
Selama seharian di kerjain oleh istrinya. Al tertidur pulas di samping Emeli. Tanpa menggunakan pakaian hanya celana panjang saja yang Al kenakan sesuai permintaan Emeli.
Emeli duduk di atas tempat tidur memperhatikan wajah Al, hanya satu kata dalam pikiran Emeli. Tampan!
Namun Emeli teringat kedua sahabatnya Clara dan Arga, ada keinginannya untuk bertanya di mana mereka berdua. Emeli sangat merindukan Clar juga Rangga.
"Hei, bangun sebentar.." ucap Emeli pelan.
Emeli berkali kali menepuk pipi Al supaya bangun. "Bangun.."
"Aku capek!" bentak Al, tangannya menepis tangan Emeli dengab kasar.
"Huwaaaaaa!!!" Emeli berteriak dan pura pura menangis.
Al langsung bangun dan menenangkan Emeli.
"Maaf aku tidak sengaja, Emeli jangan menangis nanti bayi kita juga ikut sedih." Ucap Al pelan.
"Huwaaaaaaaaa!!!"
"Oke, tenanglah. Sekarang katakan, apa maumu?" tanya Al.
"Aku mau goreng bakwan anget.." ucap Emeli pelan.
"Bakwan? bakwan apa? Ya Tuhan..bisa tidak? permintaanmu yang mudah aku jangkau?" Sahut Al.
"Aku mau bakwaann!"
"Oke, aku buatkan." Jawab Al.
"Aku mau bakwan buatan sahabatku, Clara dan Arga.
"Whattt???!" Al menepuk keningnya sendiri.
"Itu tidak mungkin Emeli, sahabatmu sudah kukirim ke Indonesia." Jawab Al.
"Appaaaa?? sudah pulang? dan kau menahanku di sini??" Kini Emeli yang terkejut, ia tidak menduga jika dua sahabatnya sudah pulang.
"Hhhh, ayolah Emeli. Yang lain, aku tidak mungkin mendatangkan mereka ke sini."
"Aku punya satu permintaan, apakah kau akan mengabulkannya?" tanya Emeli.
"Apapun, demi putraku!" sahut Al sambil mengusap perut Emeli yang mulai terlihat membesar.
"Aku ingin pulang ke Indonesia." pinta Emeli.
Al menarik tangannya, raut wajah Al berubah dingin menatap Emeli tajam.
"Tidak kuizinkan kau pulang ke Indonesia sebelum kau melahirkan putraku." Jawab Al lalu turun dari atas tempat tidur.
"Itu artinya, kau akan membuangku setelah aku melahirkan? kau akan memisahkanku dengan putraku? jawab Al!!" seru Emeli.
Al melirik sesaat ke arah Emeli. "Aku tidak tahu!" sahut Al.
Emeli langsung turun dari atas tempat tidur lalu memukul tubuh Al sekenanya.
"Kau pikir aku benda? setelah kau pakai lalu kau buang!" ucap Emeli marah.
"Cukup!" bentak Al menegang kedua tangan Emeli.
"Benda saja memiliki harga, apalagi manusia!!" pekik Emeli menatap marah wajah Al.
Al menarik bahu Emeli lalu memeluk tubuhnya dengan erat. "Tenanglah..sekarang kau istirahat. Ini sudah larut malam, kasihani bayi kita."
Emeli melepaskan pelukannya, lalu mengambil bantal dan selimut, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Ia lemparkan bantal dan selimut itu.
"Kau tidur di sini cepat!" perintah Emeli.
Al hanya diam, lalu melangkahkan kakinya mengikuti perintah Emeli. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian Emeli menutup pintu kamar mandi dan kembali ke tempat tidurnya
"Bagaimana kalau Al hanya menginginkan anaknya saja? lalu aku dan putraku? tidak, aku tidak mau. Ini putraku juga, aku ibunya dan akulah yang berhak." Gumam Emeli pelan.
Sementara Al yang berada di kamar mandi duduk di atas selimut.
"Wanita selalu perasaan yang di dahulukan..lama lama aku bisa gila menghadapi Emeli." Al tertawa kecil.
"Asal kau tahu Emeli, sampai kapanpun tidak kuizinkan kau pergi dari sisiku.."