
Sesampainya di rumah, Clara meminta Emeli untuk mengobati bekas luka lebam di wajahnya dengat batu es. "Aww, sakit!" erang Clara menyentuh sudut bibirnya yang lebam.
Emeli menatap tajam wajah Clara, "aku tidak habis pikir, kau terlihat nyaman dengan pria seperti itu."
Clara tertawa kecil, lalu meringis saat tangan Emeli menekan keningnya dengan kain basah. "Pelan pelan!"
"Dia memang tampan, tapi apa selamanya kau akan bertahan seperti ini?" Emeli menggelengkan kepalanya.
Clara hanya tertawa kecil, "aku mencintainya."
Gerakan tangan Emeli terhenti di bibir Clara. "Apa? Cinta?!"
"Awwww! pekik Clara, karena Emeli menekan bibirya dengan kain cukup keras.
Emeli tertawa kecil melihat raut wajah Clara yang cemberut. " Maaf, maaf."
"Sakit tahu! sungut Clara.
Setelah di rasa cukup, Emeli berdiri membereskan kain dan wadah berukuran kecil di atas meja. Lalu ia kembali duduk di sebelah Clara. " Aku tidak mau bekerja di club itu." Emeli menundukkan kepalanya.
"Lalu? kau mau kerja apa?" Clara melirik sesaat ke arah Emeli.
"Mungkin, aku pulang kerumah Tante." Emeli menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Sudahlah, buat apa diambil pusing. Kau tinggal di sini saja bersamaku." Clara menepuk bahu Emeli sekilas.
"Tapi, aku tidak mau merepotkanmu." Emeli tersenyum pada Clara.
"Tidak.." Clara merangkul bahu Emeli.
"Terima kasih." Emeli memeluk tubuh Clara sesaat.
"Sebaiknya kau istirahat." Emeli menepuk lengan Clara.
Clara menganggukkan kepala, ia berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Emeli menghela napas panjang, lalu ia berdiri dan pergi ke kamarnya. Tiba tiba ponsel miliknya berbunyi. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka layar ponsel dan terpaku sesaat.
"Nathan?" Emeli duduk di tepi tempat tidur membuka pesan dari Nathan. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakit kembali menyeruak di dalam dadanya terasa panas. Matanya mulai merembes saat membaca pesan dari mantan suaminya
"Sayang, malam ini aku tidak dapat tidur. Mungkin kau berpikir aku tengah menikmati malam pernikahanku. Kau salah besar Emeli. Aku sama sekali tidak bisa bersamanya, tidak bisa sayang. Aku sangat mencintaimu, tanpa kau di sisiku perlahan membunuhku. Emeli sayangku, aku merindukanmu."
Tangan Emeli menggenggam erat ponselnya, dengan air mata berlinang membasahi pipinya. Ia menjerit tanpa suara, tubuhnya melorot ke bawah lantai dan duduk mendekap erat kedua lututnya. Ia menangis sesegukan menbenamkan wajahnya di kedua kakinya.
Tung! ponsel miliknya berbunyi lagi. Ia angkat wajahnya dan membuka layar ponsel membuka pesan kedua dari Nathan. Emeli tak dapat menahan rasa perih di hatinya saat Nathan mengirim foto selfi di taman sendirian.
Tung! ponselnya kembali berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Emeli tidak ingin membacanya lagi. Tapi rasa tidak pernah berbohong jika ia masih mencintai Nathan. Perlahan ia membuka pesan dari Nathan.
"Emeli, aku tahu kau membaca pesanku. Kenapa kau diam saja sayang. Katakan sesuatu, aku ingin bertemu denganmu. Emeli sayang, apa kau baik baik saja? sayang, jangan sampai kau telat makan. Kalau kau sakit siapa yang akan merawatmu. Emeli..aku mohon balas pesanku. Jangan kau diam saja. Aku tahu, kau masih mencintaiku.
