Baby Proposal

Baby Proposal
BP 35



Sore pukul 16,30.


Kediaman rumah Al terlihat sangat sepi dan tenang di lihat dari luar, hanya ada penjagaan ketat di setiap sudut halaman rumah. Selang beberapa menit, mobil Al dan anak buahnya terlihat memasuki halaman rumah. Selang beberapa detik, mobil lain memasuki halaman rumah.


"Al!"


Al menoleh ke arah suara, menatapnya jengah lalu membuang muka.


"Al tunggu, kau jangan marah dulu." Cindy menarik tangan Al. Di tangan kirinya membawa sebuah kado.


"Ada apa kau datang ke sini? aku tidak mengundangmu." kata Al ketus.


"Bisakah kita berteman? apa kau lupa siapa aku dulu di hidupmu?" tanya Cindy balik membuat Al terdiam. "Aku hanya ingin memberikan kado ini buat putramu."


"Bas Sreng! ambil kado di tangan Cindy lalu suruh dia pulang!" perintah Al.


"Baik Tuan!" sahut Bas Sreng.


"Tidak, tidak! bukan itu maksudku Al, aku ingin memberikannya dengan tanganku sendiri." Bujuk Cindy.


"Baiklah, aku izinkan kau bertemu putraku dalam tiga puluh menit, ingat itu baik baik."


Cindy sangat senang, ia berhasil membujuk Al. Lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah di temani Bas Sreng menemui Emeli dan putranya di kamar. Sesampainya di kamar, Bas Sreng mempersilahkan Cindy untuk masuk ke dalam kamar setelah mendapat izin dari Emeli.


"Apa kabarmu?" sapa Cindy menatap tajam Emeli yang berdiri di hadapannya, sementara bayinya tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.


"Seperti yang kau lihat," jawab Emeli menatap waspada pada Cindy.


"Sayang sekali ya, kau sudah menjadi istri Al. Tapi Al memperlakukanmu layaknya burung, masih sayang tidak di biarkan keluar. Tapi kalau sudah hilang sayangnya, dia akan membuangmu seperti yang di lakukannya padaku." Cindy meletakkan kado di atas meja.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Emeli.


"Hahaha, kau terlalu polos Emeli. Ayolah, kau tahu siapa Al? apa pekerjaannya? apa kau juga tahu? apa yang di lakukannya di luar bersama wanita lain?" ucap Cindy berusaha mempengaruhi Emeli.


"Masalahmu apa? kalau memang benar Al membuangmu, kenapa kau terkesan memaksakan diri untuk kembali pada Al?" balas Emeli, ia masing ingat saat Cindy membujuk Al untuk kembali.


"Oya? kau pikir aku takut? jadi kau datang kesini hanya untuk berkata hal hal yang tidak masuk akal." Sindir Emeli.


"Kau jangan sombong Emeli!" Cindy mulai geram lalu mencengkram dagu emeli. "Kau tidak tahu siapa aku bukan?"


"Aku tidak perduli denganmu, dan aku tidak perlu tahu, kau siapa. Apapun yang terjadi, aku akan tetap menjaga dan melindungi keluargaku apapun caranya, jadi lebih baik kau pergi dari rumahku!" Emeli menepis tangan Cindy lalu mendorong bahu wanita itu supaya menjauh darinya. Namun Cindy tidak terima, ia hendak menampar Emeli.


"Kurang ajar!" Tangan kanan Cindy di angkat namun sebelum sampai menyentuh pipi Emeli, Al mencengkram tangan Cindy lalu menghempaskannya dengan kasar.


"Jangan coba coba menyakiti istri dan outraku, sebaiknya kau pergi sebelum aku berbuat kasar!" ancam Al lalu menyeret paksa Cindy keluar dari kamar Emeli.


"Bas Sreng!"


"Ya Tuan!" sahut Bas Sreng yang berjaga jaga tak jauh dari kamar Emeli.


"Bawa wanita ini pergi, dan jangan biarkan dia masuk ke dalam rumahku lagi."


"Baik Tuan!"


"Al, kau akan menyesal!" ancam Cindy.


Namun Al tidak perduli dengan ancama Cindy, ia kembali masuk ke dalam kamar menemui Emeli.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Al.


"Aku baik baik saja, kau tidak perlu khawatir." Kata Emeli menatap tajam wajah Al. "Kau mandi dulu, setelah itu baru kau boleh bermain dengan putramu."


"Baiklah sayang!" sahut Al, mencium kening Emeli sesaat, lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.


Tatapan Emeli tertuju pada kotak hadiah yang di berikan Cindy, ia mendengar suara halus di dalam kotak itu dan mulai bergerak pelan.


"Apa isi kotak itu?" ucap Emeli pelan.