
Satu bulan berlalu, Emeli tinggal di rumah barunya. Ia masih menunggu Chimol mengumpulkan informasi tentang keberadaan Al. Emeli juga belum bepergian kemana mana, selain di rumah bersama putranya.
Saat Emeli tengah berdiskusi dengan Dr Alan dan Basreng, dari arah pintu terlihat Chimol sudah kembali dengan membawa beberapa dokumen yang berisi informasi tentang Al.
"Selamat siang Nona." Sapa Chimol membungkukkan badan sesaat, lalu meletakkan dokumen di atas meja. "Informasi yang Nona butuhkan." Kemudian Chimol duduk di kursi.
Emeli mengambil salah satu dokumen dan membukanya. Matanya terbelalak, membaca setiap isi dokumen itu.
"Takdir macam apa ini!" seru Emeli melemparkan dokumen itu ke atas meja. Lalu ia ambil dokumen lainnya, dan kembali membacanya.
"Jadi? Al memiliki perusahaan di sini? Wijaya Group." Emeli menyebutkan nama perusahaan yang di kelola Al.
"Benar Nona." Jawab Chimol.
"Ken? Al merubah namanya menjadi Ken." Kata Emeli.
"Benar Nona!" sahut Chimol lagi.
"Siapa ini?" Emeli menunjukkan sebuah foto seorang perempuan berparas cantik ke arah Chimol.
"Menurut informasi, wanita itu bernama Yuna. Putri salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan Tuan Al. Dan wanita itu tunangan Tuan Al." Jelas Chimol sedikit ragu karena takut membuat Emeli marah.
"Tunangan? ini gila, ini tidak bisa di biarkan!" ucap Emeli kesal. "Aku harus mencari celah supaya masuk ke perusahaan tersebut."
"Tenang Nona, ada kabar baiknya." Kata Chimol.
"Cepat katakan!" seru Emeli.
"Sahabat Nona, Clara dan Rangga sudah menikah. Dan kebetulan Clara bekerja di bagian HRD. Sepertinya Nona membutuhkan Nona Clara untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut,' ungkap Chimol.
"Clara? aha! cepat culik mereka berdua! aku ingin memberikan kejutan kepada mereka berdua.
"Culik?" sela Basreng tidak mengerti.
"Hahahaha!" Emeli tertawa terbahak bahak sambil menepuk keningnya sendiri. "Ya, buat drama penculikan, sekarang juga kerjakan!" perintah Emeli.
"Baik Nona!" sahut Basreng dan Chimol. Lalu keduanya beranjak dari kursi dan melangkah bersama keluar dari rumah menuju rumah Rangga dan Clara.
***
Membawa Clara dan Rangga dalam keadaan kedua matanya di tutup kain hitam. Lalu basreng dan Chimol memerintahkan dua sahabat Emeli untuk diam.
"Lepaskan aku! kalian siapa? apa salah kam!" teriak Clara ketakutan.
Kemudian Emeli memberikan kode kepada anak buahnya untuk membuka kain penutup mata Clara dan Rangga.
Clara dan Rangga mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di ruangan itu.
Clara matanya melebar, saat menangkap sosok wanita yang ia kenal.
"Emeli!!" Pekik Clara lalu berlari dan memeluk sahabatnya dengan erat. "Kurang kerjaan kau ya, mau bertemu saja pakai acara menculik!"
"Hahahahaha!" Emeli tertawa terbahak bahak, melepas pelukan Clara lalu berjalan menghampiri Rangga.
"Emeli.." sapa Rangga.
"Kalian ya, menikah tidak memberitahuku." Kata Emeli.
"Bagaimana mungkin aku berani, suamimu saja menakutkan!" umpat Clara masih kesal dengan Al.
"Hahahahaha!" Emeli kembali tertawa terbahak bahak. Kemudian ia terdiam cukup lama. "Aku membutuhkan bantuan kalian."
"Bantuan? bantuan apa?" tanya Clara bingung.
Emeli merangkul bahu Clara dan Rangga, kemudian mereka duduk di kursi, di temani Dr Alan, Basreng dan Chimol.
Emeli menceritakan apa yang terjadi selama ini kepada dua sahabatnya, termasuk keberadaan Al di perusahaan tempat Clara bekerja.
"Jadi itu Al? tapi namanya Ken? aku sempat berpikir kalau dia Al. Tapi dia tidak mengingatku dan Rangga. Makanya aku berpikir kalau pria itu memang Ken. Hanya wajahnya saja yang sama." Timpal Clara.
"Kau bisa membantuku?" tanya Emeli menatap penuh harap.
"Tentu saja, kau sahabatku. Kebetulan di sana membutuhkan sekretaris, karna bu Anisa mengundurkan diri tidak tahan dengan kecemburuan tunangan Ken." Jelas Clara lagi.
Emeli tersenyum mengembang, jalannya mulus dan ia bertekad untuk merebut Al kembali.