Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
41. Penjelasan



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo 🙏**


Takdir selalu menyapa kita dengan permainannya yang terkadang sapaan sangat tak terduga.


🐰


Sudah hari ke lima semenjak kepergian Kanaya tanpa jejak dan tanpa kabar. Sekaligus menjadi hari kelima yang sangat panjang, hancur, hampa serta kosong untuk Alvaro.


Alvaro benar-benar menyesal tidak mengenal Kanaya lebih dalam. Ia tidak tahu tentang pihak keluarga Kanaya yang lain untuk bisa dihubungi. Bahkan Maya sahabat Kanaya juga tidak bisa memberikan informasi lebih untuknya.


"Arghhhhh ...!" teriak Alvaro. Ia kembali melempar ponselnya. Ini adalah ponsel kedelapan yang Alvaro lempar selama lima hari ini.


Prang.....


Dan itu gelas ke 29 yang ia pecahkan, tidak terhitung kaca, piring dan mangkuk. Perbuatannya ini mampu membuat petugas kebersihan yang selalu membereskan apartmennya berniat untuk mengundurkan diri.


Alvaro juga belum sempat ke rumah sakit untuk menjenguk Papanya. Sebenarnya bukan untuk menjenguk tapi lebih tepatnya untuk menjawab rasa penasarannya. Karena di surat terakhir Kanaya ada perihal hubungan dengan Papanya.


Bukannya Alvaro tidak ada waktu, tapi ia hanya sedikit masih muak melihat papa. Rasa luka yang papanya torehkan untuknya dimasa lalu tidak semudah itu untuk bisa sembuh. Tapi saat ini Alvaro sudah menemui jalan buntu untuk menemukan Kanaya. Jadi terpaksa akhirnya ia harus menemui papanya.


Alvaro tidak begitu menyukai aroma rumah sakit. Karena aroma itu mengingatkannya kembali saat Ibunya dibawa ke sini dan dinyatakan meninggal.Karena ia berjalan di lorong rumah sakit tidak memperhatikan jalan dan sibuk dengan ponsel, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang mengakibatkannya dan orang itu jatuh bersamaan.


"Duh ... maaf saya tidak sengaja," ujar orang itu membungkuk sopan.


Alvaro berdiri, balas mengangguk pelan. "Iya ... saya juga minta maaf," ujarnya sopan.


Wanita itu terlihat menyesal. "Maaf ... karena ponsel kamu harus jatuh," ujarnya lirih.


Alvaro lalu melihat ke arah wanita itu lihat, dimana ponselnya sudah jatuh mengenaskan. "Oh ... Tidak papa bukan masalah."


"Beneran tidak apa-apa?" tanya wanita itu kembali memastikan.


Alvaro mengangguk. "Iya tidak papa," balasnya sopan.


"Syukur deh ... kalau begitu saya permisi," pamit wanita itu lalu pergi meninggalkan Alvaro.


Alvaro melihat wanita itu sudah bersama seseorang yang menurutnya penampilannya itu sangat aneh.


Alvaro menggeleng. "Ada orang yang lebih setres dari si Diego. Ke rumah sakit pake jaket yang nutupin kepala, kaca mata hitam dan masker."


Alvaro mengangkat bahu tudak peduli. Sekilas matanya jatuh pada ponselnya yang sudah mengenaskan di bawah. Ia mendengus pelan, setelah itu kembali berjalan menuju kamar rawat papanya. Tepat saat melewati wanita dan orang aneh itu, tiba-tiba langkahnya terhenti sesaat. Ada sesuatu yang terjadi dengan tubuhnya.


Deg....


Alvaro merasa ada yang aneh dengan hatinya saat berjalan tepat melewati dua orang itu. Ia lalu menggeleng untuk menyangkal semua perasaan aneh itu dan kembali berjalan melewatinya.


Sementara orang yang memakai jaket tiba-tiba terdiam, saat ia tengah berbicara membuat orang di sampingnya menatap heran.


