Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
7. Antara Malaikat dan Cowok Mesum



**Happy and enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


*Karena hati tau kemana dia berlabuh dan pulang. Seberapa jauh kita berkelana mencari tempat singgah tapi tahu kapan saatnya dia akan beristirahat di rumahnya..


🐰*


"Nay ... buru-buru amat sih lo! Slow ... slow dong slow kaya gue nih," ujar Maya risih yang melihat Kanaya setelah bel pulang sekola langsung buru-buru membereskan buku dan alat tulisnya.


"Slow ... slow ... jidat lo lebar. Gara-gara jam pelajaran tambahan sekarang gue cuman punya waktu satu jam buat pulang ke rumah sama bersiap-siap pergi ke cafe," balas Kanaya yang masih sibuk membereskan alat tulis.


Maya refleks memegang dan mengusap jidatnya lalu langsung mengambil cermin yang selalu ada di saku bajunya dan bercermin.


"Emang iya yah. Jidat gue lebar Nay, Nay ... Naya eh ...." seru Maya. Lalu ia kembali sibuk melihat cermin.


Sebelum Maya berhasil menyelesaikan ucapannya, Kanaya sudah pergi ke luar meninggalkan Maya.


"Eh Nay ... yah rese lo. Gue di tinggal, tapi eh tunggu jidat gue emang lebar apa?" tanya Maya heboh. Ia kembali sibuk untuk melihat jidatnya di kaca.


Kanaya saat ini tengah berlari di lingkungan sekolah untuk mengejar waktu. Saat melewati lapangan basket ia melihat sekumpulan siswa sedang bermain basket. Tiba-tiba matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan mata seseorang yang selalu berusaha dihindari akhir-akhir ini.


"Ya Tuhan ... jangan sampai dia lihat gue barusan, jangan sampai," gumamnya panik dan menutup muka dengan tangan untuk menyembunyikan wajahnya.


Alvaro cowok yang paling dihindari itu terlihat sedang berjalan menuju ke arahnya. Untuk beberapa saat Kanaya hanya diam berusaha mencerna situasi macam apa yang sedang terjadi. Sampai akhirnya ia sadar dan bersiap akan kembali berlari. Tapi langkahnya terhenti saat ada sebuah tangan yang memegang pergelangan tangannya.


"Kenapa buru-buru amat sih? Lo gak kangen apa sama gue? Sorry yah beberapa hari ini gue sibuk banget latihan soalnya bakal ada turnamen. Jadi kepaksa gue gak memuin lo," ujar Alvaro penuh percaya diri.


Kanaya memutarkan kedua bola matanya malas mendengar ucapan cowok gila yang super pede di depannya.


"Sekalian ajah lo sibuk latihan seumur hidup. Karena itu bukan urusan gue. Bahkan gue lebih seneng kalo lo gak muncul di hidup gue!" geram Kanaya mulai frustrasi.


"Gak usah pura-pura. Kalo rindu bilang aja mumpung ada gue di sini," kata Alvaro percaya diri. Ia lalu mencolek hidung Kanaya.


Kanaya mendelik dan menepis tangan Alvaro. "Gak usah sentuh-sentuh gue. Perlu gue ingetin lagi kalo kita gak sedeket itu untuk ngelakuin skinship apapun."


Tiba-tiba Kanaya merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya. Ia sontak melotot kaget saat tahu siapa yang melakukannya. Kanaya lalu berusaha melepaskan tangan Alvaro yang memeluknya.


Kanaya berdecak kesal. "Ini gak lucu yah. Lepasin gak tangan lo di tubuh gue!" protes Kanaya tidak terima.


Kanaya semakin melototkan matanya saat Alvaro semakin mengeratkan pelukan, bukannya melepaskan. Sementara Alvaro terkekeh melihat Kanaya.


Alvaro mendekatkan wajahnya secara perlahan ke telinga Kanaya. "Gue pastikan dalam waktu dekat lo bakal jatuh cinta sama gue," bisiknya.


Perkataan Alvaro barusan sukses membuat Kanaya syok. Kemudian Alvaro mencium sekilas pipi Kanaya.


"Lo milik gue. Nanti kita bakal ketemu lagi." Setelah mengusap rambut Kanaya sebentar, Alvaro lalu pergi meninggalkan Kanaya yang masih syok.


