Baby Proposal

Baby Proposal
BP 21



Di ruang tahanan Clara terus merajuk kepada Arga supaya mencari jalan keluar untuk bebas. Sementara Arga sendiri tidak tahu harus bagaimana, ia tidak menyangka jika niatnya membantu Clara malah terperangkap di sarang mafia.


Namun Emeli lebih bisa bersikap tenang, meratapi yang sudah terjadi tidak ada gunanya, yang ia pikirkan saat ini bagaimana caranya bisa melarikan diri.


"Sudah kubilang, Jimi itu bukan orang baik. Clara!" ucap Emeli.


"Emeli benar, siapa tahu Jimi lah yang menjebak kita masuk ke sarang mafia. Buktinya alamat yang dia berikan palsu." Timpal Arga kesal.


"Ahh sudahlah! mau sampai kapan kalian menyalahkanku. Ayo pikirkan sesuatu!" Clara tidak mau di salahkan atas keteledorannya yang tidak mau mendengar nasehat Arga.


"Ceklek!"


Suara pintu di buka dari luar, Clara langsung berdiri di belakang tubuh Arga menatap ke arah pintu. Pintu tahanan di buka, nampak dua orang pria bertubuh kekar memegang senjata api laras panjang lalu memerintahkan mereka untuk keluar dari ruang tahanan.


"Ikut kami!" perintah salah satu pria sambil mengarahkan senjata apinya kepada mereka.


"Tenang tuan, jangan kasar kasar!" seru Emeli menatap tajam pria tersebut.


"Jalan!" perintahnya lagi.


Kemudian Clara, Arga, dan Emeli berjalan bersama saling berpegangan tangan mengikuti langkah pria di depannya menuju ruang bawah tanah. Sesampainya di ruang bawah tanah, mereka di buat tercengang dengan pemandangan yang tak biasa. Terlihat sekitar dua puluh wanita cantik dan bertubuh putih mulus hanya menggunakan pakaian dalam, berdiri berjajar rapi membusungkan dada menghadap ke arah pria muda yang duduk di sofa di kelilingi anak buahnya. Tidak hanya itu, terdapat dua orang Dokter dengan peralatan medis di atas meja berukuran besar. Di pojok ruangan terlihat sosok pria tinggi besar berwajah buruk dengan kedua kaki di ikat rantai.


"Tuan Al, semua sudah siap." Ucap salah satu anak buahnya membungkuk hormat di depan pria muda bernama Al.


"Dokter!" seru Al menoleh ke arah dua Dokter yang berdiri kaku di hadapan para wanita itu. Kemudian Al berbisik pada salah satu anak buahnya yang berdiri di samping kiri. Tak lama kemudian pria itu berjalan menghampiri Emeli dan juga Clara. pria itu meminta Emeli dan Clara menanggalkan pakaiannya kecuali pakaian dalam.


Mata Emeli dan Clara melebar mendengarkan permintaan pria tersebut. Tentu saja Emeli menolak keras untuk menanggalkan pakaiannya.


"Kurang ajar! kau pikir siapa hah??!" bentak Emeli namun tidak di mengerti pria tersebut.


"Klikk!"


Pria tersebut mengarahkan senjata api di kening Arga, sebagai ancaman jika Emeli dan Clara menolak membuka pakaiannya. Mau tidak mau, akhirnya Clara menuruti permintaan pria tersebut begitu juga dengan Emeli. Arga hanya bisa memejamkan mata, tidak ingin melihat kedua wanita yang pernah ada di hatinya hanya menggunakan pakaian dalam dan di lihat oleh pria lain.


"Jalan!" perintah pria itu meminta Emeli dan Clara berdiri sejajar dengan wanita lainnya.


Pria muda yang bernama Al itu tersenyum sinis memperhatikan tubuh Emeli yang berbeda dengan wanita lainnya, Emeli memiliki kulit kuning langsat ciri khas orang Indonesia.


Emeli sendiri merasa jijik dengan tatapan Al yang tak berkedip sedikitpun.


"Apa sebenarnya maksud pria brengsek itu?" tanya Emeli di dalam hatinya.