"Kenapa?"


Orang yang memakai jaket itu menggeleng. "Gak papa ... ayo Kak kayaknya udah selesai pemeriksaannya."


"Iya ... ayo."


Di lain tempat Alvaro merasa ragu untuk masuk dan berniat untuk kembali pulang. Ia menatap pintu kamar rawat papanya bimbang.


"Enggak ... enggak ... gue harus masuk buat tau semua jawabannya."


Saat Alvaro membuka pintu, terlihat papanya tersenyum menatap ke arahnya. "Alva ... kamu datang."


Alvaro hanya berjalan menatap datar papanya, membuat papanya kembali bertanya. "Ada apa Alva?"


"Jelasin semuanya," kata Alvaro langsung.


Papanya mengernyit bingung. "Ada apa Alva?" tanyanya lagi heran melihat raut muka Alvaro.


"Aku mohon jangan buat ini semua semakin sulit," balas Alvaro datar.


Posisi ini dimana semuanya hanya membuat Alvaro merasa sangat sulit untuk bertindak. Sebenci dan sekecewa apapun ia terhadap papanya, tapi darah yang sama yang mengalir di tubuhnya membuat hati kecil tak dapat memungkiri kalau nyatanya menyayangi papanya.


"Apa hubungan anda dengan keluarga Kanaya?" tanya Alvaro mulai melunak.


Alvaro menggeleng, memotong ucapan papanya. "Saya tidak butuh permintaan maaf, tapi saya butuh penjelasan anda sekarang juga."


Papanya berdehem kecil mencoba untuk merilekskan diri. Ia tahu cepat atau lambat semua perbuatan jahatnya dimasa lalu sedikit demi sedikit akan terkuak. Tapi satu hal yang dia harapkan semua perbuatan jahatnya itu, tidak akan pernah mempengaruhi kebahagiaan anak-anaknya. Tapi kenyataannya semuanya terjadi. Kedatangan gadis itu, Kanaya waktu itu membawanya pada satu fakta yang membuatnya semakin merasa bersalah. Ia hanya berharap apa yang dilakukan biarkan ia sendiri yang tanggung akibatnya. Biarkan Tuhan hanya menghukumnya saja, jangan libatkan orang-orang yang dia sayangi termasuk kebahagiaan putranya.


"Pah ...," ujar Alvaro, membuat papanya tertegun karena untuk pertama kalinya setelah kejadian itu Alvaro kembali menyebutnya papa.


"Saya mohon ... tolong jelaskan semuanya. Jangan membuat saya semakin membenci anda. Jangan sampai rasa peduli yang tertinggal ini berubah menjadi benci lagi."


Papanya terharu, tersenyun menatap Alvaro. "Terimakasih Alva." Ia menyeka sudut matanya."Rama Jayakusuma adalah teman papa dari jaman SMA. Kita sangat dekat dan kita bahkan sudah seperti keluarga."


"Rama Jayakusuma," gumam Alvaro lirih.


Papanya mengangguk. "Yah ... Rama Jayakusuma adalah Ayahnya Kanaya dan di SMA ini papa juga bertemu dengan Laras dan akhirnya kami berpacaran."


"Saya tidak butuh untuk mendengar kisah cinta anda," seru Alvaro berusaha untuk menahan amarahnya.


Papanya kembali menggeleng. "Ini semua ada hubungannya." Menatap Alvaro penuh harap. "Akhirnya kita bertiga selalu bersama sampai di bangku kuliah dan di sini Papa bertemu mama kamu. Dia adalah gadis baik, cantik, populer dan kaya. Laras tidak menyukai mama kamu, lebih tepatnya dia iri dengan apa yang mama kamu punya."


"Karena kalian adalah keluarga miskin," timpal Alvaro menahan amarahnya.


