
Dua jam berlalu, Al masih berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan. Begitu juga dengan anak buahnya yang masih berjajar memperhatikan Al yang semakin gelisah.
Dua jam berlalu, detik berikutnya terdengar suara tangisan bayi. Al berhenti mondar mandir, matanya melotot, menoleh ke arah anak buahnya. Tiba tiba Al melonjak kegirangan dengan kedua tangan ia angkat keatas sambil berteriak kencang.
"Yihaaa! putraku sudah lahir! putraku sudah lahir!!" pekiknya sambil berputar putar dengan kedua tangan di atas.
Al berhenti berputar, kedua tangan ia turunkan menatap tajam ke arah wajah anak buahnya satu persatu yang tengah mengulum senyum memperhatikan tingkah konyol Al yang selama ini tidak pernah di tunjukkan. Al berdehem, dan bersikap normal kembali saat Dokter Alan membuka pintu ruangan.
"Tuan, selamat. Putra anda telah lahir dengan selamat." Ucap Dr Alan membungkukkan badannya sesaat.
Tanpa banyak bicara, Al langsung menerobos masuk ke dalam ruangan menghampiri Emeli yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Sayang, terima kasih. Kau memang istri terbaikku!" ucapnya lalu membungkukkan badan mencium kening Emeli cukup lama.
"Jangan lagi kau memintaku untuk melahirkan anakmu yang kedua," ujar Emeli sambil mencubit kuping Al.
Al tertawa kecil, menatap wajah Emeli penuh dengan cinta.
"Tidak sayang, cukup satu saja untuk saat ini. Tapi entah untuk esok hari." Goda Al lalu berdiri tegap menghindari cubitan tangan Emeli berikutnya.
"Tuan, ini putra anda."
Al menoleh ke samping, menatap seorang suster yang sedang menggendong seorang bayi yang masih merah di balut selimut berwarna biru muda.
"Putraku.."
"Silahkan Tuan!" Suster itu memberikan bayi dalam pangkuannya kepada Al.
"Kau tampan sepertiku!" pujinya, tertawa lebar lalu mengecup dengan lembut kening bayi itu.
"Hati hati," Emeli mengingatkan.
"Tentu sayang!" sahut Al lalu meletakkan bayi itu di samping Emeli. "Dia mirip denganmu juga, sayang."
"Tentu saja, aku Ibunya. Memangnya maumu mirip siapa? Cindy?" sindir Emeli.
"Ayolah sayang, kenapa kau harus marah marah terus." Al menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menarik kursi dan duduk di atasnya. Memperhatikan Emeli dan putranya bergantian.
Al merasa hidupnya sudah lengkap, kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata kata. Bersama Emeli, hidupnya lebih berwarna dari sebelumnya.
***
Satu hari berlalu sejak Emeli melahirkan. Kini Emeli di pindahkan ke kamar pribadinya bersama sang bayi.
Rumah yang biasanya sepi dan tenang, hanya suara kemarahan Al. Kini semuanya berubah, tidak hanya Al yang menyambut kehadiran sang bayi, namun semua penghuni rumah itu ikut bahagia. Sisi gelap Al sudah tidak di perlihatkan, pria itu lebih terlihat tenang dan juga konyol.
Setiap detik Al tidak pernah meninggalkan Emeli dan bayinya, Al tidak ingin kehilangan momen setiap pergerakan sang bayi. Semua kebutuhan Emeli dan sang bayi, hanya Al yang boleh mempersiapkannya. Asisten rumah tangga siap siaga dua puluh empat jam menunggu perintah dari Al. Penjagaan ketat di setiap sudut rumah dan halaman, Al lakukan demi menjaga Emeli dan putranya.
Al tengah bersuka cita atas kelahiran sang bayi. Namun di pihak lain, Cindy mantan istri pertama Al, merasa sangat marah dan membenci kabar tentang kelahiran putra Al sekaligus menaruh dendam terhadap Emeli.
Cindy sudah di butakan hasrat dan nafsu untuk merebut Al kembali dan menyingkirkan Emeli dari kehidupan Al.