kembaran. Semakin malam candaan Clara semakin ngelantur. Membuat Emeli tertawa terbahak bahak menanggapi candaan Clara.


Perbincangan hangat mereka terhenti saat melihat seorang pria keluar dari pintu mobil menghampiri mereka. "Dika?" Clara berdiri menatap ke arah Dika, Manager Club milik Jimy, tapi detik berikutnya ia tertegun. "Kau? di mana Jimy?


"Aku datang kesini bukan untuk sebuah lelucon." Dika menatap tajam Clara lalu beralih menatap Emeli.


Sikap Dika yang biasanya kemayu, berubah serius. Membuat Clara menautkan kedua alisnya menatap bingung dengan sikap Dika.


"Ada apa?" tanya Clara menatap Dika.


"Aku datang untuk bicara denganmu. Dan ini sangat penting." Dika menarik tangan Clara.


"Bicara penting apa? katakan?" Clara mulai cemas dengan sikap Dika, ia berpikir ini pasti ada hubungannya dengan Jimy yang menghilang.


"Jimy memberikanku surat, sehari sebelum dia menghilang, dan semalam dia menelponku. Dan dia butuh bantuanmu." Dika menundukkan kepala sesaat.


"Surat?" Clara mengambil surat di tangan Dika dengan pikiran bingung.


"Ayo duduk. Emeli berdiri lalu menarik tangan Dika untuk duduk.


Kemudian Dika duduk dan menjelaskan maksud kedatangannya dan meminta Clara untuk menyusul Jimy sesuai alamat yang tertera di dalam surat itu.


Sejenak Emeli terdiam, namun detik berikutnya ia tertawa terbahak bahak. Membuat Dika kesal tapi tidak bagi Clara. Ia berpikir kalau Dika tidak sedang tengah bercanda.


"Yang benar saja, kau meminta Clara untuk pergi ke Chicago? kalau ke Dargo Bandung, itu masuk akal." Emeli tertawa kecil.


"Aku tahu, kalian tidak akan percaya padaku! bentak Dika kesal membuat Emeli berhenti tertawa.


"Ayolah Dika, sebaiknya kau pulang," ucap Emeli mulai khawatir dengan lelucon Dika bisa mempengaruhi sahabatnya.


Dika berdiri, ia mendengus kesal menatap marah pada dua wanita di hadapannya. "Sepuasnya kau tertawa Emeli."


"Dika apa kau serius?" Clara mulai mempercayai ucapan Dika karena dia sendiri, Ia menoleh ke arah Emeli yang terlihat acuh tak acuh.


"Aku memang brengsek Emeli, tapi aku tidak pernah berbohong." Dika menatap tajam ke arah Emeli, lalu ia balik badan meninggalkan dua wanita yang terpaku menatapnya.


Clara berlari menyusul Dika dan menarik tangannya. "Dika!"


"Apa lagi?!" ucap Dika menoleh ke arah Clara.


"Aku percaya padamu," ucap Clara menoleh sesaat ke arah Emeli yang tengah memperhatikan mereka berdua.


Dika mengusap kasar rambutnya. "Jika kau mau menyusul ke sana dan percaya padaku, semua surat dan uang akan kupersiapkan."


Clara tertegun sesaat, ia menoleh ke arah Emeli lalu berjalan mendekatinya.Ia sangat percaya dengan ucapan Dika pada akhirnya. Dika memang kemayu, tapi Dika bukan seorang pembohong.


"Kau percaya?" tanya Emeli menatap Clara.


Clara menganggukkan kepala. "Ya, aku percaya." Clara duduk di kursi.


"Ayolah Clara, apa yang di katakan Dika itu cuma candaan saja." Emeli berdiri lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Sementara Clara duduk termenung di teras rumah.


"Adduh, kenapa aku yang pusing?" Clara menepuk keningnya sendiri. "Aku jadi baper, si Emeli saja santai kok." Clara terdiam sesaat lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


***


"Apa kau yakin Clara?" tanya Emeli menatap sahabatnya.


"Aku yakin, dan percaya ucapan Dika." Clara mencengkram tangan Emeli, matanya berkaca kaca. "Aku tetap akan pergi ke sana."


Emeli menatap kedua bola mata Clara dengan dalam. "Kalau begitu, aku ikut bersamamu."


"Jadi?" Clara mengangkat kedua alisnya menatap Emeli.


"Ya, aku sahabatmu. Dan, aku akan menemanimu kemanapun kau pergi. Lagipula di Chicago itu tempat asing buatmu. Kau tidak kenal siapa siapa, andai aku ikutpun. Kita sama sama bodoh!" Emeli tertawa terbahak bahak, di ikuti Clara sembari menepuk keningnya sendiri.


"Aku ikut!"


Clara dan Emeli menoleh ke belakang, melihat Arga sudah berdiri di belakang mereka. "Ikut?" tanya Clara menautkan kedua alisnya menatap Arga.


"Iya, aku takut terjadi sesuatu pada kalian. Terutama Emeli. Di sana Negara asing, dan kalian belum pernah ke sana." Arga berjalan mendekati mereka berdua.


Clara mengalihkan pandangannya pada Emeli. "Cieee, ada yang cemas." Clara menggoda Emeli.


"Aku akan mengurus surat suratnya besok." Arga tersenyum menatap Emeli yang menundukkan kepala.


Arga terdiam sejenak, "tapi ini rasanya aneh."


"Aneh kenapa?" tanya Clara, duduk di kursi.


"Kenapa dia memintamu datang ke sana?" apa yang di pikirkan Arga, sama seperti yang di pikirkan Emeli. Namun Clara bersikeras untuk menyusul kekasihnya, meski ada keraguan di hatinya. Ia berharap kalau Jimy tengah memberikan kejutan untuknya. Lagipula Clara tidak merasa sendirian, ada Emeli dan Arga yang ikut bersama menemaninya nanti.


Meski Arga juga ragu, tapi ia tidak akan membiarkan Emeli dan Clara hanya berdua ke sana. Setidaknya, Arga pernah berlibur mendatangi Negara itu. Akhirnya Arga mengalah dan tidak berdebat lagi dengan Clara, demi Emeli. Apapun akan ia lakukan.