
Entah sudah berapa lama Emeli menangis, perlahan ia bangun dan mengusap sisa air mata di kedua bola matanya. Matanya sembab dan merasakan sakit di kepalanya. Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 5:00 pagi. Matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. "Nathan.." ucapnya lirih.
Perlahan ia ambil ponselnya, lalu membuka layar ponsel ada beberapa pesan dari Nathan yang belum Ia buka. Emeli kembali menangis sambil membuka pesan dari Nathan.
"Emeli sayang, aku menyadari satu hal. Kematian tidak bisa di cegah oleh apapun. Seharusnya aku mempertahankanmu untuk tetap bersamaku. Bukannya aku menyakiti hatimu. Aku memang pria tak berguna, aku lemah! aku lemah! Maafkan aku Emeli..maafkan aku sayang."
Pesan terakhir yang Emeli baca, "menyesal sekarang buat apa Nat? semua sudah berakhir saat itu juga. Percuma kau menyesalinya, aku tidak akan pernah kembali padamu. Tidak akan pernah! ucap Emeli dengan nada suara serak. Ia duduk termenung di atas tempat tidur, pikirannya melayang ke masa lalu saat masih bersama Nathan. Rasa cinta dan rasa benci sama besarnya melukai perasaan Emeli. Keduanya bercokol di dalam hatinya. Sama sama menguasai hati dan pikirannya. Hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana cinta mana benci. Semua sama rasa yang Emeli rasakan saat ini.
Perlahan ia berhenti menangis dan membuka tasnya mengambil obat pereda sakit kepala, lalu turun dari atas tempat tidur menuju dapur untuk mengambil air mineral. Sesampainya di dapur, ia melihat Inah sudah bangun tengah beres beres.
" Non cari apa? tanya Marni.
"Air, mau minun obat." Emeli menuangkan air hangat kedalam gelas, lalu meminum obatnya.
"Non, sakit?" tanya Marni lagi memperhatikan wajah Emeli.
Emeli meletakkan gelas, ia tersenyum menatap Marni. "Tidak, Inah."
Marni menganggukkan kepala, ia kembali menyapu lantai. Sementara Emeli kembali ke kamarnya untuk membersihkan badan Ia berniat untuk mencari pekerjaan dari pada di rumah terus membuat Emeli sakit kepala.
Satu jam berlalu, Emeli melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 7:00. Ia ambil tasnya lalu berjalan keluar kamar menemui Marni.
"Marni, aku pergi dulu."
Marni menganggukkan kepala, "tidak sarapan dulu, Non?" Emeli menggelengkan kepala, ia berlalu meninggalkan rumah.
***
Emeli berjalan menyusuri tepi jalan raya, matanya menyipit silau terkena cahaya matahari. Kakinya terasa pegal berjalan kaki cukup jauh. Mengetuk dari satu toko ke toko lain berharap ada yang mau menerima tenaganya untuk di pekerjakan. Namun sampai siang ini, usaha Emeli tidak membuahkan hasil, mereka menjawab 'tidak'.
Di jalan Cempaka putih ia duduk di halte untuk beristirahat. Keringat mengucur deras di wajahnya. Sesekali ia usap keringatnya menggunakan tisu. Emeli diam terpaku menatap sekitar jalan raya yang terlihat ramai dan macet. Ia tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan di mana. Semua menolaknya, membuat ia putus asa. "Hidup ini sulit bagiku, kenapa aku selalu begini?" tanya dalam hati. Namun ia kembali membesarkan hatinya untuk mengembalikan harapannya yang mulai redup kembali.
"Mungkin hari ini aku gagal, masih ada hari esok." Emeli berdiri dan matanya menatap pada sosok pria yang ia kenal. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan. "Na, Nathan? dia sudah pulang? Emeli tidak menyangka kalau Nathan sudah pulang. Tadi pagi sebelum berangkat, Marni tidak mengatakan kalau Nathan akan pulang. Bahkan pria itu tidak memberitahu jika hari ini dia akan pulang.
