
Seisi rumah yang tenang dan sepi, tiba tiba terdengar ramai oleh suara Emeli yang berteriak dari lantai dua rumah.
"Paman Sen duok! bibi wa jan! paman Bas Sreng! Paman Cimol! cepat kemari!!" teriak Emeli.
"Kami Nona!" sahut mereka serempak berdiri, berjajar rapi tengadahkan wajahnya menatap Emeli.
"Aku-?" Emeli tidak melanjutkan ucapannya.
"Sayang, bisakah kau sedikit bersikap elegan saat memanggil mereka?" potong Al yang tiba tiba muncul di belakangnya.
"Apa aku terlihat kurang elegan?" tanya Emeli menatap Al.
"Tidak!" sahut Al.
"Contohkan, biar aku tahu." tantang Emeli sambil melipat kedua tangannya didada.
"Begini caranya." Al berdehem sesaat, wajahnya sedikit mendongak dengan kedua tangan di sembunyikan di belakang.
"Sen Duok, Wa jian, Bas Sreng dan Chimol kemarilah!"
"Kami Tuan!" sahut mereka di bawah.
Al menatap ke bawah dan berkata. "Aku tidak memanggil kalian, aku sedang memberi contoh istriku!" seru Al.
"Baik Tuan, maafkan kami!" sahut mereka serempak lalu balik badan dan mereka bubar.
"Oh my god! aku yang terlihat bodoh atau mereka memang bodoh!" umpat Al.
"Bas Sreng! chi mol! Sen duok dan Wa jian, kalian kemari!" pekik Al kesal.
Mendengar teriakan Al, mereka bergegas kembali dan berjajar rapi. "Kami Tuan!"
"Kau lihat? kau sendiri tidak elegan," kata Emeli memajukan bibirnya.
"Ah lupakan, intinya kau harus bersikap lebih elegan lagi di depan mereka. Supaya mereka takut dan menghormatimu." Kata Al.
Emeli menurunkan kedua tangannya lalu berjalan mendekati Al.
"Saat musuh ada di depan mata, dan kau membutuhkan bantuan mereka. Apakah sikap elegan masih di butuhkan?" tanya Emeli.
Al mengerutkan dahi lalu menggelengkan kepalanya, "tidak."
Al tercengang mendengar penuturan Emeli yang tidak ia duga dan tidak pernah ia dengar sebelumnya.
"Emeli..kau.."
"Ya, apa kau kau paham maksudku?" tanya Emeli.
"Tentu saja, kau yang terbaik!"
"Grepp!!" Al memeluk tubuh Emeli dengan erat dan berbisik di telinganya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Emeli tersenyum lalu membalas pelukan Al, suara tangisan bayi di dalam kamar, membuat Al melepaskan pelukannya lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar.
***
"Paman Chimol, Paman Bas Sreng, kabar apa yang kau dapatkan tentang Cindy? dan bagaimana dengan kotak hadiah yang aku kembalikan?" tanya Emeli kepada dua orang kepercayaan Al.
"Nona, tentu saja Nona Cindy terkejut karena usahanya tidak berhasil. Dan aku dengar, dia hampir saja mati karena gigitan ular itu. Tapi Nona, dia tidak akan berhenti mengganggu keluarga Tuan Al. Apalagi sekarang mereka telah bekerjasama dengan Tuan Jimi, musuh bebuyutan Tuan Al." Jelas Chi Mol panjang lebar.
"Yang kami khawatirkan, balasan dari Nona Cindy dan Tuan Jimy." Timpal Bas Sreng
"Aku tidak mencari musuh, tapi musuh datang aku tidak akan berlari. Kalian tidak perlu khawatir, kerasnya hidup banyak mengajarkan hal baik dan aku akan melakukan apapun demi melindungi putraku, karena yang mereka ingunkan adalah nyawa putraku bukan?" kata Emeli menatap kedua pria di hadapannya.
"Benar Nona!" sahut mereka serempak.
"Oya, apa kalian tahu apa alasan mereka menginginkan nyawa putraku?" tanya Emeli.
"Sejauh ini, kami masih belum mendapatkan infonya Nona!" jawab mereka serempak. "Hanya Tuan Al yang tahu, Nona!"
"Al?" kata Emeli. "Baiklah, kalian boleh pergi. Tetap waspada, dan bekerja tidak hanya mengandalkan otot, tapi otak juga."
"Siap Nona!" sahut mereka lalu membungkukkan badan.
Emeli tersenyum, memperhatikan dua pria itu hingga hilang di balik pintu.
"Rahasia apa yang Al sembunyikan dariku?" gumam Emeli