Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
22. Wanita Special



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Cinta bukan barang yang harus ada hak milik.


Cinta juga bukan tentang harus memiliki, tapi cinta bagaimana cara kita bisa menjaganya...


🐰


Seminggu setelah kejadian itu hubungan Alvaro dan Kanaya tidak ada yang berubah. Alvaro tetap menjadi cowok menyebalkan, suka memaksa, semaunya sendiri, egois dan satu lagi ... mesum. Mungkin saat ini mereka hanya lebih nyaman dalam menjalani semuanya. Membiarkan semuanya mengalir dengan sendirinya.


"Woy ... bocah ngelamun aja, tenang kok gaji lo bakal turun!" teriak seseorang yang kini sudah duduk di samping Kanaya.


Kanaya hanya tersenyum tipis saat melihat Ardi sudah duduk di sampingnya. Rasanya akhir-akhir ini dia merasa jauh dengan Ardi dan itu membuatnya merindukan sosok Ardi.


"Eh ... ditanya malah senyum-senyum doang nih bocah," seru Ardi gemas menyentil kening Kanaya.


Kanaya meringis sakit, memegang kening cemberut. "Lama-lama kening gue jadi benjol tau. Gara-gara lo sentil mulu Kak," protes Kanaya.


"Lebay lo ... lagian kenapa coba malah senyum-senyum sendiri?" tanya Ardi santai.


Tiba-tiba Ardi merasakan sebuah pelukan di tubuhnya. Ia hanya tersenyum dan kembali membalas pelukan Kanaya. "Kenapa? Pasti kalo kaya gini ada yang mau lo ceritain kan?" tanya Ardi lembut. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Kanaya.


"Gua kangen aja sama lo Kak," jawab Kanaya semakin menenggelamkan dirinya di pelukan Ardi.


"Gue tau ada yang mau lo ceritain kan?" tanya Ardi lagi. Ia lalu melepaskan pelukan dan menatap Kanaya lembut.


"Gue emang gak bisa nyembunyiin sesuatu dari lo Kak. Lo kaya cenayan tau aja apapun tentang gue," balas Kanaya terlihat merajuk.


Ardi terkekeh melihat Kanaya yang cemberut. Ia lalu mencubit sebelah pipi Kanaya gemas dan membuat yang punya pipi semakin cemberut.


Itulah Ardi seseorang yang selalu mengerti Kanaya dengan caranya sendiri. Tanpa Kanaya harus terlebih dahulu bercerita, tapi Ardi seakan selalu tahu apa yang ingin Kanaya ceritakan.


Kanaya juga bersyukur jika Tuhan memberinya rasa sayang ke Ardi hanya sebatas rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, bukan rasa sayang antara seorang wanita kepada seorang laki-laki. Karena jika itu sampai terjadi mungkin Kanaya tidak bisa senyaman ini dengan Ardi.


"Gue kayaknya jatuh cinta kak," gumam Kanaya pelan, bahkan terdengar seperti bisikan. Tapi untungnya Ardi bisa mendengarnya.


"Bagus ... berarti lo udah mulai dewasa Nay," balas Ardi lembut.


Kanaya hanya diam menatap Ardi yang tengah tersenyum menatapnya. Ada sebuah keraguan yang dirasakan, tapi dia bingung harus mengatakannya seperti apa awalnya.


"Apa yang lo raguin atau lo takutin?" tanya Ardi kembali.


"Lo pernah bilang waktu itu, saat kita udah ngerasaain jatuh cinta berarti kita udah siap untuk ngerasain yang namanya patah hati. Kayaknya gue belum siap untuk rasa sakit itu kak." Jujur Kanaya akhirnya. Matanya menatap ke arah bawah, seakan-akan ada pemandangan yang menarik untuk dilihat selain sosok Ardi di depannya.


"Lo lihat mata gue sekarang Nay, apa sebenarnya alasan Tuhan buat ciptain kita di dunia ini?"


Kanaya hanya menggeleng menjawab pertanyaan Ardi. Sebelumya Ardi menghembuskan napas kasar sebelum kembali berbicara.


"Karena Tuhan percaya bahwa kita mampu dan bisa buat menghadapi dan melewati kehidupan ini," kata Ardi kembali. Berusaha meyakinkan Kanaya dengan tatapan matanya.


"Cuman gue belun siap Kak dengan rasa sakitnya. Gue udah terlalu banyak ngalamin rasa sakit, lo pasti tau itu kak," ujar Kanaya pelan. Mungkin mulai merasa ragu dengan ucapannya sekarang.


Ardi kembali menghembuskan napas kasar berkali-kali. Sebenarnya ia juga bingung harus menjawab dan meyakinkan Kanaya bagaimana tentang semuanya.


"Gue tanya sama lo sekarang. Apa lo bahagia dengan rasa cinta yang lo punya sekarang?" tanya Ardi berusaha untuk memahami berada di posisi Kanaya.


Kanaya menggigit kecil bibir bawahnya, menandakan ia benar-benar dalam keadaan gugup dan bingung. Akhirnya sebuah anggukan Kanaya berikan untuk menjawab pertanyaan Ardi.


