Baby Proposal

Baby Proposal
BP 14



"Emeli, bangun sudah siang." Clara menepuk pipi Emeli yang tertidur di sebelahnya.


Perlahan Emeli membuka matanya menatap ke arah Clara, "kau tidak tidur semalaman, Clara?" tanya Emeli bangun lalu duduk di atas tempat tidur memeluk guling.


Clara menyandarkan tubuhnya di bantal yang ia tumpuk. "Tidak Emeli," ia melirik sesaat ke arah sahabatnya. "Semalaman aku berpikir, dan selama ini pengaruh alkohol membuatku berimajinasi terlalu tinggi. Bahkan aku sering membohongimu." Clara tertawa kecil.


Emeli tersenyum, "ya aku tahu itu."


Mata Clara melebar menatap Emeli. "Hei, serius? kau tidak marah padaku?"


Tangan Emeli merangkul bahu Clara, ia menggelengkan kepala. Bagi Emeli sebesar apapun kebohongan Clara, ia akan selalu memaafkan. Kondisi mental Clara yang tidak stabil di pengaruhi alkohol, kebohongan Clara masih bisa Emeli maklumi.


"Kau memang sahabatku," ucap Clara memeluk Emeli. "Aku janji, akan berubah."


"Lakukan itu untuk dirimu, bukan untuk orang lain." Emeli mengacak rambut Clara sesaat.


"Sekarang katakan padaku, benarkah kau sudah punya seorang putri? benarkah putrimu di tahan Jimy?" Emeli menatap tajam Clara.


Clara menggelengkan kepala, "tidak Emeli, aku belum punya anak. Semua itu aku lakukan untuk menjebak Jimy"


"Dasar kau ini!" Emeli mencubit lengan Clara. Membuat ia mengerang kesakitan.


"Aww! sakit!" sungut Clara.


Emeli tertawa kencang melihat raut wajah Clara yang cemberut. Terkadang, hal sepele membuat Emeli bahagia. Seperti kedekatannya dengan Clara sebagai sahabat. Meski sering terjadi pertengkaran di antara mereka hanya beda pendapat.


"Aku lapar, kita sarapan." Emeli turun dari atas tempat tidur melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Clara keluar kamar menuju dapur.


Tak lama Emeli telah selesai dengan dirinya. Hari ini ia tidak memiliki rencana. Meskipun ada keinginan untuk menjenguk Nathan, tapi ia takut akan menambah suasana menjadi tambah runyam.


"Kau mau kopi?" tanya Clara melirik ke arah Emeli yang duduk di sebelahnya.


"Boleh." Emeli menoleh ke arah Clara sesaat.


Clara berdiri lalu ia membuatkan kopi untuk Clara. "Emeli, sejak kapan kau mengenal Arga?"


"Baru beberapa hari saja, ia menawarkan pekerjaan. Tapi baru saja sehari aku sudah di pecat."


"Hah? kenapa bisa begitu?" Clara menyodorkan kopi ke hadapan Emeli.


Emeli mengangkat kedua bahunya, "tidak tahu."


Clara duduk di sebelah Emeli, ia mengambil cangkir kopi di atas meja lalu menyecapnya perlahan. Arga anak tunggal dari seorang pengusaha, pria baik dan lembut. Pernah menjalin hubungan dengan Clara. Tapi hubungan mereka kandas karena Jimy. Clara tergoda oleh kekayaan dan ketampanan Jimy. Hingga akhirnya hubungannya dengan Arga berakhir. Clara tersenyum menoleh ke arah Emeli.


"Sekarang rencanamu apa?" tanya Clara.


"Aku, mau-?" ucapan Emeli menggantung, saat Inah datang dari arah pintu mendekati mereka.


"Non, di depan ada Den Arga." Inah membungkukkan badan sesaat.


"Arga?" Clara melirik ke arah Emeli. Pria itu datang bukan untuknya, tapi untuk menemui Emeli. "Tuh, Arga sudah datang."


"Males," jawab Emeli datar. Ia memilih memainkan ponselnya berharap Nathan menghubunginya.


Clara menarik tangan Emeli paksa, "ayo temui Arga."


"Clara, aku tidak mau." Emeli berusaha menepis tangan Clara, tapi sahabatnya itu terus menarik paksa Emeli sampai teras rumah. Nampak Arga tengah berdiri cukup lama di teras rumah.


"Hei.." sapa Arga menatap dua wanita di hadapannya.


"Ada apa kau kesini?" tanya Emeli malas.


"Aku minta kau, untuk bekerja lagi di cafe." Arga menunduk sesaat. "Bagaimana?"


