Baby Proposal

Baby Proposal
BP 49



Atas panduan dari Clara sahabatnya. Emeli pagi ini menggunakan Pencil Skirt di padukan dengan kemeja dan blazer. Ia tersenyum, memperhatikan bayangan tubuhnya di cermin.


"Kau cantik Emeli, lakukan dengan cara apapun untuk merebut suamimu lagi." Ucap Emeli menyemangati dirinya sendiri.


"Tiiitttt!!"


Terdengar bunyi klakson dari halaman rumahnya. Itu tandanya kalau Clara sudah menunggunya untuk berangkat bersama di hari pertama masuk kerja.


Emeli bergegas keluar kamar, menemui Chimol dan Basreng. "Kalian jaga putraku dengan baik."


"Siap Nona!" sahut mereka serempak.


Kemudian Emeli melangkahkan kakinya keluar rumah setelah berpesan seperti itu kepada dua orang kepercayaannya.


"Woi! lama amat!" rutuk Clara kepalanya menyembul dari kaca jendela mobil.


"Sori, ngurus anak dulu!" sahut Emeli di akhiri tertawa kecil, lalu membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Clara.


"Kita berangkat, takut kesiangan." Kata Clara, lalu menyalakan mesin. Mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah menuju perusahaan yang di pimpin oleh Al atau nama lainnya Ken.


Sesampainya di perusahaan tersebut. Clara membantu Emeli, apa saja yang harus di lakukan sebagai seorang sekretaris. Beruntung, Emeli pernah belajar apapun dari Al, dulu. Dengan mudah Emeli memahami tugasnya dan cepat beradaptasi. Tak lama kemudian, Emeli di panggil ke kantor Ken.


Emeli bergegas menuju kantor Ken. Di depan pintu ruangan, Emeli mengetuk pintu. Terdengar seseorang menyaut dari dalam, suara khas yang biasa Emeli dengar.


Perlahan Emeli membuka pintu, nampak Ken tengah berbincang dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah Yuna, tunangannya. Hati Emeli bergetar, berdesir panas melihat mereka berdua. Namun Emeli kembali mampu menguasai dirinya untuk tetap tenang.


"Selamat siang Pak." Sapa Emeli.


Ken dan Yuna menoleh, memperhatikan Emeli dari atas sampai bawah. Terlihat sangat seksi, cantik dan menarik siapapun yang yang memandang terutama kaum adam.


"Kau, Emeli?" tanya Ken.


"Hmm.." Ken hanya berdehem, memperhatikan Emeli membuat Yuna yang berada di sampingnya mulai kesal.


"Aku tidak setuju kalau sekretarismu seorang wanita, apa kau tidak bisa mempekerjakan seorang pria?" ucap Yuna keberatan dengan sekretaris baru, lagi dan lagi seorang wanita yang membuat Yuna selalu terbakar cemburu.


"Diamlah, kau jangan terlalu mengatur hidupku. Lama lama aku bosan!" ucap Ken sedikit membentak.


"Maafkan aku sayang," Yuna melingkarkan kedua tangannya di leher Ken dan berbisik manja di telinganya.


Melihat pemandangan seperti itu, Emeli mulai kesal dan hatinya semakin panas. Namun ia berusaha mencari celah untuk mengganggu mereka. Tiba tiba Emeli melangkah ke depan seolah olah ada yang mendorong tubuhnya dari belakang.


"Buk!!"


Tubuh Emeli menubruk tubuh Yuna, hingga gadis itu oleng ke samping lalu jatuh terduduk di lantai. Ken tidak buru buru membantu Yuna, tapi menatap bingung ke arah Emeli.


"Kau kenapa?" tanya Ken.


"Ma, maaf Pak. Kepalaku agak sedikit pusing melihat kalian bertengkar." Jawab Emeli.


"Kau itu aneh!" bentak Ken lalu menoleh ke arah Yuna, tangannya terulur menarik tangan gadis itu supaya berdiri. "Kau tidak apa apa?"


"Heh! baru saja sehari masuk kerja. Sudah bikin masalah!" Tangan Yuna di angkat hendak menampar wajah Emeli.


Namun dengan sigap, Ken mencengkram tangan Yuna. "Apa apaan kau ini, bukankah dia tidak sengaja?" Bela Ken.


"Kau bukannya membelaku, tapi malah dia yang kau bela!" seru Yuna kesal, lalu melangkahkan kakinya dengan kesal keluar dari ruangan.


"Yuna!" panggil Ken, lalu berlari menyusul Yuna keluar dari ruangan.


Emeli hanya terdiam, memajukan bibirnya. "Ini baru permulaan, lihat saja nanti. Kau tidak akan pernah bisa tenang." Gumam Emeli di akhiri tertawa kecil.