"Emeli!"
Sesaat Emeli terpaku menatap wajah pria yang ia cintai, ada keinginan untuk memeluknya. Rasa rindu dan sakit hati bercampur aduk di dalam hati. Wanita itu langsung memutar tubuhnya berlari untuk menghindari Nathan.
" Maafkan aku, Nat." Emeli terus memperhatikan Nathan yang tengah mencari keberadaannya. Hingga sosok pria itu hilang di gang sempit. Emeli menarik napas panjang mengusap dadanya. Ia diam sejenak untuk mengatur napas dan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Perlahan Emeli keluar dari persembunyiannya setelah memastikan bahwa Nathan sudah tidak ada lagi. Ia balik badan dan meninggalkan rumah kosong itu. Pada saat Emeli keluar dari gang, ia tidak menyangka akan berpas pasan dengan Nathan kembali.
"Emeli! Nathan langsung mencengkram tangan wanita itu dengan kuat. "Kau kemana saja? bukannyq diam di rumah malah keluyuran! bentak Nathan
"Aku tidak mau, lepaskan! pekik Emeli berusaha melepas cengkraman tangan Nathan. Namun semakin Emeli berontak semakin kuat Nathan mencengkram tangan Emeli.
" Emeli, kita pulang. Kita hidup bersama lagi." Nathan terus menarik paksa Emeli hingga langkahnya terhenti di tepi jalan.
"Aku tidak mencintaimu lagi! jerit Emeli menepis tangan Nathan sekuat tenaga meski hasilnya sia sia.
Nathan menatap wajah Emeli dalam dalam, ia melihat mata wanita itu sembab. Dan sudah di pastikan dia menangis semalam. Nathan tersenyum getir dan membujuk Emeli.
"Lalu kau kemanakan wanita itu!" napas Emeli memburu menahan gejolak emosi. Dengan tatapan tajam ke arah Nathan.
"Dengar Emeli, aku akan memikirkan caranya untuk menceraikan wanita itu."
"Plak!"
Emeli menampar wajah Nathan dengan tangan kirinya. "Kau pikir pernikahan itu hanya untuk main main, Nat?" ucap Emeli geram. "Kemarin dengan mudahnya kau menerima tawaran Ibumu, dan sekarang dengan mudah kau memintaku untuk kembali? pikir!! tangan Emeli mengetuk etuk pelipis dengan jarinya.
"Aku tahu, aku salah." Nathan menundukkan kepala sesaat. "Tapi, beri aku kesempatan lagi.
Emeli tertawa sinis, " kesempatan, kau bilang?" Emeli memalingkan wajahnya sesaat ke arah jalan raya. "Kenapa tidak dari awal, berapa kali aku memberikan kesempatan itu? Apa kau lupa Nat!!! Emeli mencengkram kerah baju Nathan.
Nathan menurunkan tangan Emeli dan mengusapnya pelan. " Emeli, aku mohon.." ucapnya menatap wajah Emeli dengan penuh harapan.
"Tidak." Mata Emeli melebar menatap wajah Nathan dan menepis tangannya. "Hubungan kita sudah berakhir." Emeli mendorong tubuh Nathan cukup keras sehingga pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Emeli balik badan dan berlari menyusuri tepi jalan raya meninggalkan Nathan yang termangu menatapnya. Wanita itu terus berlari, sesekali ia menyeka air matanya dengan tangan. Ia tidak perduli dengan orang orang yang memperhatikannya, atau pengendara motor lewat sekedar melihatnya sekilas. Yang ia inginkan saat ini terus berlari menghindari Nathan, menghindari kenyataan bahwa ia masih sangat mencintai Nathan.
Tetapi rasa sakit yang Nathan dan Ibunya torehkan membuat wanita itu memilih mengubur cintanya dalam dalam. Meski itu tidak mudah, namun Emeli yakin. Hidup tanpa Nathan sekalipun semua akan baik baik saja seperti yang ia inginkan. Dan ia memutuskan untuk pisah.