Kanaya tersipu. "Jantung gue kenapa dag dig dug kaya gini? Apa lagi dangdutan?"


Sebelah tangan Kanaya memegang dada dan sebelah lagi memegang pipi.


"Engak Nay ... enggak ... seharusnya lo marah barusan. Bukannya diem kaya orang **** kaya gini. Ya Tuhan gara-gara drama cowok gila barusan gue lupa gue kan harus buru-buru!" omel Kanaya. Ia lalu pergi berlari meninggalkan lingkungan sekolah.


Alvaro yang sudah berada di tengah lapangan langsung dihadiahi tatapan penuh tanya oleh ketiga teman-temannya. Tapi ia hanya mengedikan bahu dan kembali bermain basket.


"Ternyata lo bener. Kalau si Alvaro kayaknya lagi jatuh cinta. Tapi tuh cewek sumpah cantik banget *****," celetuk Diego senyum-senyum.


Sementara Vino mengedikan bahu tak peduli lalu pergi menyusul Alvaro yang sedang bermain basket.


"Telinga lo budek yah? Gue lagi ngomong sama lo bangke! Gue butuh komentar, bukan lagi pidato *****!" teriak Diego frustrasi.


Vino berhenti berjalan, ia berbalik berjalan ke arah Diego. "Gue kira lo lagi ngomong sendiri. Biasanya juga kan gitu lo suka ngomong sendiri. Lo kan gak waras."


Sebelah tangan Vino memegang kening Diego. "Tuh kan panas," gumamnya lalu pergi berbalik meninggalkan Diego.


"Emang ******* tuh si Vino! Gak tau apa ini tuh bikin atit banget tau," rengek Diego tengah memegang dada. Seolah-olah benar-benar terluka. Kemudian ia pun pergi menyusul Vino dan Alvaro yang sedang bermain basket.


Sementara Rio yang dari tadi diam kemudian tersenyum samar melihat ke arah ketiga temannya yang sedang bermain basket.


"Gue rasa cewek itu beda buat lo. Apa cewek itu udah bisa bikin lo sembuh? Kalo iya gue ikut senang Al," gumam Rio. Ia lalu pergi menyusul ketiga temannya.


**


"Jam 4 tepat, ah ... untung Bunda tadi gak rewel dan langsung makan jadi gue kan gak telat ke cafe," ucap Kanaya lega. Saat ini ia sedang duduk di kursi istirahat untuk karyawan.


Kanaya mengambil botol itu. "Terimakasih Kak Ardi. Tau aja kalo gue lagi haus." Ia pun meminumnya.


Ardi tersenyum melihat Kanaya. "Lo habis ikut lomba lari maraton? Keringat lo sampe kaya gini kaya abis mandi."


Ardi mengambil sesuatu dari kantong bajunya yang ternyata adalah sebuah saputangan. Ia lalu mengusap keringat di wajah Kanaya.


Kanaya tersenyum. Mengacungkan kedua jempolnya. "Makasih, Kak Ardi emang yang terbaik."


Ardi mengacak rambut Kanaya pelan.


"Gimana sekolah lo, lancar?" tanyanya lalu mendudukan diri di samping Kanaya.


Mata Ardi masih intens menatap Kanaya. Rasanya tak ada kata bosan untuknya memandangi wajah cantik Kanaya. Dua tahun ini Ardi hanya bisa mencintai Kanaya dalam diam tanpa berniat untuk memberi tahu Kanaya tentang perasaannya.


Karena menurutnya jika cinta sesederhana dan sebahagia ini lalu Kenapa harus ada status yang harus memperjelas semuanya. Ardi tak peduli dianggap sebagai apa di mata Kanaya, yang terpenting baginya hanyalah selalu bisa melihat Kanaya bahagia. Selalu bisa berusaha untuk melindungi dan membuatnya merasa aman dan nyaman saat bersama dengannya.


Karena menurutnya kebahagiannya adalah mencakup kebahagiaan Kanaya. Itu saja tidak lebih.


"Lancar dong, walalupun sedikit ada hukuman karena sedikit telat," ujar Kanaya antusias tanpa dosa.


Ardi mendelik. "Kalo itu mah bukan lancar bocah tapi lo bermasalah."


Kanaya mencebikan bibir saat Ardi menyentil keningnya pelan. "Yah ... kalo itu bukan salah gue. Tapi sekolahnya aja yang bikin jadwal kepagian. Kaya kuliah lo lancar aja pasti juga bermasalah." protes Kanaya.