"Gue yakin waktu kecilpun lo pernah ngerasain namanya perasaan cinta dari keluarga lo. Sampai rasa sakit itu datang menghampiri lo waktu itu. Tapi lihat sekarang lo masih hidup kan, setelah semua yang terjadi," terang Ardi hati-hati mencoba memberi pengertian kepada Kanaya.


"Gue emang masih hidup sampai sekarang. Tapi rasa sakitnya saat ini masih gue rasain dan di sini masih ada," balas Kanaya dan menunjuk bagian dadanya.


"Rasa sakit itu hadir untuk membuat kita menjadi lebih kuat. Karena rasa sakit itu adalah sebuah rasa yang pasti setiap manusia pernah ngalaminnya. Sekarang tinggal kitanya yang mampu bertahan apa menyerah melawan rasa sakit itu?"


"Nay ... dengerin gue. Sampai saat ini lo masih bisa hidup dengan baik. Bahkan sampai sekarang lo masih bisa ngerasain perasaan cinta lagi. Gue yakin perasaan cinta itu mampu menyembuhkan luka lo lagi nantinya," kata Ardi berusaha membuat Kanaya mengerti.


"Gimana kalo gue sakit hati lagi?" tanya Kanaya yang masih yakin dengan ucapannya, membuat Ardi sedikit geram melihat kekeras kepalaan Kanaya.


"Lo bakal jatuh cinta lagi. Rasa cinta itu yang bakal nyembuhin luka lo itu lagi Nay. Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan kita menuju rumah kita yang sebenarnya. Saat terjatuh lo pasti bakal bangun lagi dan terus berulang seperti itu."


Ardi akhirnya tersenyum lega saat melihat Kanaya menganggukan kepalanya dan tersenyum simpul. Setelah itu sebuah pelukan kembali Ardi rasakan. Sebelah tangannya seperti biasa mengusap lembut kepala Kanaya.


"Makasih Kak," kata Kanaya sedikit terisak di pelukan Ardi.


"Lo cuman harus inget apapun yang terjadi. Gue selalu ada di sini buat lo."


Kanaya semakin mengeratkan pelukannya sambil masih terisak.


Setidaknya saat ini Ardi lega saat melihat Kanaya jauh lebih mengerti dengan semuanya.


Terluka ... Ardi juga manusia biasa yang mempunyai hati. Sekarang seberapa keras ia menyangkal tapi nyatanya hatinya tetap terluka saat orang dia cintai mencintai orang lain.


Tapi bukankah cinta Ardi dari awal sederhana. Sesederhana cintanya yang tak menuntut balasan. Karena bukankah tujuan awal cintanya adalah kebahagiaan Kanaya. Biarkan rasa cintanya ia pendam dan dibawa bersama raganya yang perlahan pergi dari dunia.


**


"Jadi mau langsung balik sekarang?" tanya Ardi saat melihat Kanaya melangkahkan kakinya menuju keluar cafe sambil sesekali mengintip amplop gajinya.


Kanaya sedikit terkejut lalu berbalik ke arah Ardi dengan sedikit cengengesan malu karena kepergok sedang mengintip uang gaji di depan umum.


"Jadi lah ... hari ini kan gue off dan ke sini cuman ngambil gaji doang. Jadi ngapain lama-lama di sini, mending langsung pulang," jawab Kanaya semangat dan antusias.


"Tadi aja nangis dan sekarang langsung semangat 45 setelah dapet gaji," sindir Ardi dan seperti biasa tangannya menjitak kepala Kanaya.


Kanaya cemberut mengusap kepalanya yang sedikit sakit. "Sakit tau."


Kanaya refleks menoleh ke depan cafe yang ditunjuk oleh Ardi. Seketika ia langsung terkejut saat melihat seseorang yang dikenal sedang bersandar santai di depan sebuah mobil.


"Ngapain sih dia ke sini? Suka banget ngeganggu kesenangan orang!" omel Kanaya pelan yang mendapat kekehan geli oleh Ardi.


 "Ya udah sana samperin. Semangat pejuang cinta!" goda Ardi dengan sedikit mendorong tubuh Kanaya pelan kedepan.


"Elah ... najis amat ngomongnya pejuang cinta," protes Kanaya tidak terima.


Kanaya yang cemberut tiba-tiba berubah menjadi tersenyum miring yang membuat Ardi sedikit curiga dan was-was.


"Ya udah gue balik. Tapi inget besok lo harus traktir gue eskrim. Dadah ... Kak Ardi sayang," pamit Kanaya sambil berlalu pergi membuat Ardi sedikit cemberut.


"Tuh kan ujung-ujungnya dompet gue yang kena," protes Ardi pura-pura terluka. Matanya terus menatap sosok Kanaya yang sudah berjalan keluar cafe. Sebuah senyuman dan  helaan napas lega ia rasakan saat ini.


"Sampai kapan lo kaya gini? Nyimpen dan nutupin perasaan lo sama dia?" tanya seseorang tiba-tiba yang membuat Ardi sedikit terkejut.


Ardi hanya menoleh sekilas dan seketika lega saat orang itu adalah Putri, orang yang jelas sudah tahu perasaannya.


