Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
11. Kencan II



Happy & enjoy reading 💜


Sorry for typo🙏


Karena tak selamanya senyuman melambangkan kebahagiaan.


Tak selamanya air mata juga melambangkan kesedihan.


Tapi jatuh cintaku itu kamu.


🐰


Kanaya pikir hari-harinya akan kembali damai dan tenang seperti dulu. Seperti saat sebelum bertemu Alvaro cowok mesum itu. Karena beberapa hari ini Kanaya bisa bernapas lega saat batang hidung Alvaro tidak ia lihat dan muncul. Walaupun ia harus seperti kucing-kucingan saat berada di lingkungan sekolah.


Bahkan Kanaya selalu berusaha untuk menghindari area-area ramai seperti kantin, lapangan dan toilet. Berusaha untuk menjaga agar tidak bertemu dengan Alvaro.


Hari ini adalah hari libur jatah Kanaya di cafe. Ia sudah merencanakan berbagai rencana indah di otaknya untuk mengisinya.


Dimulai dari pulang sekolah Kanaya sudah berencana untuk pergi bersama Maya. Karena menurut Maya hari ini ia mendapat bonus uang jajan lebih dari ibunya dan berjanji akan mentraktirnya eskrim sepuasnya. Setelah itu Kanaya akan menghabiskan waktunya bersama Bunda dengan mengajaknya berjalan-jalan sore di taman dekat rumah.


"Hah ... benar-benar hancur total semua rencana gue hari ini," gumam Kanaya frustrasi.


Karena pada akhirnya saat ini Kanaya harus kembali terdampar di mobil cowok sialan itu. Siapa lagi kalau bukan Alvaro.


"Dia kaya cenayang. Tau aja gue lagi bahagia dengan rencana-rencana indah gue hari ini. Berhasil banget ngancurin hari indah gue," lirih Kanaya benar-benar frustrasi memikirkan rencananya yang batal.


Pikirannya kembali teringat pada kejadian penculikan tadi di kelas. Kanaya saat itu sudah bersiap akan pergi ke luar kelas bersama Maya. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Alvaro di depan kelasnya. Tanpa berkata apa-apa Alvaro lalu menggotongnya seperti karung beras meninggalkan Maya yang masih heboh berteriak memanggil.


"Gue bener-bener harus siapin mental dan siapin kuping besok. Karena gue yakin Maya dan anak-anak yang lain bakal jadi wartawan dadakan besok."


Sementara Alvaro yang dari tadi sibuk menyetir, sesekali menoleh ke arah Kanaya yang terus menggerutu. Walaupun Alvaro yakin semua gerutuan kesal Kanaya ditunjukan untuknya. Tapi Alvaro sedikitpun tak merasa bersalah. Bahkan ia merasa terhibur dengan semua tingkah Kanaya yang menurutnya sangat terlihat lucu saat ini.


"Kayaknya lo berbakat jadi dukun. Habisnya mulut lo dari tadi komat-kamit seperti dukun yang lagi ngobatin pasiennya," ujar Alvaro sambil menirukan nyanyian sebuah lagu di ujung ucapannya.


Kanaya yang mendengar hanya mendelik tajam. Mencoba mengabaikan Alvaro dengan melihat jalan di samping kaca mobil.


"Kalo beneran jadi dukun gue daftar jadi pasien pertama lo. Gue minta buat bikin lo biar klepek-klepek mabuk kepayang sama gue." Lanjut Alvaro terkekeh.


Kanaya yang berusaha untuk mengabaikan Alvaro akhirnya kehabisan kesabaran.


"Mau lo apa sih gangguin gue mulu? Gue harus kerja," protes Kanaya akhirnya.


"Kerja di mana? Bukannya hari ini lo libur di cafe dan inget peraturan ke 3 Ka ... na ... ya ...."


Kanaya akhirnya menyerah untuk berdebat dengan Alvaro. Karena ia merasa seberapa keraspun berdebat dengan Alvaro, pada akhirnya itu hanya membuat tensi tingkat emosinya selalu meningkat.


"Dasar stalker!" umpatnya jengkel.


