Baby Proposal

Baby Proposal
BP 30



Perut Emeli semakin besar, sekarang kehamilannya menginjak usia 7 bulan. Al sangat berhati hati memperlakukan Emeli, bahkan asisten rumah tangga beserta anak buahnya harus memperhatikan setiap langkah dan menyingkirkan benda apa saja setiap jalan yang di lalui Emeli.


Pagi pagi sekali Emeli sudah bangun dan terlihat rapi. Namun pagi ini ia tidak mendapati Al di kamarnya atau di ruangan manapun. Emeli bergegas keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Perlahan ia menuruni anak tangga, matanya tertuju pada seorang pria kepala asisten rumah tangga.


"Nona, perhatikan langkahmu!" seru pria tersebut yang biasa di panggil Paman Sen Duok.


"Iya Paman, kau tidak perlu khawatir." Sahut Emeli tersenyum sambil memperhatikan anak tangga hingga akhir.


"Mari saya bantu Nona!" Sen Duok mengulurkan tangannya.


Emeli tertawa kecil lalu menyambut uluran tangan Sen Duok. Bak Putri Raja, mereka memperlakukan Emeli dengan sangat hati hati. Jika terjadi sesuatu pada Emeli, maka nyawa taruhannya.


Sepanjang jalan menuju ruang tamu, anak buah Al berjajar rapi dan memberikan hormat kepada Emeli hingga pintu ruangan makan. Kemudian Sen Douk mempersilahkan Emeli duduk di kursi .


Dokter Alan tengah sibuk memeriksa semua makanan yang tersaji di meja makan sebelum di konsumsi Emeli. Setelah di pastikan semua makanan itu aman, kemudian Dr Alan mempersilahkan asisten rumah tangga untuk menyiapkan segalanya.


"Paman Sen Duok, Dr Alan. Apakah kalian melihat Al?" tanya Emeli.


"Tuan Al sudah pergi sejak satu jam yang lalu, mungkin Tuan ada urusan." Jawab Sen Duok.


Terdengar suara langkah kaki mendekat, Emeli menoleh ke arah pintu ruangan. Nampak Cindy tengah berjalan menghampirinya.


"Wow, lihatlah! wanita kampung yang entah dari mana asal usulnya berubah seperti seorang putri!" ejeknya pada Emeli.


"Jaga mulut Anda!" sela Dr Alan menatap tajam Cindy.


"Sebaiknya Nona pergi, dan jangan mengganggu Nona kami!" timpal Sen Duok.


"Tolong kerjasamanya Nona!" seorang wanita yang bernama Wa Jyan menimpali.


"Harusnya aku yang duduk di sana, bukan dia!" tunjuk Cindy ke arah Emeli yang acuh tak acuh menanggapi perkataan Cindy. Bagi Emeli, hinaan seperti itu sudah biasa ia terima sewaktu masih menjadi istri Nathan dulu.


"Nona, jangan sampai kami berbuat kasar!" seru salah satu anak buah Al yang bernama Bas Sreng.


"Anda sudah keterlaluan, ini perintah Tuan Al. Siapapun yang menyakiti Nona Emeli maka kami akan berlaku kasar!" Bas Sreng berucap dengan tegas.


"Lepaskan!" seru Cindy. "Aku adukan kalian pada Al!"


"Kau yang pergi Cindy!"


Emeli dan yang lain menoleh ke arah Al yang baru saja pulang dan berdiri di ambang pintu.


"Al? kau?" sapa Cindy.


"Ya, kau pergilah dari rumahku. Aku sudah tidak mengharapkanmu lagi." Ucap Al dingin.


"Kau keterlaluan, Al!! Al!!"


Bas Sreng menyeret paksa Cindy keluar dari ruangan, lalu Al duduk di sebelah Emeli. Tak lama kemudian Bas Sreng kembali keruangan karena Bas Sreng di tugaskan untuk menjaga Emeli.


"Makanlah.." ucap Al.


"Makanan sebanyak ini cuma kita berdua?" tanya Emeli.


"Lalu siapa lagi?" tanya Al balik.


"Dr Alan, Paman Sen Duok, Bibi Wa Jyan dan kau Paman Bas Sreng, duduklah bersamaku. Kita makan bersama!" pinta Emeli.


"Tidak Nona, tempat kami bukan di sini." Sen Duok membungkukkan badan sesaat.


"Al, ayolah!" Emeli memohon supaya mereka duduk bersama untuk sarapan.


"Kalian! ayo duduk di kursi masing masing. Kita sarapan!" ajakan Al membuat mereka senang sekaligus takut kemarahan Al.


Namun kali ini Al mau mengalah dan menurunkan sisi arogannya demi Emeli. Akhirnya untuk pertama kali, Al makan satu meja dengan bawahannya. Emeli tersenyum bahagia bisa makan bersama sama mereka. Al menarik napas dalam dalam memperhatikan Emeli. Ada rasa hangat menjalar di hatinya, selama ia berumah tangga dengan Cindy tidak pernah ia menemukan kehangatan seperti yang Emeli tawarkan.