
Al duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan wajah Emeli yang sudah tertidur pulas. Tangan Al terulur mengusap lembut perut Emeli dan tersenyum kembali menatap wajah Emeli.
"Kau cantik, tapi sejauh ini aku belum tahu asal usulmu. Apakah kau masih memiliki keluarga di Indonesia?" gumam Al pelan.
Al beranjak dari duduknya, lalu mengambil mantel coklat yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia bergegas melangkah pergi dari kamarnya sambil menggunakan mantelnya menemui anak buah Al yang berada di halaman rumah.
"Siapapun yang datang ke rumahku, tanpa seizinku tidak di perbolehkan masuk. Kalian paham?!!"
"Siap Tuan!!" jawab anak buah Al serempak.
Kemudian Al masuk kembali masuk ke dalam rumah di ikuti Bas Sreng dari belakang menuju ruang kerja Al. Baru saja mereka duduk di kursi, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu ruangan.
"Tok tok tok!!"
"Masuk!" sahut Al.
Pintu terbuka, seorang pria yang bernama Chi Moul berjalan menghampiri mereka. Di tangannya membawa sebuah dokumen yang di butuhkan Al. Chi Moul sendiri orang kepercayaan yang sudah mengabdi padanya selama bertahun tahun.
Chi Moul membungkukkan badan sesaat, lalu ia duduk di kursi. "Tuan, informasi yang anda butuhkan."
Al mengambil dokumen yang di sodorkan Chi Moul. Lalu ia membuka dokumen itu dan membacanya perlahan. Diam diam Al mencari identitas tentang Emeli dan memerintahkan Chi Moul mencari informasi tentang wanita yang ia nikahi bersamaan dengan kedua sahabat Emeli yang di antar langsung ke Indonesia.
"Orlean Corps?" ucap Al menatap tajam ke arah Chi Moul.
"Nona Emeli adalah putri tunggal dari istri pertama hasil pernikahan Tuan Sam Yun Fak dan Nyonya Alice." Jawab Chi Moul.
"Sam Yun Fak pemilik perusahaan Orlean Group yang tergabung di bursa efek se Asia?" ucap Al lagi.
"Ada lagi Tuan."
"Apa?" tanya Al.
"Nona Emeli sama sekali tidak pernah mengetahui tentang orang tuanya, setelah Nyonya Alice bercerai dan menitipkan Nona Emeli kepada adik kandung Nyonya Alice." Jelas Chi Moul.
"Jadi? Emeli?"
"Menurut kabar yang saya dapatkan, Tuan Sam Yun Fak tengah mencari Nona Emeli." Jelas Chi Moul lagi.
"Menarik, ternyata istriku bukan wanita biasa." Al menutup kembali dokumen itu. "Seingatku, dua perusahaan besar itu bertikai memperebutkan siapa yang menjadi hak waris atas perusahaan tersebut."
"Tuan, ini tidak akan mudah. Kita tidak hanya menghadapi Tuan Jimi yang sudah lebih dulu mengetahui dan mengenal Nona Emeli, tapi Tuan Jimi akan merebut Nona Emeli dari tangan Anda." Ungkap Chi Moul.
"Jimi?" tanya Al.
"Tuan masih ingat? saat Nona Emeli dan dua sahabatnya terjebak di markas kita? kedatangan mereka untuk mencari Jimi."
"Aku paham, Jimi menggunakan Clara untuk menjebak Emeli datang ke markasnya. Tapi, sayangnya aku lah yang pertama menemukan Emeli." Timpal Al tersenyum mengembang.
"Benar Tuan!" sahut Chi Moul.
"Tidak akan kubiarkan siapapun mengambil Emeli dari tanganku, akan kuperjuangkan meski nyawa taruhannya."
"Tuan jangan melupakan Nona Cindy dan keluarganya. Mereka Bangsawan terhormat yang akan melakukan apa saja demi nama baik mereka." Sela Bas Sreng.
"Aku tahu." Al berdiri. "Hari hari kita akan melewati hal yang berat. Aku harap kalian waspada, tingkatkan penjagaan dan kau Bas Sreng jangan biarkan Emeli keluar dari rumah jika aku tidak ada."
"Baik Tuan!" jawab mereka serempak.
Perlahan Al membuka pintu kamar, ia tidak ingin membuat Emeli terbangun dari tidurnya. Namun saat pintu terbuka, ia terkejut melihat Emeli tengah duduk di lantai memegang pisau dan buah mangga yang masih muda. Al sediakan semua itu buat Emeli meski ia harus memerintahkan anak buahnya membeli buah mangga muda itu dari Negara lain.
"Emeli, kau sedang apa?" tanya Al sambil menutup pintu lalu berjalan menghampiri Eneli dan duduk di sampingnya.
"Buka bajumu!" perintah Emeli.
"Iya sayang, maaf aku lupa." Jawab Al melepas mantelnya lalu di letakkan di atas lantai.
"Aku sudah bilang, jangan pakai baju kalau di rumah." Rutuk Emeli kesal menatap marah.
"Maaf, tidak akan kuulangi." Ucap Al, lalu matanya tertuju pada buah mangga muda yang belum pernah ia coba makan.
"Kau mau?" tawar Emeli.
"Tidak, terima kasih." Jawab Al, tiba tiba giginya ngilu.
Emeli terdiam, melirik sesaat ke arah Al. "Ayolah, putramu menginginkan kau untuk makan buah ini." Bujuk Emeli.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Al.
"Coba kau pegang, kalau bergerak itu tandanya putramu menginginkan kau makan buah ini." Bujuk Emeli sambil menunjuk ke arah perutnya.
Al mengulurkan tangannya, menyentuh perut Emeli. Al tertawa lebar, karena merasakan pergerakan bayi dalam kandungan Emeli.
"Kau benar, putraku bergerak. Ternyata dia tahu kalau aku menyentuhnya!" seru Al tertawa bahagia.
"Ish dasar mafia kampungan, jelas bergerak bayinya. Sudah menginjak tujuh bulan." Umpat Emeli dalam hati.
"Kenapa kau diam?" tanya Al.
"Tidak, ayo cobain. Enak kok rasanya manis.." bujuk Emeli lagi.
Kemudian Emeli mengupas mangga itu lalu memotongnya sedikit. Ia berikan pada Al supaya memakannya.
Al terdiam menatap potongan mangga di tangan Emeli, melirik sesaat ke arah Emeli lalu membuka mulutnya.
"Habisin, jangan di muntahkan! perintah Emeli lalu memasukkan potongan mangga ke mulut Al.
Al mengangguk lalu menutup mulutnya. Sesaat dia terdiam, lalu terdengar bunyi.
"Keletuk"
Mata Al terpejam, mulutnya menganga dan begidik merasakan asam yang luar biasa di mulutnya.
"Hasam He, meli.." ucap Al tidak jelas apa yang di ucapkan.
Emeli tertawa terbahak bahak, lalu ia letakkan pisau dan buahnya di atas piring. Kedua tangannya terulur menutup mulut Al supaya tidak di muntahkan potongan mangga yang sudah terlanjur di kunyah Al.
"Habiskaan..kau tidak boleh membuangnya." Ucap Emeli terus menutup mulut Al.
Dengan sangat terpaksa, Al mengunyahnya lalu ia telan. Emeli tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Al. Al ikut tertawa lalu memeluk erat tubuh Emeli dan mencium puncak kepalanya.
"Aku mencintaimu Emeli.." ucap Al dalam hati.