Alvaro hanya tersenyum penuh kemenangan, melihat Kanaya akhirnya diam tanda menyerah berdebat dengannya.


Akhirnya hanya keheningan yang menghiasi suasana mobil saat ini. Karena mereka memilih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


**


"Ngapain kita ke sini?" tanya Kanaya bingung.


Kanaya saat ini sedang berjalan di samping Alvaro. Karena Alvaro sejak turun dari mobil langsung menyeret paksanya masuk.


"Lo hidup di zaman apa sih? Masa gak tau fungsi bioskop buat apa?" Alvaro balik bertanya menahan geli.


Kanaya memutarkan matanya malas mendengar ucapan Alvaro. "Maksud lo serius mau ngajakin gue nonton? Aw ... romantis banget sih lo," ledek Kanaya.


"Biasa ... orang-orang pacaran juga suka nonton kan," balas Alvaro santai.


Sebelum Kanaya akan protes, Alvaro sudah terlebih dahulu meninggalkannya dan mengisyaratkan Kanaya untuk menunggu dengan tangannya. Kanaya yang malas berdebat akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang di samping.


Karena bosan lama menunggu, akhirnya Kanaya memutuskan untuk bermain game di ponsel.


"Perasaan gue kaya cabe-cabean deh. Udah pergi dipaksa terus ditinggal gitu aja sekarang."


"Seandainya monster ini si Alvaro sialan itu. Udah gue kubur hidup-hidup tau."


"Kenapa muka ganteng tapi kelakuan kaya iblis. Gak punya hati semaunya sendiri."


"Coba deh kelakuan dia manis gak nyebelin, terus gak bikin gue darah tinggi. Mungkin ... yah tau ah ...."


Saat ini Kanaya masih fokus dengan game di ponsel dengan berbagai umpatan kekesalan terus  dilontarkan. Bahkan Kanaya masih teruh mengumpat dan tidak sadar saat Alvaro sudah berdiri di depannya.


"Jadi udah ngakuin juga nih kalo gue ganteng. Emang sih yah pesona gue ini bikin cewek-cewek gak kuat apalagi lo, ya gak?"


Kanaya benar-benar ingin mengubur hidup-hidup cowok di depannya, yang dengan santainya tengah berdiri di depan setelah tadi menghilang meninggalkannya.


"Ya iyalah ganteng. Anjing tetangga gue aja ganteng sama kaya lo," balas Kanaya datar.


"Ya elah ... masa lo samain gue sama anjing," protes Alvaro tidak terima.


Kanaya hanya mengedikkan bahunya tidak peduli. "Ayo!"


Tangan Kanaya sudah ditarik oleh Alvaro. sebelum Kanaya sempat protes sekarang mereka sudah berhenti di sebuah pintu masuk yang terdapat sebuah poster film action.


Kanaya berheti, melepaskan tangangannya yang ditarik Alvaro. "Tunggu ... kita seriusan mau nonton film action. Kalau gitu gue gak mau, gue gak suka. Gue maunya nonton film drama romantis," potesnya tidak setuju.


Bagi Alvaro, Kanaya adalah suatu species  makhluk langka yang keberadaannya harus dilestarikan. Bertemu dengan Kanaya bagi Alvaro seperti bertemu sebuah OASE di sebuah padang pasir yang tandus.


Ada sesuatu yang tak mampu ia ungkapkan lewat kata. Tapi satu hal yang Alvaro tahu, ada sebuah perasaan hangat yang dirasakan. Perasaan yang selama ini telah ia anggap beku dan mati dalam hatinya.


"Film action itu lebih bagus buat kerja otak, apalagi buat otak lo yang lamban ini. Kalau film drama itu cuman bikin hidup kita lebih melankolis dan lebih cengeng dalam menjalani hidup," bela Alvaro tidak mau kalah.


"Gak semua film drama bikin cengeng yah. Terserah lah ... gue gak mau nonton film action pokoknya," protes Kanaya masih kekeh.


