
Emeli sangat senang sekali mendengar kabar kalau Al malam ini tidak ada di rumah karena ada urusan di luar. Kesempatan baik ini tidak Emeli lewatkan dan mulai menyusun rencana untuk melarikan diri.
Hanya bermodalkan beberapa sprei, lalu ia ikatkan ujung sprei ke ujung sprei lainnya. Setelah selesai ia ikatkan di kaki meja yang terbuat dari kayu lalu ia tarik sampai ke jendela.
"Wah kurang sedikit!" ucap Emeli menatap ke bawah. "Tapi tidak apa apa, loncat sedikit."
Emeli mulai naik ke atas jendela, perlahan lahan kedua kakinya turun ke bawah dan kedua tangannya memegang erat kain tersebut.
Emeli mencoba untuk menyeimbangkan badannya. Perlahan lahan ia turun, semakin lama semakin turun ke bawah. Ia menundukkan kepala dan tersenyum karena sedikit lagi sudah sampai di bawah.
"Aku pasti bisa!"
Kedua tangan Emeli melepaskan pegangannya, ia meloncat dan kedua kakinya mendarat dengan sempurna. Wanita itu berdiri tegap, wajahnya tengadah menatap ke atas jendela.
"Hufft, akhirnya aku lolos."
Emeli langsung balik badan, matanya melebar, mulutnya menganga melihat sosok yang ia kenali.
"Al?"
"Mau kemana?" tanya Al dingin. "Melarikan diri?"
"Aku-?"
Al tidak memberikan kesempatan Emeli berbicara, ia mengangkat tubuh wanita itu dan menggendongnya. Emeli hanya diam membiarkan Al membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Percuma memberontak, percuma teriak, itu tidak akan merubah apapun.
Sesampainya di kamar yang berbeda, Al menghempaskan tubuh Emeli ke atas tempat tidur. Satu persatu ia melepaskan pakaiannya hingga tak ada satu benangpun yang menempel di tubuhnya.
Mata Emeli melebar ia bangun dan duduk di sudut tempat tidur, ia tahu apa yang akan di lakukan Al padanya. Melihat sikap Emeli yang terus menolak, membuat sikap Al semakin kasar saat menginginkan Emeli.
"Jangan lakukan itu, biarkan aku tidur. Aku berjanji tidak akan melarikan diri." Ucap Emeli.
Namun Al tidak perduli, ia menarik tangan Emeli lalu melepaskan pakaian Emeli dengan paksa. Melihat Emeli sudah tanpa sehelai benang di tubuhnya, Al melampiaskan hasratnya yang tak pernah puas saat berhubungan dengan Emeli.
***
Tiga minggu berlalu sejak pernikahannya dengan Al. Emeli merasakan kebosanan dan tidak ada selera makan. Emeli juga sering merasakan pusing dan mual mual, ia juga merasakan ada yang berbeda dengan buah dadanya (ðŸ¤) terasa sakit kalau di sentuh.
Pagi ini Emeli sudah terlihat rapi duduk di sofa. Dua orang Dokter berdiri di sampingnya, Al duduk di hadapan Emeli dan dua asisten rumah tangga tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk Emeli. Buah buahan, roti, susu dan juga obat yang harus Emeli makan setiap pagi, siang dan malam. Dalam satu minggu ini, Emeli mulai bosan dengan makanan yang mereka sajikan. Namun Emeli tidak dapat menolak, jika itu ia lakukan. Maka Al akan marah dan membawanya ke kamar untuk melakukan hubungan seksual lagi.
"Nona silahkan di makan." ucap salah satu asisten membungkukkan badan sesaat.
"Hoek!!"
Emeli berdiri hendak melangkahkan kakinya, namun kepalanya terasa pusing. Al beranjak dari duduknya lalu menghampiri Emeli, merangkul bahuny.
"Dokter! ada apa dengan istriku." kata Al terlihat panik.
"Sebaiknya Nona Emeli di bawa ke ruang pemeriksaan." Ucap Dokter.
"Baik!" sahut Al, lalu mengangkat tubuh Emeli dan menggendongnya menuju ruang pemeriksaan di ikuti kedua Dokter tadi dari belakang.
Sesampainya di ruangan pemeriksaan, Al membaringkan tubuh Emeli di atas tempat tidur, kemudian Al menerintahkan Dr Alan untuk memeriksa Emeli.
Al berdiri di sudut ruangan memperhatikan Dr Alan memerika kondisi Emeli secara menyeluruh.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnyaselesai Dokter Alan selesai memeriksa ia saling tatap cukup lama dengan rekannya lalu mereka tertawa bahagia dan saling berpelukan.
"Kita berhasil!"
Al mengerutkan dahi menatap kedua Dokter itu, ia masih belum paham dengan sikap Dokter pribadinya.
"Ada apa ini?" tanya Al.
Dr Alan dan rekannya membungkuk hormat dan berkata.
"Selamat Tuan, Anda akan menjadi seorang Ayah!"
Mata Al melebar, senyum mengembang menghiasi bibirnya. "Benarkah?"
Dr Alan menganggukkan kepala dan menjelaskan pada Al, kalau Emeli sedang mengandung janinnya sudah empat belas hari.
Mendengar penjelasan itu, Al tertawa bahagia dan berseru.
"Cindy lihatlah, aku tidak mandul! aku tidak mandul! hahahahaha!!"
Emeli yang hanya diam menperhatikan, ia setengah tidak percaya kalau dia bisa hamil. Tapi mendengar penjekasan Dr Alan kalau dia di nyatakan hamil. Emeli sangat bahagia, namun di sisi lain ia mulai takut saat Al menyebut nama seorang wanita.
"Ya Tuhan, apakah ini awal kebahagiaanku atau sebaliknya?" ucap Emeli dalam hati.