
Emeli duduk di halte tak jauh dari rumah sakit, ia menangis sesegukan. "Nathan, kenapa jadi seperti ini," ucap Emeli serak.
Jelas masih ada cinta di mata Emeli untuk Nathan. Bibir boleh bicara 'tidak cinta' tapi hati tidak bisa di bohongi. Air mata cukup mewakili semua rasa yang tak dapat diucapkan dengan kata kata.
"Hapus air matamu."
Emeli menatap sapu tangan berwarna merah lalu tengadahkan wajah menatap Arga yang berdiri di hadapannya. Tangan Emeli terulur mengambil sapu tangan di tangan Arga. Pria itu kemudian duduk di samping Emeli. Matanya menatap sekitar jalan raya, sesekali matanya melirik ke arah Emeli yang masih terisak.
"Kau mau menangis di sini sampai pagi, atau mau ke rumah sakit lagi jenguk suamimu?"
Emeli hanya diam mengabaikan pertanyaan Arga, ia mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Arga. "Apa perdulimu." Emeli memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku memang tidak perduli dengan masalah pribadimu." Arga tersenyum samar melirik ke arah Emeli. Mungkin tadi sore ia berpikir buruk tentang Emeli. Melihat wanita itu mengenal Ferro, tapi ia akan mempertimbangkan kembali. Wanita yang ada di sampingnya terlihat berbeda dengan Clara.
Emeli berdiri lalu melangkah, "kau mau kemana?" Arga menahan tangan Emeli.
"Pulang," jawab Emeli tanpa melihat ke arah Arga.
"Aku antar." Arga berdiri dan menarik tangannya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Emeli melirik sesaat ke arah Arga.
"Ayolah, jangan keras kepala." Arga menarik tangan Emeli. Arga berjalan tangannya terus memegang tangan Emeli menuju halaman rumah sakit. Emeli hanya diam mengikuti langkah Arga. 'Aneh' itu yang ada di pikiran Emeli tentang Arga.
Arga membukakan pintu mobil untuk Emeli. "Masuk." Menatap wajah Emeli sesaat.
Emeli diam terpaku, pandangannya tertuju pintu masuk rumah sakit. "Nathan, besok aku datang lagi," ucap Emeli dalan hati.
"Kau mau masuk atau pulang?" tegas Arga sekali lagi. Emeli memalingkan wajahnya menatap Arga sekilas, lalu ia masuk ke dalam mobil di susul Arga.
Sepanjang jalan Emeli tidak berhenti memikirkan Nathan. Meski mereka telah berpisah ranjang namun sulit bagi Emeli melupakan cinta pertamanya. Apalagi pernikahan itu bukan keinginan Emeli atau Nathan. Tapi keterpaksaan demi kebahagiaan Ibu Nathan. Arga fokus ke jalan raya, sesekali ia melirik ke arah Emeli yang masih terisak.
"Aku tidak jadi memecatmu, Emeli. Kau boleh kembali bekerja besok." Arga membuka pembicaraan. Namun Emeli hanya melirik sesaat ke arah Arga dan mengabaikan kata katanya. Saat ini pikiran dan hati Emeli hanya fokus pada Nathan.
"Antarkan aku kerumah sahabatku, aku ingin memastikan dia baik baik saja." Arga menganggukkan kepala, lalu Emeli mengarahkan jalan yang harus di lalui Arga menuju rumah Clara.
Tak lama mereka telah sampai di halaman rumah Clara.
Arga menepikan mobilnya dan fokus ke depan, ia melihat Clara tengah bersimpuh di depan Ferro. "Clara?" ucap Arga pelan namun jelas terdengar oleh Emeli.
Emeli menoleh ke arah Arga sesaat, lalu ia buru buru keluar dari pintu mobil bersamaan dengan Arga menghampiri mereka berdua.
"Clara!" ucap mereka berdua serempak. Clara maupun Jimy menoleh ke arah mereka berdua. "Arga? kau?" ucap Clara langsung berdiri menatap mereka berdua. "Kau tidak pernah bilang, kalau kau mengenal Arga?" tanya Clara penuh selidik.
Emeli melirik sesaat ke arah Arga, "nanti aku ceritakan."
Emeli maju mendekati Clara dan menarik tangannya menjauh dari Jimy " Apa apaan kau ini Clara?!" seru Emeli menatap tajam Clara. "Apa kau sudah gila? sampai berlutut di depan laki laki brengsek seperti dia!" tunjuk Emeli ke arah Jimy yang hanya tertawa kecil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Emeli! aku sudah bilang berkali kali, kau jangan ikut campur! kau bukan siapa siapa aku!" Clara tidak perduli apapun lagi yang di ucapkan sahabatnya. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada Jimy
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku! katakan padaku, siapa wanita yang sudah menggantikanku?!" Clara memegang lengan Jimy. Namun pria itu menepis tangan Clara tanpa ada rasa iba sedikitpun.