Perdebatan mereka menjadi keributan yang menjadi tontonan gratis bagi pengunjung bioskop yang lainnya. Alvaro yang pertama sadar menjadi pusat perhatian, langsung memegang tangan Kanaya dan membawanya pergi ke tempat yang lebih sepi.


"Lepasin ... jangan tarik-tarik yah!"


Alvaro yang melihat sikap Kanaya yang masih merajuk, akhirnya menghembuskan napas kasar beberapa kali. Berusaha untuk bersikap tenang.


"Ok ... kita gak bakal nonton film action atau pun film drama. Tapi kita bakal nonton film horor, adilkan?"


"Apa film horor? Lo gila apa?" Alvaro hanya mengedikan bahunya tidak peduli mendengar protes Kanaya.


"Kenapa takut?" tanyanya menggoda.


Saat ini posisi Alvaro begitu dekat dengan Kanaya, sampai Kanaya bisa merasakan hembusan napas Alvaro di wajahnya. Untuk sesaat Kanaya terpaku dengan jarak yang begitu dekat. Kanaya baru sadar bahwa Alvaro dengan jarak sedekat ini benar-benar terlihat sangat tampan.


Sementara Alvaro yang melihat Kanaya hanya diam melihat, lalu mengetuk kening Kanaya sedikit keras dengan tangannya. Membuat Kanaya sadar dan sedikit meringis kesakitan memegang kening.


"Ngelamun aja lo. Gimana berani gak nonton film horor?" tantang Alvaro.


Sebenarnya Kanaya takut dengan hal-hal yang berbau hantu. Ia lebih memilih bertemu preman-preman kasar di jalanan dari pada bertemu hantu. Tapi kalau sekarang mengaku takut, harga dirinya pasti akan benar-benar jatuh di depan Alvaro. Akhirnya demi menjaga harga dirinya yang sangat tinggi Kanaya menganggukan kepalanya.


"Ok ... kita nonton film horor," katanya putus asa.


Rasanya Kanaya ingin kabur dari tempat ini sekarang juga. Bahkan saat filmnya belum diputarpun hawa mencekam sudah dirasakan.


Alvaro yang melihat sikap Kanaya rasanya merasa geli sendiri. Bukannya Alvaro tidak tahu bahwa semenjak mereka masuk Kanaya sudah terlihat sangat ketakutan. Tapi ia sangat menikmati momen itu.


Karena walaupun Kanaya berusaha menutupi rasa ketakutan itu. Tapi tingkah lakunya tidak bisa membohongi, bahwa sedang ketakutan.


1 jam 45 menit terasa 24 jam bagi Kanaya. Akhirnya ia bisa bernapas lega saat sudah keluar dari gedung bioskop.


"Ngomong aja kali takut. Gak usah pura-pura sok berani," ledek Alvaro.


Saat ini mereka tengah berada di mobil Alvaro. Kanaya yang mendengar ucapan Alvaro barusan hanya mendelikan matanya malas. Sementara Alvaro tersenyum geli melihatnya.


"Karena kesempurnaan itu milik Tuhan yah. Sedangkan ketidaksempurnaan itu hanya milik manusia. Jadi wajar yah gue punya kekurangan, punya rasa takut sama hantu dan sebangsanya."


Sebenarnya Kanaya ingin merutuki apa yang barusan ia ucapkan. Ia hanya benar-benar merasa malu karena ketahuan takut sama hantu.


Kanaya masih ingat saat tadi di dalam gedung saat sedang nonton. Beberapa kali ia dan Alvaro jadi pusat perhatian. Hampir setiap menit Kanaya berteriak, bahkan Kanaya berteriak hanya mendengar suara musik yang kaget. Padahal matanyapun tak melihat adegan di film, karena memejamkan mata.


Ada hal konyol yang Kanaya lakukan tadi yang lebih parah. Saat ketika ia tanpa sadar saking takutnya melempar-lemparkan popcorn ke mana-mana dan mengenai penonton yang lain yang mendelik marah merasa terganggu. Satu lagi yang paling konyol yang ia lakukan. Saat ketika ia akan berlari ke depan ingin menutupi layar. Tapi sebelum Kanaya sampai, Alvaro sudah lebih dulu menahannya. Bahkan Alvaro berusaha meminta maaf kepada penonton yang lain dan kembali mengajak Kanaya duduk.