Air matanya turun saling memburu membasahi pipinya. "Kau egois Nathan, kau egois..." ucap Emeli lirih. Perlahan ia bangun lalu naik ke atas tempat tidur, meringkuk tangannya mendekap ponsel yang terus berbunyi. Tubuhnya gemetar menangis dan membenamkan wajahnya di bantal berteriak sekencang kencangnya untuk melepaskan beban di dalam dada yang serasa menghimpitnya. Hingga tak terasa ia pun tertidur hingga pagi menjelang.
Hari itu ia memutuskan untuk pulang ke rumah tantenya. Ia tidak ingin merepotkan Clara. Rasanya tidak enak harus menumpang hidup pada orang lain.
Pagi pagi sekali Emeli sudah mengemas pakaiannya ke dalam koper kecil. Lalu ia menemui Clara. "Kau mau kemana Emeli?" Clara memperhatikan koper yang Emeli bawa.
Emeli menundukkan kepalanya sesaat. "Clara, aku mau pulang ke rumah."
"Loh?" Clara berdiri mendekati Emeli. "Kenapa? bukankah suami dan Ibu mertuamu jahat?" tanya Clara bingung dengan keputusan Emeli yang tiba tiba.
"Ya memang, tapi aku tidak enak di sini terus," Emeli duduk di kursi, di ikuti Clara ikut duduk di kursi.
"Ayolah Emeli, kita sahabat. Kau bisa tinggal di sini sesukamu." Clara terus membujuk Emeli untuk tetap tinggal.
"Tapi-?"
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kau tetap di sini!" seru Clara. Wanita itu berdiri mengambil koper lalu ia membawa koper itu kembali dan di letakkan di kamar Emeli. Setelah itu ia kembali duduk di kursi.
"Tidak usah bertingkah aneh aneh, tetap di sini." Clara berdiri menatap Emeli. Lalu ia berjalan memasuki kamarnya. Emeli hanya diam terpaku duduk di kursi.
Namun Emeli tetap keukeuh dengan keputusannya untuk pulang kerumah. Lalu ia berjalan ke kamar Clara. "Aku akan sering main ke sini Clara."
Clara menarik napas dalam dalam. Ia tidak tega dengan sahabatnya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Emeli masih istrinya Nathan. Dan punya kewajiban untuk tetap tinggal di rumah Nathan meski itu menyakitkan hati.
"Dengar Emeli, kau harus menentukan pilihan. Apa kau mau? terus terusan hidup seperti itu?" tanya Clara.
"Aku tahu, Clara." Emeli menundukkan kepala. "Jujur aku takut untuk membuat sebuah pilihan, tapi melihatmu. Aku yakin, suatu hari nanti aku bisa mengambil keputusan besar untuk hidupku sendiri." Emeli tersenyum tipis. Lalu merwntangkan kedua tangannya memeluk Clara dengan erat.
"Dengar, hidup ini tidak selalu sesuai keinginanmu. Kau harus jadi wanita tangguh. Kau paham?" Clara melepas pelukannya. "Kalau kau mau pulang, ya sudah. Aku tidak bisa melarangmu."
Emeli menganggukkan kepalanya, sekali lagi ia memeluk erat sahabatnya. "Terima kasih."
Kemudian Emeli beranjak pergi menuju kamarnya, mengambil koper tadi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Clara. Emeli menyeret kopernya berjalan dengan langkah gontai. Kepalanya tertunduk, sebenarnya ia enggan untuk kembali ke rumah itu lagi, tapi ia masih berstatus istri Nathan. Meski berkali kali Emeli meminta cerai tapi Nathan tidak mau meluluskannya. Haruskah ia pergi meninggalkan Nathan? Emeli bingung harus berbuat apa.
Emeli mengangkat wajahnya menatap ke jalan raya, lalu ia berjalan menuju pangkalan ojeg. Baru saja Emeli sampai. Ternyata Clara menyusulnya lalu mengantarkan Emeli sampai di depan rumah Nathan yang masih terlihat sepi. Setelah memastikan Emeli sampai di rumahnya, Clara kembali menjalankan mobilnya kembali ke rumahnya. Sementara Emeli langsung masuk ke dalam rumah.