"Kau tidak perlu tahu, siapa wanita itu. Bagiku kau sudah tidak berguna lagi." Jimy tersenyum sinis.
Bagi Arga sikap Jimy yang seperti itu sudah biasa. Berbeda dengan Emeli yang bereaksi marah saat mendengar kata kata 'tak berguna lagi' Emeli berjalan lebih dekat dengan mereka berdua. Menarik paksa tangan Clara mundur ke belakang, lalu mengepalkan tinjunya ke wajah Jimy
"Bukk!
Jimy tidak bergeming sedikitpun mendapatkan pukulan dari Emeli, ia hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan tertawa menyeringai menatap tajam Emeli.
"Emeli hentikan!" Arga yang sedari tadi diam akhirnya melerai Emeli.
"Diam di tempatmu!" seru Emeli. "Dia pantas mendapatkan pelajaran supaya dia waras otaknya untuk bisa menghargai perempuan. Clara bukan bonekamu yang bisa seenaknya kau perlakukan sesuka hatimu!" Emeli menatap wajah Jimy yang sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Emeli. Pria itu tertawa terbahak bahak mendengarkan semua kata kata Emeli.
Jimy berjalan mendekati Emeli menatapnya dengan sorot mata tajam. Ia mendengus lalu berkata, "inilah hidup Emeli, kau yang seharusnya sadar. Kau tidak bisa mengatur kehidupan yang keras hanya dengan kata katamu, sayang."
"Cuih! Emeli menanggapi dingin kata kata Jimy. Arga masih diam, ia coba menebak tatapan tajam Ferro pada Emeli.
"Jimy, sudah malam. Sebaiknya kita pulang." Arga merangkul bahu sahabatnya dengan tatapan lurus ke arah Emeli yang saling menatap tajam dengan Jimy
Jimy melirik sesaat ke arah Arga lalu beralih menatap Clara. "Ingat, aku tunggu kau besok!"
"Arga!" Clara berjalan mendekati Arga. "Aku minta waktumu sebebentar." Namun jimy mendorong tubuh Clara dengan kasar. Hingga tubuh Clara terhuyung ke belakang, beruntung ada Emeli di belakang menahan tubuh Clara supaya tidak terjatuh.
"Kau benar benar keterlaluan! Emeli berjalan menghampiri Jimy
"Plak!! lagi lagi Emeli memberikan pelajaran pada Jimy. Namun pria itu hanya tersenyum sembari mengusap wajahnya, tersenyum menyeringai pada Emeli.
"Emeli cukup! bentak Arga. "Sebaiknya kau masuk dan bawa sahabatmu itu." Arga menatap tajam Emeli.
Tanpa harus meminta kedua kali, Emeli menuruti permintaan Arga, ia menarik tangan Clara lalu mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Sementara Arga dan Jimy saling diam tanpa bicara di dekat mobil milik Arga.
"Sejak kapan kau mengenal Emeli?" Jimy memecah keheningan di antara mereka, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotak dan menyalakannya.
"Dua hari." Arga melirik sesaat ke arah Jimy ia sandarkan tubuhnya dimobil dengan menyilangkan kedua tangan di dada. "Kau sendiri?" Arga menoleh ke arah Jimy
Jimy menghisap cerutunya lalu ia hembuskan asap ke udara, ia tertawa kecil menanggapi pertanyaan Arga. Ia tahu apa yang di pikirkan sahabatnya. Namun kali ini Jimy memilih diam dan mengabaikan pertanyaan Arga. Ia tidak ingin kesalahpahaman di antara mereka terulang lagi hanya karena seorang wanita. Masih hangat dalam ingatannya, Arga sempat menghilang saat Clara, wanita yang Arga cintai memilih Jimy. Sementara Jimy sendiri tidak mencintai Clara.
"Dia gadis liar, aku tidak menyukainya." Jimy tertawa samar membuang cerutunya ke jalan lalu ia injak dengan sepatu yang ia kenakan.
"Kenapa kau habiskan waktumu hanya mengurusi hal hal yang tak penting? bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Jimy tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan dari mulut Arga. Ia menepuk bahu sahabatnya berkali kali. "Simpan pertanyaanmu itu, kau tahu aku bukan?" Jimy menatap tajam Arga sesaat. Lalu ia melangkahkan kakinya membuka pintu mobil lalu ia masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia memperhatikan Arga untuk beberapa saat. Kemudian ia menggelengkan kepala dan melajukan mobilnya meninggalkan Arga sendirian. Pria itu diam terpaku menunggu Emeli.