Baby Proposal

Baby Proposal
BP 28



"Ini konyol..ini konyool!!" seru Al geram, berjalan mondar mandir di depan anak buahnya yang berjajar rapi.


Sementara anak buahnya hanya berdiri dengan kepala tertunduk menyembunyikan senyuman. Bukan mereka takut, pasalnya Al tidak menggunakan pakaiannya dan hanya menggunakan celana panjang saja juga sepatu.


"Kalian mentertawakanku?" tanya Al kepada semua anak buahnya


"Tidak Tuan!" sahut mereka serempak lalu mengangkat wajahnya menatap Al.


Ngidam kali ini, Emeli memiliki keinginan aneh. Al tidak di perbolehkan memakai baju selama di rumah. Jika tidak di turuti, Emeli akan marah dan menangis.


"Tuan, ada kabar buruk!" sela Alex salah satu kaki tangan Al.


"Kabar buruk?" tanya Al.


"Jimi mulai terang terangan menentang peraturan yang sudah kita terapkan." Ungkap Alex


"Jimi, hmm.." gumam Al


"Benar!" sahut Alex.


"Kau urus semuanya, aku ada urusan lain." perintah Al.


"Baik Tuan!" sahut Alex. Kemudian Alex dan anak buahnya yang lain meninggalkan ruangan.


"Lama lama aku bisa gila menghadapi Emeli."


***


Entah sudah berapa lama Al duduk diam di sofa. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya, Al tengadahkan wajah menatap sosok wanita anggun yang tak lain adalah Cindy.


"Cindy? kau?" Al berdiri menyambut kedatangan wanita itu yang nenubruknya dan memeluk erat.


"Apa kabar sayang? apa kau merindukanku?" tanya Cindy melingkarkan kedua tangan di leher Al.


"Mungkin.." sahut Al pelan.


"Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Dan kedatanganku kali ini, aku ingin kau kembali padaku dan lupakan persyaratan yang ku ajukan." Ungkap Cindy.


"Benarkah?" tanya Al.


"Kita menikah setelah wanita itu kau ceraikan."


Al terdiam menatap kedua bola mata wanita cantik yang dulu sangat ia puja dan perjuangkan.


"Aku merindukanmu, dan sangat menginginkanmu saat ini.." bisik Cindy di telinga Al.


Wanita itu menurunkan tangannya, lalu mendorong dada Al hingga terduduk di sofa. Cindy duduk di pangkuan Al, kedua tangannya meraba dadanya dengan lembut. Sentuhan tangan Cindy, membuat hasrat Al menggebu di dalam dada. Al membalas sentuhan tangan Cindy dan mereka saling berpagut berciuman dengan mesra. Namun momen kali ini berbeda, dalam benak Al. Dia merasa tengah berciuman dengan Emeli. Matanya terbuka dan menggeser tubuh Cindy ke samping.


"Tidak, aku tidak bisa melakukannya." Ucap Al mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa Al? apakah karena wanita itu? jangan bilang kau mencintainya, Al!!" seru Cindy kesal, hasratnya tak terpuaskan.


"Pergi dari rumahku, sekarang juga." Pinta Al.


"Kau mengusirku?" tanya Cindy.


'Pergi!!" tunjuk Al ke arah pintu.


"Kau akan menyesal!" Cindy bangun dan berdiri membenarkan pakaiannya, lalu beranjak pergi.


"Kau sedang A-?'


"Aku mau rujak!" potong Emeli dengan raur wajah kesal.


"Rujak? apa itu rujak?" tanya Al.


"Pokoknya aku mau rujak!" seru Emeli seperti ingin menangis, lalu ia berdiri, melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur.


"Tapi aku tidak tahu apa itu rujak?"


"Aku tidak mau tahu, aku mau rujak!!" pekik Eneli sambil melemparkan bantal dan guling ke arah Al.


"Tenanglah Emeli, tenang!"


Emeli kembali terdiam, bukan karena mau rujak. Tapi dia marah karena melihat Al berdua dengan Cindy.


"Aku carikan rujak seperti maumu."


Al beranjak pergi dari kamar, lalu memerintahkan anak buahnya mencari rujak di manapun berada si penjual rujak.


Namun sampai satu jam menunggu, anak buahnya kembali dengan tangan kosong karena tidak di temukan penjual rujak. Akhirnya Al meminta bantuan Dokter Alan untuk membuatkan Emeli rujak. Al pun kembali menerintahkan anak buahnya untuk mencari buah buahan yang di minta Dr Alan.


Meski tidak komplit namun buah buahan tidak sulit di temukan. Kemudian Dr Alan membuatkan sambal rujak. Setelah selesau, Al langsung membawa rujak di dalam piring ke hadapan Emeli.


"Aku tidak mau, kelamaan!" seru Emeli.


'Oh my God!" Al menepuk keningnya sendiri mengumpat kesal.


"Aku mau kau ambilkan buah Jeruk di halamab rumah!" pinta Emeli.


"Baiklah, kau tunggu di sini. Biar anak buahku yang mengambilnya." Jawab Al kesal.


"Tidak! aku mau kau yang memanjat, aku ikut bersamamu!"


"Whatt??!" Mata Al melebar, hari ini ia benar benar di uji kesabarannya.


"Ayo cepat!" perintah Emeli.


"Baiklah!"


Al menarik tangan Emeli pelan, berjalan bersama menuju halaman rumah yang terdapat pohon jeruk. Sesampainya di halaman, tatapan anak buah Al diam diam tertawa kecil melihat Tuannya yang terkenal arogan bisa bersikap baik terhadap Emeli.


"Ayo naik!"


Al tengadahkan wajahnya menatap ke atas pohon, perlahan ia mulai memanjat dengan sangat hati hati. Sementara Emeli duduk di bawah pohon menunggu Al melemparkan buah jeruknya ke bawah.


"Emeli, tangkap! seru Al di atas pohon melempar satu buah jeruk ke bawah.


"Puk!"


Buah jeruk jatuh tepat di kaki Emeli, kemuduan ia memungutnya. "Emangnya enak aku kerjain."


"Emeli, apa sudah cukup?" tanya Al di atas pohon, duduk di salah satu dahan menatap ke bawah. Keringat bercucuran di wajah Al, capek ya. Tapi entah mengapa hari ini Al senang melakukannya. "Ya Tuhan, dia tertidur?"


Sementara anak buahnya dan Dr Alan mengintip di masing masing tempatnya memperhatikan Al dan Emeli. Terkadang mereka tertawa, melihat sikap Al yang jauh berbeda dari sebelumnya semenjak Emeli hamil