"Ha ... ha ... ha ... ha... sumpah gue gak kuat pengen ketawa kalau ingat kejadian tadi."


Akhirnya tawa Alvaro pecah saat dari tadi ia berusaha menahan. Kanaya yang merasa jadi bahan tertawaan Alvaro semakin mengerucutkan bibir kesal dan menekuk muka masam.


"Ya udah tertawa aja sepuas lo. Sampai lo gak bisa ketawa lagi seumur hidup lo selamanya," sewot  Kanaya ketus.


Alvaro yang melihat Kanaya semakin kesal, akhirnya berusaha menguasai diri untuk menghentikan tawanya.


"Sorry ... sorry ... gue kelepasan. Udah gak usah dipikirin mereka juga gak ada yang kenal sama lo."


Kanaya merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya lembut. Saat  menoleh ke samping ia melihat Alvaro tengah tersenyum begitu manis. Entahlah, rasanya saat Kanaya melihat senyum Alvaro ada sebuah perasaan nyaman dan tenang yang meliputi dirinya. Rasanya senyuman manis itu mampu membuat ia bisa melupakan kejadian memalukan barusan.


"Lo tau ... setiap orang pasti pernah mempunyai kejadian memalukkan dalam hidupnya. Gak usah terlalu dipikirin. Tapi anggap aja lo barusan udah ngasih sekeping kebahagiaan dengan membuat mereka tertawa," ucap Alvaro lembut.


Bukan kata-kata Alvaro yang mampu membuat Kanaya terpukau saat ini. Tapi tatapan mata dan senyuman Alvaro mampu menghipnotis dirinya saat ini. Bahkan jantung Kanaya sekarang terasa berhenti berdetak saat tangan Alvaro yang semula berada di kepala kini berpindah mengusap lembut pipinya.


Rasanya ada maghnet yang mampu membuatnya diam. Saat tangan Alvaro telah berpindah memegang lembut dagunya dan secara perlahan Alvaro mulai mendekatkan wajahnya.


Kanaya bahkan saat ini bisa merasakan hembusan napas Alvaro yang beraroma mint berhembus di wajahnya.


"Gue mau lo sekarang Naya," bisiknya tepat di samping telinga Kanaya.


Kanaya hanya diam saat sesuatu bertekstur lembut yang tak lain bibir Alvaro menyentuh bibirnya. Ia hanya bisa memejamkan mata saat merasakan bibir Alvaro mulai bermain-main di sana.


Kanaya mulai hanyut dan terbuai dalam sentuhan bibir Alvaro di bibirnya yang semakin dalam. Sekarang Kanaya mulai menikmati dan mengikuti permainan Alvaro.


Sementara Alvaro sangat menikmati rasa lembut bibir Kanaya di bibirnya. Walaupun ini bukan ciuman pertama untuknya. Tapi rasanya ini rasa ciuman paling nikmat dan memabukan untuknya. Ternyata benar Kanaya sudah menjadi candu untuknya mulai saat ini. Setiap sentuhan Kanaya di tubuhnya sangat berepek sangat fatal untuknya.


Alvaro mulai melepaskan sentuhan bibirnya di bibir Kanaya. Saat dirasa pasokan udara mereka mulai berkurang. Karena ia tidak mau mati konyol karena kehabisan napas saat berciuman. Tidak elit sekali cara matinya.


Sebuah ciuman di kening menutup segalanya malam ini. Menciptakan suasana canggung yang luar biasa di antara mereka. Malam ini satu hal yang mereka tahu, mereka mulai saling membutuhkan dan perasaan aneh mulai muncul di antara mereka berdua.


Mungkin malam ini akan menjadi malam terindah untuk mereka berdua. Bahkan mereka takkan mungkin bisa melupakan malam ini. Walaupun dua hati ini masih saling enggan untuk mengakui perasaan mereka masing-masing.


Biar waktu yang menjawab semuanya.


Thanks for reading💜


Jangan lupa vote & comment💜