Papanya mengangguk. "Iya Papa dan Laras berasal dari keluarga miskin. Sedang Rama berasal dari keluarga berada. Hingga akhirnya kita lulus kuliah, Papa dan Rama berpisah. Papa mulai bekerja di sebuah perusahaan bersama Laras. Dan di sinilah semuanya dimulai."


Papanya menatap Alvaro penuh penyesalan. "Kita bertemu dengan Mama kamu lagi. Ternyata mama kamu adalah anak dari yang punya perusahaan, yaitu omah kamu. Kebencian dan keirian Laras akhirnya kembali memuncak. Sampai akhirnya Laras membuat rencana dimana dia menyuruh Papa untuk mendekati mama kamu dan berpacaran dengannya. Sedangkab Laras akan mendekati mama kamu dan berpura-pura menjadi sahabat mama."


Alvaro mengepalkan kedua tangan menahan amarah. "Berengsek! Kalian tidak pantas dibilang manusia!"


Rasanya Alvaro semakin muak mendengar cerita ini. Ia tidak habis pikir dimana hati mereka waktu itu. Sampai mereka setega itu berbuat hal itu kepada mamanya. Apa mereka pikir mamanya itu seperti patung yang tak punya hati dan tak bisa terluka?


Papa Alvaro berusaha menggapai tangan Alvaro, tapi Alvaro menjauhkan tangan. "Alva dengerin papa dulu. Papa tau salah tapi kamu harus tau semuanya."


Alvaro mengangguk tanpa memandang papanya. "Iya silahkan lanjutkan."


"Sampai akhirnya Papa dan Mama berpacaran selama 3 tahun dan akhirnya kita menikah. Jujur waktu itu Papa sudah mulai tersentuh dengan ketulusan mama kamu, tapi sekali lagi Laras dengan pikiran piciknya ingin terus menguasai harta mama kamu. Sampai akhirnya Laras terus menggelapkan dana perusahaan. Oh ... iya beberapa tahun setelah papa menikah, Rama bekerja di perusahaan Papa karena bisnis keluarganya waktu itu sedang terpuruk."


"Dan anda menjadikan Rama Jayakusuma sebagai tumbal dari kasus penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh Laras," cetus Alvaro tepat sasaran, membuat Papanya hanya menunduk menyesal.


Alvaro semakin berusaha menghubungkan semua benang merah antara cerita Kanaya waktu itu dan cerita papanya.


"Papa menyesal Alva ... Papa benar-benar menyesal Alva," lirinya.


"Tapi penyesalan anda tidak akan membuat Rama jayakusuma kembali hidup. Gara-gara anda Kanaya harus menanggung semuanya sendiri." Ada penekanan dalam setiap ucapannya.


"Maafin Papa Alva ... maaf," kata papanya benar-benar menyesal.


Alvaro menggeleng. "Kata maaf anda tidak ada artinya saat ini," katanya hati-hati. "Tapi setidaknya anda bisa kembali belajar untuk kembali menjadi manusia baru lagi yang punya hati."


Setelah itu Alvaro pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan papanya yang tertunduk dan tenggelam dalam sebuah penyesalan tak berujung.


Alvaro sekarang sedang berada di rootrof rumah sakit. Mengetahui kenyataan ini membuat lukanya kembali menganga dan hidupnya terasa hancur.


Tuhan sebenarnya apa permainan takdirmu ini maksudnya? Kenapa semuanya semakin menjauhkan Alvaro dari orang yang dia sayang.


"Maaf Nay ... maaf ... seandainya aku bisa kembali ke masa lalu. Aku gak akan biarin ini semuanya terjadi maaf Nay ... maaf."


Tiba-tiba ponselnya berdering, Alvaro lalu mengangkat panggilannya.


"Iya Halo."


"........."


"Apa gak mungkin ... gak mungkin!"


" ......... "


" Shit ... saya akan segera ke sana sekarang juga."


Setelah itu Alvaro meninggalkan tempat itu menuju tempat dengan sebuah luka baru dan sebuah masalah baru lagi.


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote & Comment💜**