Saat ini Ardi tengah berkuliah semester 3 di salah satu kampus negri di Jakarta. Sebenarnya Ardi adalah anak orang kaya, tapi ia hanya merasa jenuh dan ingin mencoba hal baru dengan bekerja. Hingga akhirnya menjadi pekerja parttime juga di cafe yang sama dengan Kanaya.


"Enak aja ... kuliah gue lancar yah. Jadwal kuliah gue kan gak pernah bentrok sama kerjaan," kata Ardi dengan bangga.


"Percaya ... percaya," jawab Kanaya asal sambil meledek.


Kanaya tersenyum jika kembali mengingat semua yang Ardi lakukan untuknya. Dia sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan masih mengirimkannya Malaikat pelindung seperti Ardi. Malaikat yang selalu menjaga dan membuatnya lebih kuat untuk menjalani kehidupan.


**


Suasana cafe malam ini ramai. Cukup untuk membuat Kanaya sibuk dan kelelahan mondar-mandir mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.


Saat ini Kanaya tengah berjalan membawa sebuah buku menu menuju ke meja pelanggan yang baru saja datang. Matanya masih fokus ke buku menu. "Selamat malam, ada yang bisa kami bantu. Mau pesan apa?"


Kanaya mencoba tersenyum untuk menyapa pelanggannya. Tiba-tiba matanya melotot kaget saat melihat siapa pelanggan itu.


"Ternyata lo kerja di sini. Kalau gue tau lo kerja di sini, di cafe sepupu gue. Mungkin setiap hari gue datang ke sini," ujar seorang cowok yang duduk di meja itu, yang tak lain adalah Alvaro.


Rasanya Kanaya ingin mengutuk apapun yang ada dan terjadi sekarang. Kenapa dunia sesempit ini sehingga dia harus bertemu cowok gila ini lagi di sini malam ini?


Kanaya mencoba tak mempedulikan kehadiran Alvaro di sana. Ia mencoba bersikap tenang dan memaksakan tersenyum ketiga orang lain yang juga ada di sana, yang tak lain adalah teman-teman Alvaro.


"Maaf ... ini buku menunya. Silahkan pilih pesanannya." Kanaya berusaha untuk tetap fokus ketiga orang lainnya dan berusaha menyapa seramah mungkin.


Kanaya yakin ini akan menjadi proses yang sangat lama. Bukannya ia tidak tahu bahwa dari tadi cowok itu, Alvaro terus saja memperhatikannya dengan sebuah senyuman yang sangat begitu memuakan bagi Kanaya.


"Tunggu sebentar ... pesanannya akan segera kami siapkan." Saat Kanaya akan beranjak pergi ada sebuah tangan yang memegang tangannya.


"Tadinya gue pengen lebih lama lagi di sini. Tapi sayangnya gue masih ada urusan. Tapi gue janji kita bakal ketemu lagi."


Kanaya memutarkan kedua bola matanya malas. Saat ini ia sedang berusaha meredam emosinya agar tidak meledak dan membunuh cowok gila itu sekarang. Dengan gerakan perlahan Kanaya melepaskan tangannya lalu beranjak pegi dari sana.


"Setelah ini gue bakal menghabiskan malam ini dengan cuci piring," gumam Kanaya pasrah, karena itu setidaknya lebih baik.


Sementara suasana di meja Alvaro. Ketiga temannya hanya saling lirik seolah mereka bertiga sedang berbicara lewat mata dan dengan kompak mereka mengangguk.


"Al ... itu target cewek baru lo?" tanya Diego akhirnya yang pertama membuka suara diantara mereka.


Alvaro menggeleng masih dengan senyumannya. "Bukan ... dia cewek terakhir gue." Ketiga temannya hanya saling pandang mendengar ucapan Alvaro barusan.


"Gue tau akhirnya lo bisa sembuh juga. Cewek itu yang satu-satunya yang berhasil buat lo sembuh," kata Rio ikut bahagia dan lega.


"Kayaknya kali ini lo butuh sedikit banyak perjuangan. Dia gak semudah ayam betina yg biasa lo taklukan," timpal Vino yang matanya masih tetap fokus pada ponsel.


"Yah gue tau. Akhirnya gue berhasil bisa turn on sama cewek juga."


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote & commentnya💜**