
Sejak peristiwa penyerangan itu, hidup Emeli mulai tenang. Ia tidak lagi memiliki musuh, semua musuh Al sudah di bantai habis oleh Emeli. Hari hari Emeli hanya di isi dengan merawat Ansell kecil dan dirinya sendiri.
Dari hari ke hari, Emeli mulai bosan menanti kabar kepulangan Al. Namun tidak mengurangu rasa percayanya terhadap Al. Kemudian Emeli meminta Chimol untuk pergi ke tempat di mana Al terakhir berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Berbulan bulan Chimol berada di Luar Negeri menyusuri keberadaan Al. Namun hasilnya tetap nihil, Chimol tidak mendapati Al di Negara tersebut. Namun Chimol tidak putus asa, ia kembali menyusuri keberadaan Al melalui perusahaan yang pernah di datangi Al.
Sempat membuat Emeli ragu, namun informasi terakhir yang di dapatkan Chimol semakin menguatkan dugaan Emeli. Telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa Al.
"Jadi?" tanya Emeli.
"Kemungkinan Tuan Al berada di Indonesia." Jawab Chimol lalu meletakkan beberapa dokumen di atas meja, yang berisi informasi dan bukti bukti.
Emeli mengambil dokumen itu, dan memperhatikan semua foto yang ada di dalam file tersebut.
"Al sudah menjadi orang lain, kemungkinan Al tidak mengenaliku dan putranya. Ini srmua di akibatkan Rey dan kawan kawannya yang mengambil semua memori di kepala Al dan menggantinya menjadi orang lain." Jelas Dokter Alan.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Basreng.
Emeli tersenyum lebar, meski ia tahu tidak akan mudah mengembalikan Al. Namun Emeli percaya akan kekuatan cintanya dan Ansell kecil.
"Aku tidak akan menyerah, akan kuhabisi semua musuh sampai ke akar akarnya. Dan aku akan rebut kembali Al dari tangan mereka." Sahut Emeli bersemangat.
"Ide bagus!" sahut Dokter Alan.
"Kita pulang ke Indonesia. Persiapkan segalanya, aku tidak mau putraku di sana ada yang menghina apalagi hidup susah sepertiku dulu. Dan perusahaan di sini, aku percayakan kepada Paman Kubis. Kita semua berangkat ke Indonesia!" perintah Emeli.
"Hei jangan lupa, di sana perempuannya cantik cantik, kalian bisa dapatkan jodoh." Goda Emeli kepada Chimol dan Bsreng.
***
Satu minggu berlalu, Emeli menunggu surat surat kepindahannya ke Indonesia. Ia kembali teringat masa lalunya, mantan suami, mertua yang begitu kejam. Clara, Rangga, kedua sahabatnya. Kerinduannya untuk segera bertemu mereka dan membalas sakit hatinya dulu yang belum terbalaskan kepada keluarga mantan suaminya.
Hari kesepuluh semua telah selesai. Sebelum Emeli berangkat ke Indonesia, Basreng sudah lebih dulu pergi ke sana untuk menyiapkan rumah dan segala hal yang di butuhkan.
Satu bulan kemudian, Emeli, Dr Alan, Chimol, paman Sen Dhok dan bibi Wayjan ikut di boyong ke Negara Indonesia. Dan beberapa anak buah yang akan membantu Emeli di sana, sebagian anak buahnya tetap di mansion itu untuk tetap berjaga.
Keesokan harinya mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi. Tak lama pesawat sudah take off.
Setelah memakan waktu hingga berjam jam lamanya, akhirnya mereka telah sampai di Indonesia.
Emeli tersenyum mengembang, Ansell kecil ikut senang bergerak aktip di dalam gendongan ransel. Anak buah Emeli dan Basreng sudah menunggu mereka di dekat mobil yang berjajar untuk membawa mereka semua ke rumah barunya.
"Selamat datang Nona, Tuan Muda." Sapa Basreng.
"Paman, ayo kita pulang. Oya, apakah kau sudah siapkan masakan khas Indonesia?" tanya Emeli.
"Sudah Nona!" sahut Basreng.
Emeli mengangguk senang, kemudian ia meminta Dr Alan untuk mengambil alih Ansell kecil dari gendongannya. Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil menuju rumah baru, petualangan baru.