
Kehamilan Emeli menginjak usia 9 bulan. Setiap menjelang tidur, Emeli menjadi serba salah. Miring salah telentang juga salah, tidurnya tidak pernah nyenyak begitu juga dengan Al. Tiap malam ia selalu terjaga dan berusaha untuk tetap terbuka matanya, meski rasa kantuk sering membuat Al kalah juga dan tertidur pulas.
"Kipasin." Rengek Emeli gelisah.
"Astaga Emeli, Ac sudah menyala apakah kau tidak merasakan dingin?" tanya Al sambil mengipasi Emeli menggunakan koran bekas Al baca.
"Lagi, jangan banyak bicara!" ucap Emeli dengan nada tinggi.
"Sabar sayang.." sahut Al menarik napas dalam dalam.
"Usap!" perintah Emeli, meminta Al mengusap bokongnya yang terasa sedikit panas dan pegal.
Al meletakkan korannya di atas tempat tidur, lalu berganti mengusap bokong Emeli dengan lembut.
"Tidak terasa, lagi!"
Al bangun dan duduk di atas tempat tidur, mengusap lagi punggung Emeli. Memperhatikan wajah Emeli, matanya terpejam. Al tersenyum tipis meski Emeli tidak melihatnya. Rasa sayang, rasa cinta yang Al miliki semakin besar untuk Emeli. Tidak ada wanita lain di hatinya selain Emeli. Bahkan nama Cindy, bayangannya pun sudah tidak ada dalam benak Al. Satu satunya wanita yang ia puja hanyalah Emeli, Ratu di dalam hati Al.
"Sayang, apa kau lapar? kau butuh sesuatu?" tanya Al, tangannya terulur menyelipkan rambut di telinga Emeli.
"Tidak, aku hanya ingin di dekatmu." Jawab Emeli dengan mata terpejam.
"Benarkah yang kau ucapkan?" tanya Al mengajak bicara Emeli supaya melupakan rasa sakit di bokongnya.
"Apakah kau tidak dengar?" sahut Emeli.
"Biasanya kau marah marah, tidak pernah kau ucapkan kata kata seperti itu, kata kata kalau kau juga mencintaiku."
"Apa aku harus mati, baru kau percaya bahwa aku mencintaimu?" ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Eneli, membuat Al menghentikan aktifitasnya mengusap punggung Emeli. Lalu ia berbaring di samping Emeli dan menatap wajahnya.
"Jangan katakan itu, jangan pernah." Kata Al lalu mencium hidung Emeli.
"Kalau memang itu harus aku lakukan, akan kulakukan." Jawab Emeli membuka matanya, menatap wajah Al.
"Tidak, jangan katakan itu.." Al memeluk tubuh Emeli sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
Emeli kembali matanya terpejam, merasakan sentuhan lembut tangan Al dan pelukan hangat.
***
Al berteriak dari lantai dua rumahnya memanggil Dr Alan dan pengawal pribadi Emeli.
"Bas Sreng! Bas Sreng!!" panggilnya.
"Ya Tuan!" seru Bas Sreng tengadahkan wajah menatap Al dari bawah.
"Panggil Dr Alan, cepat!!"
"Baik Tuan!" sahut Bas Sreng sambil berlari, namun langkahnya kembali berhenti.
"Astaga, bukankah aku bisa menelpon Dr Alan?" ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri. Bersamaan dengan Al yang baru saja teringat kalau dia bisa menelpon Dr Alan lewat ponselnya.
"Sial, kenapa bisa sebodoh ini?" rutuknya pada diri sendiri. Al yang baru saja hendak menelpon Dr Alan, mengurungkan niatnya, karena terdengar suara Emeli mengerang.
"Aaaaw sakit!"
"Emeli!" Al kembali berlari masuk ke dalam kamar, lalu mengangkat tubuh Emeli dan menggendongnya. "Sabar sayang."
"Sabar, sabar, sakit tahu!" umpat Emeli kesal tangannya mencubit bibir Al.
Al tertawa kecil, setengah berlari keluar dari kamar. "Kau tahu Emeli, memiliki istri sepertimu. Aku nampak bodoh di depan anak buahku sendiri.
"Bukan urusanku, aww sakit.." sahut Emeli kembali mengerang kesakitan.
Al dengan sangat hati hati menuruni anak tangga.
"Tuan hati hati!" ucap Paman Sen Duok menatap khawatir di bawah tangga. Bersama dengan asisten rumah tangga lainnya yang siap siaga jika mendapat perintah dari Al.
"Tuan, Nona Emeli sepertinya mau melahirkan." Kata Dr Alan yang baru saja tiba. "Ayo cepat bawa keruangan medis."
Mendengar kata melahirkan, Al kembali berlari menggendong Emeli ke ruang bawah tanah, di ikuti Dr Alan, Bas Sreng, dan yang lainnya.
Sesampainya di ruang bawah tanah, tempat bekerja Dr Alan dan asistennya. Al membaeingkan tubuh Emeli di atas tempat tidur. Kemudian Dr Alan meminta Al dan yang lain menunggu di luar ruangan.
Bas Sreng, Sen Duok dan yang lainnya berdiri berjajar memperhatikan Al yang terus mondar mandir menunggu dengan harap harap cemas. Menunggu kelahiran putra yang selama ini ia nantikan.