
Emeli dan dua sahabatnya di bawa ke sebuah mansion. Mata mereka di tutup, supaya tidak tahu jalan. Yang mereka rasakan, saat mobil belok atau berjalan lurus. Hingga mereka merasakan mobil yang mereka tumpangi berhenti melaju. Terdengar suara pintu mobil di buka. Lalu mereka merasakan tangan mereka di seret paksa untuk berjalan. Langkah mereka terhenti, terdengar suara pintu di buka. Kemudian mereka di dorong masuk ke dalam ruangan.
Satu persatu penutup mata mereka di buka. Clara dan yang lain mengucek matanya menyesuaikan dengan cahaya di dalam ruangan itu. Clara mundur berdiri di belakang tubuh Arga, sementara Emeli berkali kali mengerjapkan mata menatap satu persatu pria paruh baya yang tengah duduk di sofa mengelilingi meja berukuran besar, nampak botol minuman berjajar di atas meja. Di antata pria paruh baya yang berjumlah enam orang, nampak seorang pria muda menggunakan kemeja putih, hidungnya mancung mirip pinokio. Emeli mengusap hidungnya sendiri yang tak semancung pria itu. Emeli berjengkit kaget saat pria muda tersebut berdehem menatap tajam Emeli. Selangkah ia mundur ke belakang, saat melihat pria muda itu berjalan mendekati mereka.
Emeli terdiam mendengarkan pria muda itu berbicara dengan pria yang membawanya ke tempat itu. Emeli maupun Clara mengerti bahasa yang di gunakan, tapi mereka tidak tahu cara menjawabnya. Tak lama pria muda itu berbicara dengan Arga menggunakan bahasa asing. Terlihat pria muda itu marah pada pria lainnya.
"Bawa mereka dan sekap di ruang bawah tanah!" perintah pria muda itu.
Clara dan Arga terlihat panik, namun Emeli berusaha bicara dengan pria muda itu meski ia sendiri tidak tahu.
"Hei, hei tuan. Tolong maafkan kami. Kami janji akan tutup mulut," ucap Emeli, tangannya di lipat memohon untuk tidak di kurung.
Pria muda itu tercenung memperhatikan bibir Emeli dan tangannya yang di lipat. Ia tertawa kecil, menoleh ke arah teman temannya sekilas.
"Aku mengerti maksudmu, Nona."
"Hei, penipu! kau bisa bahasa Indonesia. Kenapa tidak dari tadi! sungut Emeli kesal, kaki kanannya menendang kaki kiri pria muda tersebut. Membuat pria itu tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Emeli yang cemberut.
"Emeli, hati hati," bisik Clara di telinga Emeli.
"Ya aku tahu." Balas Emeli berbisik pelan.
"Aku mau pulang," ucap Clara bicara pelan pada Arga yang hanya diam.
"Ini semua gara gara kecerobohanmu." Arga berucap pelan. Namun pernyataan Arga membuat Clara sedikit emosi.
"Terus aku harus salahin Emeli? bukankah kau yang ingin mencari Jimy?!" balas Arga kesal.
"Jimy?" ucap pria itu menatap ke arah Arga yang celingukan mendapat tatapan tajam pria itu.
"E, anu.." ucap Arga gugup. "Kami mencari sahabat kami yang bernama Jimy."
Arga menjelaskan kedatangannya ke Chicago menggunakan bahasa asing, lalu ia menunjukkan foto Jimy pada pria itu.
"Jimy.."
"Kau kenal Jimy!" seru Clara senang.
"Ada hubungan apa kau dengan Jimy?" tanya pria itu menatap tajam Arga dan dua sahabatnya.
"Dia pacarku!" sela Clara antusias.
Tiba tiba raut wajah pria itu berubah murung dan dingin. Ia balik badan melangkahkan kakinya kembali duduk di sofa.
"Bawa mereka di kamar tempat tahanan!" perintah pria itu pada anak buahnya.
"Tuan, tuan, tolong lepaskan kami!" pekik Emeli.
Namun mereka terus menyeret paksa Arga dan yang lain keluar dari ruangan.