"Sampai perasaan itu perlahan menghilang bersama raga gue yang perlahan pergi ninggalin dunia," balas Ardi ambigu yang membuat Putri tidak mengerti.


"Gak jelas lo. Cinta itu harus diperjuangkan bukan dipendem," ujar putri sedikit meringis dengan ucapan dia sendiri.


"Ini juga lagi merjuangin ... kepo," balas Ardi langsung meninggalkan Putri menuju dapur restoran.


Putri tersenyum miris melihat sosok Ardi yang perlahan berjalan menjauh menuju dapur restoran.


"Kok gue kaya lagi ngomongin diri sendiri. Tapi kan setidaknya gue udah belajar move on dengan punya pacar. Karena gue tau hati lo seutuhnya milik Kanaya, walaupun hati gue seutuhnya masih milik lo sekarang," gumam Putri sedih.


Putri lalu berjalan menuju dapur menyusul Ardi untuk kembali bekerja.


**


Kanaya melangkahkan kakinya keluar cafe dengan perasaan ketar-ketir, saat melihat Alvaro masih dengan santainya bersandar di depan sebuah mobil yang terus menatapnya intens.


Entahlah akhir-akhir ini Kanaya selalu dibuat sport jantung saat berdekatan dengan cowok itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuat salah tingkah tidak karuan.


"Kok pipi lo udah merah aja baru juga ketemu!" tegur Alvaro saat melihat Kanaya yang sudah berdiri di depannya.


Kanaya cemberut saat mendengar sapaan atau lebih tepatnya godaan Alvaro. Seperti yang Kanaya bilang walaupun cowok itu begitu terlihat manis waktu itu. Tapi tetap Alvaro adalah cowok menyebalkan dan rese menurut Kanaya. Sepertinya itu sudah bawaan dari bayi tidak bisa diubah.


"Ngapain lo di sini?" tanya Kanaya ketus.


"Mau jemput lo, ayo masuk! Gue mau ngajak lo pergi ke suatu tempat," balas Alvaro yang telah menyeret Kanaya masuk ke dalam mobil.


"Bisa gak hari ini gak ganggu gue dulu. Gue mau pulang!" tolak Kanaya berusaha melepaskan tarikan alvaro di tangannya.


"Emmm ...." Alvaro terlihat berpikir. "Enggak, ayo ikut!" jawabnya kembali menyeret Kanaya masuk ke mobil.


"Enggak!"


"Masuk!"


"Enggak!"


"Enggak!"


"Masuk!"


"Ok."


"Eh ...." Kanaya terkejut atas ucapannya barusan.


Kanaya menggeram marah saat ia ternyata masuk dalam jebakan Alvaro. Ia benar-benar marah saat cowok itu tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Ok ... pilih sekarang. Pilih masuk secara baik-baik atau masuk dengan cara gue gotong." Tawaran yang diberikan Alvaro benar-benar tawaran menjebak untuk Kanaya.


"Dasar tukang pemaksa!" maki Kanaya ketus. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.


"Hey ... hati-hati. Harga pintu mobil ini lebih mahal dari gaji lo setahun!" seru Alvaro pura-pura marah. Karena padahal ia sangat kegirangan melihat Kanaya akhirnya menyerah.


"Bodo amat! Sekalian aja gue bakar mobil ini nanti biar bisa dijadiin kayu bakar buat api unggun." Alvaro hanya menoleh sekilas ke arah Kanaya yang masih mengomelinya.


Ia mencoba mengabaikan Kanaya yang sudah menekuk muka masam. Mulai kembali menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan awalnya.


Keheningan menyelimuti mereka saat ini dan suara hembusan napas seakan menjadi pengisi keheningan itu.


"Lo mau bawa gue kemana?" Alvaro melirik Kanaya lewat ujung matanya, saat gadis itu akhirnya membuka suaranya lagi.


"Nanti juga lo bakal tau sendiri," jawab Alvaro yang masih fokus menyetir.


"Udah gue sangka jawabannya pasti kaya gitu."


Kanaya akhirnya lebih memilih melihat jalanan di samping kaca mobilnya lagi dari pada kembali memulai pembicaraan yang hanya akan membuatnya semakin emosi. Bahkan rasanya niat semakin ingin membunuh cowok di sampingnya itu kembali muncul.


"Gue mau bawa lo buat bertemu wanita special dalam hidup gue," kata Alvaro kemudian.


Wanita special. Apa maksudnya?


Kanaya ingin menanyakan pertanyaan itu langsung. Tapi entah kenapa pertanyaan itu terasa tercekat di tenggorokannya. Ia hanya mampu diam menunggu Alvaro kembali menjelaskan maksud ucapannya barusan. Tapi sayangnya Alvaro tidak berniat untuk kembali membuka suara dan masih fokus menyetir.


Akhirnya Kanaya memilih diam dan kembali melihat pemandangan di luar samping kaca mobilnya. Berusaha mati-matian untuk mengabaikan cowok itu. Seperti yang cowok itu lakukan sekarang padanya.


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote & Comment💜**