"Tentu saja, dia mau. Ya kan Emeli?" potong Clara.


Emeli menatap horor Clara. "Aku bilang-?"


"Bentar ya Ga," potong Clara lagi. Ia menarik paksa tangan Emeli lalu masuk kedalam rumah. "Kau harus bekerja lagi di Cafe Emeli, kesempatan jarang datang berkali kali." Clara tidak memberikan kesempatan Emeli untuk bicara. Sahabatnya itu terus memaksa Emeli untuk mengganti pakaiannya.


"Clara, tapi aku tidak mau." Emeli mengambil tas miliknya yang ada di tangan Clara.


"Sudah, jangan banyak bicara. Cari kerja itu susah jaman sekarang." Clara menarik paksa lagi tangan Emeli keluar kamar. Ya, apa yang di katakan Clara memang benar, tapi Emeli masih kesal dengan sikap Arga yang berubah ubah.


"Sana kalian berangkat!" Clara tersenyum lebar menatap Arga dan Emeli.


"Clara, aku pergi dulu."


Clara menganggukkan kepala, ia tersenyum menatap punggung mereka berdua. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Memang Clara sudah tidak mencintai Arga lagi. Tapi melihat Arga yang rela menjemput Emeli membuat ia sedikit ada rasa menyesal telah meninggalkan Arga. "Seharusnya aku yang ada di dekatmu, Ga." Ia tersenyum getir. Terbersit dalam benaknya untuk mengulang masa lalu dengan Arga. Tapi bagaimana dengan Arga? apa dia masih memiliki perasaan cinta itu untuknya?


Clara menepuk keningnya sendiri, "ada apa denganku?" ia tersenyum. "Aku harus berusaha dapatkan Arga lagi, harus!" Clara menyemangati dirinya sendiri.


***


Waktu terus berlalu, sore itu Anna pulang lebih awal karena ia merasa tidak enak badan. Baru saja ia sampai di halaman rumah Clara Ia menatap tak percaya pada seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri menatap ke arahnya. "Ibu?" ucap Emeli pelan. Lalu ia berjalan mendekatinya.


"Ibu, tahu aku ada disini?" tanya Emeli ragu.


"Emeli, kita pulang." Ibu Nathan meraih tangan Emeli lalu menggenggamnya erat.


"Pulang??" Emeli menoleh ke arah halaman sesaat?" tanya Emeli tidak mengerti.


"Ayo kita pulang!" ucap Ibu Nathan melotot.


"Tapi?"


"Kita bicara di rumah." Ibu Nathan menarik tangan Emeli. "Ikutlah denganku, sebentar saja."


Emeli hanya diam, meski dalam hatinya ia masih kesal terhadap Ibu mertuanya. "Aku tidak mau."


"Emeli, aku mohon kali ini saja. Setelah itu terserah kau." ucap wanita itu terus membujuk Emeli.


Emeli menghela napas dalam dalam, sesaat diam terpaku. "Baiklah, sekali ini saja."


Ibu Nathan tersenyum menoleh ke arah Emeli Kemudian Emeli masuk ke dalam rumah meminta Inah untuk menyampaikan pesan pada Clara, kalau dia pergi ke rumah Nathan "Aku tidak lama, nanti malam aku kembali."


"Baik Non." sahut Inah.


Kemudian Emeli kembali keluar, dan merska pun meninggalkan rumah Clara menuju rumah. Sepanjang perjalanan Emeli coba menerka nerka apa yang akan di sampaikan nanti. Mungkinkah Nathan sakit parah? ah tidak mungkin.


Sesampainya di rumah, Emeli melihat Nathan dan Sandra tengah duduk bergelayut manja di lengan Nathan membuat hati Emeli sangat sakit. "Ada apa ini?" tanya Emeli.


Nathan mempersilahkan Emeli untuk duduk. "Tanda tangani ini." pria itu menyodorkan beberapa lembar kertas surat perceraian ke hadapan Emeli.


"Cerai?" tanya Emeli menatap Nathan.


"Ya, kita cerai." Nathan menjawab tanpa melihat ke arah Emeli.


"Baik, jika itu maumu." Emeli mengambil surat cerai itu lalu mengambil pena yang tergeletak di atas meja. Dengan tangan gemetar ia mulai menandatangani surat cerai.


Setelah menandatangani surat cerai itu, Emeli berdiri menatap Nathan. "Semoga kau bahagia, dan aku harap suatu hari nanti kau tidak menyesalinya." Emeli langsung balik badan meninggalkan rumah Nathan.


"Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini. Demi kebaikanmu, kebahagiaanmu," ucap Nathan dalam hati.