
Keesokan paginya, Al sudah siap siap berangkat meninggalkan istri dan putranya tercinta. Kehebohan terjadi di dalam rumah itu, pasalnya Al sangat berat meninggalkan Emeli dan putranya.
Al berkali kali berpesan kepada semua anak buahnya untuk menjaga Emeli dan putranya dengan baik, terutama Bas Sreng dan Chi Mol yang berada di garda depan untuk menjaga anak dan istrinya dengan taruhan nyawa. Al tidak akan mengampuni anak buahnya jika terjadi sesuatu pada mereka berdua.
Emeli yang tengah menggendong putranya tak berhenti tertawa melihat sikap Al yang terlihat konyol. Sejak dari dalam kamar, satu atau dua langkah, Al pasti mencium Emeli dan putranya. Terus begitu yang Al lakukan hingga di teras rumah. Al masih saja terus mencium Emeli tidak ada puasnya lalu beralih menciumi wajah putranya yang sesekali tersenyum lebar menampakkan giginya yang baru saja tumbuh dua biji.
"Nanti kau terlambat sayang." Kata Emeli menatap wajah Al.
"Aku tidak perduli sayang, aku masih belum puas." Jawab Al lalu mencium kening Emeli cukup lama.
"Cepatlah kembali, aku menunggumu di sini." Ucap Emeli.
"Jaga dirimu dan putra kita baik baik, aku segera kembali." Balas Al.
Emeli menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tangan si kecil di lambaikan tangan mungil itu ke arah Al.
"Cepat kembali Dady!" seru Emeli memperhatikan Al melangkah mundur sembari melambaikan tangannya.
"I love you!" pekik Al, lalu masuk ke dalam mobil.
Emeli tersenyum menatap mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah. Menarik napas panjang, terdiam sesaat lalu ia masuk ke dalam rumah.
***
Hari ketiga, Emeli memberanikan diri untuk menghubungi Al di jam Al tidak ada kesibukan. Emeli bisa menghabiskan waktu dua jam hanya untuk melepas rindu, tidak lupa Emeli menceritakan putranya. Al yang berada di Negara lain, tertawa bahagia mendengar Emeli dan putranya baik baik saja.
Satu minggu berlalu, Emeli kembali menghubungi Al, namun kali ini sambungan telponnya tidak terhubung sama sekali.
"Mungkin dia sibuk, lain kali aku telpon lagi." Gumam Emeli.
Namun sampai tengah malam, hingga pagi lagi. Nomer ponsel Al tidak dapat di hubungi sama sekali. Emeli mulai resah dan gelisah. Tetapi Emeli berusaha untuk tenang dan berpikir positif. Meski Al tidak dapat di hubungi, Emeli percaya penuh kepada Al. Lambat laun, Emeli mulai tenang dan tidak merasa khawatir lagi.
Sementara di tempat lain.
Cindy, Jimi yang sudah bekerjasama dan mengetahui kepergian Al untuk jangka waktu yang panjang. Mereka mulai mengatur rencana, di awali dengan mencari tahu di mana keberadaan kedua orang tua kandung Emeli.
Setelah mereka mengetahui keberadaan Sam Yun Fat dan istri keduanya. Mereka bekerjasama untuk menyerang rumah Al dengan tujuan yang berbeda.
"Aku ingin, wanita itu mati. Dan Al, bisa kembali padaku." Kata Cindy.
"Aku inginkan putra Emeli mati, dan aku bisa merebut kembali Emeli dari tangan Al." Gumam Jimi dalam hati.
Berbeda dengan Sam Yun Fat, selaku ayah kandung Emeli yang akan membawa putri dan cucunya kembali ke Negaranya. Beda pula dengan keinginan Ibu tiri Emeli yan,g menginginkan keduanya mati, ia takut kalau harta dan kekuasaan Sam Yun Fat jatuh ke tangan Emeli atau putranya Emeli.
Sementara Emeli sama sekali belum tahu, siapa ayah dan asal usulnya. Yang Emeli tahu, kalau ibu kandungnya sudah tiada sejak ia masih kecil.