
Di laboratorium, Dr Alan bekerja berhari hari untuk melakukan serangkaian tes kebenaran tentang dua pria yang sama sama memiliki wajah mirip dengan Al.
Setelah satu minggu Dr Alan bekerja, akhirnya ia menemukan fakta bahwa kedua pria itu bukanlah Al.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dr Alan.
"Aku ada ide." Jawab Emeli.
"Boleh katakan apa idemu, Nona?" pinta Dr Alan.
Kemudian Emeli berbisik di telinga Dr Alan. Mengatakan semua tentang ide gila yang ada di kepalanya. Dr Alan hanya tertawa kecil mendengar ide gila Emeli.
"Aku setuju, Nona."
Setelah mereka diskusi, Dr Alan kembali bekerja di bantu asistennya. Hari itu juga Dr Alan melakukan pemindaian memori tentang Al dan keluarganya lewat mata kedua pria tersebut. Kemudian mengisi memori mereka dengan hanya memberikan memori tentang Jimi, Rey dan Ibu tiri Emeli yang selama ini menjadi dalangnya.
Dr Alan menghabiskan waktu satu bulan untuk membuat kedua pria tersebut menjadi mesin pembunuh untuk ketiga orang tersebut.
Setelah kedua pria itu siap. Dr Alan, Emeli, Basreng dan Chimol menyusun rencana untuk menghabisi musuh menggunakan dua pria tersebut.
"Chimol, Basreng, kau siapkan anak buahmu." Perintah Emeli.
"Siap Nona!" sahut mereka serempak.
"Dr Alan, kau bertugas menjaga putraku, tapi kau harus ikut bersamaku." Kata Emeli lagi.
"Siap Nona!" jawab Dr Alan.
***
Keesokan harinya mereka sudah bersiap dengan rencana yang sangat matang. Hari ini, hari yang sangat menentukan untuk ketenangan keluarga kecil Emeli.
Emeli wanita cerdas yang tegas, konyol, dan tidak suka pekerjaan yang lamban dan terlalu banyak basa basi. Hari ini, Emeli mencurahkan seluruh kemampuannya.
Iring iringan mobil melaju meninggalkan mansion milik Emeli, dengan kecepatan tinggi menuju markas besar tempat di mana Rey, Jimi dan Ibu tirinya Emeli sedang ada pertemuan penting.
Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, akhirnya mereka telah sampai di markas besar musuh. Tidak ada satupun pihak musuh menduga kalau mereka akan di serang oleh Emeli yang selama ini di anggap ceroboh.
Anak buah Emeli sudah mengepung markas dan gudang senjata ilegal milik musuh dari berbagai arah dengan persenjataan yang lengkap juga bahan peledak.
Sementara Emeli menggendong putranya menggunakan gendongan ransel di punggungnya. Kedua tangan Emeli memegang dua senjata api berukuran sedang siap menyerang, di kawal Dokter Alan dan Chimol. Sementara Basreng memimpin pasukan.
Emeli berdiri di tegap di antara Dr Alan dan Chimol dengan jarak cukup jauh dari markas, tersenyum mengembang dengan tatapan lurus ke arah markas.
"DUARRR! DUARRRR!!
Satu dua buah peledak di lemparkan ke arah gudang senjata. Api mulai membesar, asap hitam membumbung tinggi. Suara teriakan dan musuh terpental jauh dengan tubuh hancur berkeping keping
"DOR DOR DOR!!"
"BRAKKK!!!
Suara peluru berdesing memekakkan telinga. Baku tembak terjadi antara pihak musuh dan anak buah Emeli.
"Hahahaha rasakan pembalasanku!" Emeli tertawa puas melihat gudang senjata hancur, sebagian gedung mulai terbakar. Teriakan dari pihak musuh meregang nyawa bersimbah darah. Bau amis dan bau daging terbakar terasa sangat menyengat.
"Matilah kalian!!"
"Dor dor dor!!!"
Emeli melangkah maju, peluru di lesatkan ke arah musuh. Begitu juga dengan Dr Alan dan Chimol.
"Dor dor!!
Chimol balik badan membelakangi Emeli untuk menghindari serangan dari belakang yang akan berakibat fatal jika itu terjadi maka putra Emeli akan menjadi sasarannya.
"Hentikan!!"
"Dor dor dor!!"
Rey dan Jimi beserta ibu tiri Emeli keluar dari markas dan meminta Emeli untuk menghentikan peperangan.
"Baiklah jika itu mau kalian!" seru Emeli lantang.
"Mundur!!" perintah Emeli kepada anak buahnya untuk mundur.
Rey dan Jimi kebingungan melihat sikap Emeli yang menyerah begitu saja. Namun di luar dugaan, dua pria yang di kirim mereka muncul dari arah berlawanan menembaki mereka bertiga sebelum sempat mereka melakukan perlawanan.
"Dor dor dor!!!"
Emeli, Dr Alan, Chimol dan Basreng tersenyum memperhatikan manusia kloningan mereka, membunuh tuannya sendiri. Kemudian Emeli memerintahakn Basreng untuk menghancurkan tempat itu dan kedua pria kloningan tersebut, rata dengan tanah.
"Baik Nona!" sahut Basreng.
"DUARRR DUARRR DUARRR!!"
Peledak di lempar sekitar lebih dari sepuluh bahan peledak. Seluruh tempat itu hancur seketika rata dengan tanah, begitu juga dua pria kloningan ikut hancur bersama markas musuh.
"Itu resikonya membangunkan macan yang sedang tidur." Gumam Emeli tersenyum puas.
Basreng dan Chimol sedikit ngeri dengan Emeli. Mereka baru menyadari kalau Emeli lebih berbahaya dari pada Al.