Baby Proposal

Baby Proposal
BP 15



Pagi itu, Emeli masih bergelung dalam selimut. Wanita itu enggan untuk bangun dari tempat tidur. Ia masih memikirkan kejadian kemarin. Dengab mudahnya Nathan menceraikannya hanya karena tidak memiliki keturunan selama menikah dengannya.


"Ayolah Emeli, untuk apa memikirkan pria yang tidak bisa berjuang bersamamu." Gumam Emeli memotivasi dirinya sendiri.


Perlahan ia menarik selimut, menatap langit langit kamar. "Untuk apa kau menagisi pria yang sama sekali tidak bisa bersikap tegas untuk dirinya dan kebahagiaannya sendiri."


"Tok! Tok! Tok!"


Lamuna Emeli buyar saat, pintu di ketuk cukup kencang dari arah luar.


"Sebentar!


Perlahan Emeli turun dari atas tempat tidur, berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Matanya menatap Clara yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah sedih.


" Kau kenapa?" tanya Emeli kedua alisnga bertaut menatap wanita di hadapannya.


"Jimy.." ucap Clara pelan.


"Jimy? kenapa dengan dia?" tanya Emeli malas, setiap membicarakan pria itu.


"Jimy menghilang.." Clara mengangkat wajahnya menatap Emeli.


"Hilang?" Emeli terdiam, lalu detik berikutnya ia tertawa lebar, membuat Clara kesal.


"Ya ampun Clara, dia sudah dewasa. Siapa juga yang mau menculiknya? rugi kali," sungut Emeli menggoda Clara.


"Aku serius." Clara menutup mulut Emeli dengan tangannya.


"Jimy hilang di rumahnya, bahkan ia tidak ada di mana mana. Aku sudah mencarinya ke semua tempat yang biasa ia datangi." Clara menarik tangannya.


"Clara, mungkin dia sembunyi, atau bagaimana." Emeli berjalan masuk kembali ke kamar lalu duduk di tepi tempat tidur, di ikuti Clara dari belakang.


"Aku menemukan ini." Clara menunjukkan ponsel milik Jimy yang tertinggal di kamarnya. Lalu ia membuka layar ponsel, dan menunjukkan sebuah video pada Emeli.


Dalam video itu terlihat jelas telah terjadi penganiayaan terhadap Jimy. Namun anehnya, pria itu menghilang bak di telan bumi.


"Oke, begini saja. Hari ini aku kerja sehari lagi. Besok kita cari Jimy sampai ketemu, bagaimana?" usul Emeli.


"Baiklah," sahut Emeli kembi menutup ponsel.


***


Waktu terus berlalu, Emeli telah selesai dengan pekerjaannya. Ia bergegas ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia bergegas keluar Cafe. Sore ini Emeli berniat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nathan. Setelah perceraian kemarin. Emeli mendapat kabar kalau Nathan masuk rumah sakit lagi. Meskipun ia sudah bercerai dengan Nathan, tapi Emeli tidak ingin menjalin hubungan yang buruk dengan Nathan. Apalagi besok pagi, Emeli akan di sibukkan untuk mencari Jimy.


"Emeli!"


Emeli menoleh ke belakang, nampak Arga berjalan mendekatinya.


"Ya Pak?" tanya Emeli.


"Kau tidak perlu panggil aku, Pak. Kecuali jam kerja. Bukankah ini di luar jam kerjamu?" Arga tersenyum samar menatap Emeli.


"Baik Pa, eh Ga." Emeli tertawa kecil, ia merasa kikuk dengan permintaan Arga.


"Oya, aku antarkan kau pulang." Arga menarik lengan Emeli.


"Tidak, Ga. Aku mau ke rumah sakit." Emeli menurunkan tangan Arga.


"Rumah sakit?"


Emeli mengangguk, "ya, aku mau jenguk Nathan yang tempo hari itu."


Emeli terdiam sesaat, "apa tidak merepotkan?"


"Ayolah Emeli, biasa saja." Arga kembali menarik lengan Emeli dan berjalan menuju mobil. Arga membukakan pintu depan mobil untuk Emeli. Kemudian Arga masuk lewat pintu mobil yang lain setelah memastikan Emeli duduk dengan tenang.


Arga melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Arga sering melirik ke arah Emeli yang hanya diam saja.


"Emeli."


Emeli menoleh ke arah Arga, "ya?"


"Kau tidak ingin menikah lagi?" tanya Arga.


"Menikah?" mata Emeli melebar menatap Arga yang terlihat canggung.


"Oh, bukan, bukan itu maksudku." Arga menjadi sangat kikuk.


Emeli tertawa melihat Arga yang salah tingkah. "Aku belum bisa membuka hatiku untuk yang lain saat ini."


Arga terdiam, melirik sesaat ke arah Emeli. "Oh, begitu."


Emeli menganggukkan kepala, "kau sendiri?" tanya Emeli balik.


"Iyalah kau, masa orang lain." Emeli kembali tertawa, sudah lama ia tidak seperti sekarang. Arga pria baik dan lembut, ia tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Tapi Emeli tidak menaruh hati padanya.


"Belum ada gadis yang cocok untuk calon Ibu dari anak anakku." Arga tersenyum tipis melirik ke arah Emeli.


"Ih lebay!" sahut Emeli menepuk pundak Arga yang tengah menyetir.


Emeli menatap Arga cukup lama, hingga membuat Arga semakin tertarik pada Emeli. "Kita sudah sampai." Arga menepikan mobilnya.


"Ah iya." Emeli melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil bersamaan dengan Arga juga ikut keluar dari pintu mobil. Mereka berjalan bersama memasuki rumah sakit.


"Apa tidak akan jadi masalah? kalau kau datang lagi menjenguk mantan suamimu?" tanya Arga di sela sela langkahnya.


Emeli menoleh sesaat ke arah Arga, "tidak mengapa, aku hanya ingin memastikan Nathan baik baik saja."


Langkah mereka terhenti tepat di mana Nathan di rawat tempo hari. Namun sayang, sesampainya di kamar itu Nathan sudah tidak di rawat di kamar tersebut.


"Dia di pindahkan kemana Dok?" tanya Emeli pada Dokter yang selama ini menangani penyakit kanker Nathan.


"Orang tua Nathan membawanya keluar Negeri untuk pengobatan."


"Luar Negeri?" Emeli menghela napas panjang.


"Benar, kalau begitu saya permisi dulu."


Emeli menganggukkan kepala, "terima kasih Dok!"


"Sudahlah Emeli, jangan kau pikirkan terlalu dalam. Do'a kan saja dia sembuh." Arga merangkul bahu Emeli kembali berjalan bersama meninggalkan rumah sakit.


Emeli menundukkan kepala sesaat. "Aku tahu Ga." Kembali Emeli menundukkan kepala. Perasaannya kali ini tambah tidak karuan.


"Hei, ayolah..bagaimana kalau kita makan?" tawar Arga melihat raut wajah Emeli sedih.


"Makan di mana?" tanya Emeli.


"Ayo, masuk dulu" Arga membukakan pintu mobil untuk Emeli. Lalu Arga masuk ke dalam mobil untuk mengajak Emeli makan.