
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Takdir seakan memintaku untuk memilih. Apakah harus bertahan pada cinta yang baru? Atau memilih pergi untuk cinta yang telah lama.
🐰
"Aku sayang kamu yang ... sayang banget"
"Iya ... aku juga sayang ... banget sama kamu yang."
Kanaya memutarkan kedua mata malas melihat adegan drama korea live di depan matanya, yang sering terjadi berulang-ulang akhir-akhir ini.
"Ehemmmm ...."
Kanaya mencoba untuk mengingatkan dua orang yang sedang dimabuk cinta di depannya. Bahwa di sini bukan hanya mereka berdua, tapi ada juga seorang gadis imut dan polos yang belum pantas menonton adegan dewasa ... yaitu dirinya.
"Apa kalian tidak tau apa itu sebuah pernikahan yang bisa menghalalkan adegan dewasa kalian?" sindir Kanaya membuat dua manusia itu menatapnya.
"Apa anda juga tidak tau kalau adegan dewasa ini tidak baik ditonton untuk anak di bawah umur?" tanya balik satu-satunya laki-laki di ruangan itu.
"Apa anda tidak tau yang mana ruangan privacy dan mana ruangan publik?" tanya kanaya lagi. Ia sudah mengambil 3 toples cemilan ke atas pangkuan.
"Dan apakan anda ...?"
"Stop ... mau sampai kapan kalian ber anda-anda?" omel Dinda yang sudah tidak tahan mendengar keributan dua makhluk ini yang tidak pernah ada ujungnya.
Kanaya memasukan cemilan ke mulut. "Dia yang mulai duluan Kadin ... Kak Dimas duluan yang mulai."
Dimas mendelik tajam ke arah Kanaya. "Kamu Nay yang mulai." Tatapannya berubah memelas ke arah Dinda. " Yang ... kamu lihat sendirikan tuh bocah yang mulai tadi."
Dinda memutar kedua matanya malas. "Terserah kalian. Lebih baik sekarang kalian diam karena aku mau fokus nonton drama korea."
"Lo cih ... kak ... oo rewweece ... juadhi kha dinnnd marwah," ujar Kanaya dengan mulut yang penuh dengan cemilan.
"Yang tau gak yang ... kemarin aku nonton drama korea live yang so sweet gitu," kata Dimas antusias, membuat Dinda mulai tertarik mendengarnya.
"Di mana yang?" Seperti dugaan Dimas kalau Dinda mulai tertarik dengan ucapannya, membuat Kanaya yang duduk di sofa samping diam-diam juga melirik penasaran.
Entah kenapa firasat Kanaya mulai tidak enak, saat Dimas meliriknya dengan senyuman jahil penuh kemenangan. Karena biasanya senyuman itu ditunjukan untuk meledeknya.
Walaupun Kanaya baru mengenal Dimas belum ada segenap satu minggu. Tepatnya saat Kanaya dan Bunda mulai tinggal di rumah Dinda. Tapi dalam waktu sesingkat itu cukup untuk membuatnya mengenal Dimas pacar kak Dinda itu cukup baik. Saking baiknya rasanya ia ingin merujak Dimas menjadi rujak bebek.
Waktu itu Kanaya memutuskan untuk pergi lebih tepatnya melarikan diri. Saat pelarian dirinya tidak sengaja bertemu di jalan dengan Dinda. Waktu itu Dinda langsung menawari untuk tinggal bersamanya. Akhirnya karena keadaan yang memaksa, Kanaya menerima untuk tinggal di rumah Dinda sampai suasananya kembali menjadi normal. Sampai dia bisa kembali menata hatinya dan tahu harus bersikap seperti apa terhadap ... Alvaro.
Dinda dan Dimas hanya saling lirik saat melihat Kanaya kembali melamun. Mereka tahu dibalik sikap ceria dan semangat gadis itu, menyimpan setumpuk masalah yang selalu berusaha Kanaya sembunyikan lewat senyuman.
Dimas berdehem untuk mencairkan suasana. "Yang ... tau gak kemarin itu aku lihat kisah drama cinta yang romantis dan mengharukan gitu." Tatapan matanya menatap Dinda untuk mengajak bekerjasama.
Dinda yang mengerti tatapan Dimas langsung mengangguk. "Di mana yang?" tanyanya pura-pura antusias.
Berhasil ... Dimas dan Dinda bersorak riang dalam hati saat melihat Kanaya melihat mereka mulai tertarik dan penasaran. Setidaknya hanya dengan cara ini mereka bisa sedikit menghibur Kanaya.
"Itu loh ... waktu kemarin aku nganter anak gadis eh ... pas di sana sigadis itu bertemu pangerannya. Mereka di sana sedikit berdebat. Terus sipangeran mencium kening sigadis, tapi sigadis pura-pura marah dan pergi dan kamu tau yang ... sipangeran berlari mengejar si ... aw ...." Dimas mendelik marah ke arah Kanaya karena melempar satu toples mengenai kepalanya.
"Diem gak onta arab mau aku kandangin hah!" Kanaya kembali melempar-lempar snack ke arah Dimas.
Dimas yang masih berusaha menghalau serangan mendadak Kanaya menatap jengkel Dinda yang malah tertawa di sampingnya.
"Eh ... emang benerkan ulekan sambel kemarin itu sang pangeran ... aw!" Dimas mengusap kepalanya lagi yang kembali dilempari toples makanan oleh Kanaya.
Jari telunjuk Kanaya menunjuk Dimas. "Diem gak di situ onta arab, kalo enggak aku karungin dan dikirim ke Arab lagi!"
Dinda semakin tertawa melihat keributan Kanaya dan Dimas yang sungguh sangat lucu. Ia senang karena dua orang yang dia sayang akhirnya bisa akrab, hanya dalam waktu yang singkat. Walaupun keakraban mereka seperti kucing dan tikus.
Dimas meringis, memegang wajahnya yang sakit. "Brutal banget sih ade kamu. Kok bisa yah si Ardi sayang banget sama dia ...." Dimas menutup mulutnya sendiri, karena sudah keceplosan berbicara.
Dimas melirik Dinda dan Kanaya yang tiba-tiba berubah menjadi diam. Ia mengutuk mulutnya yang suka keceplosan dan tidak terkontrol dalam berbicara. Seharusnya ia harus selalu ingat jika nama 'Ardi' adalah nama yang mampu membuat sedih dua gadis itu.
Kanaya berdiri, menatap Dinda dan Dimas bergantian. "Kadin ... Kadim aku balik kamar dulu yah, sekalian mau lihat Bunda dulu di kamar."
"Iya ... Nay," jawab Dinda dan Dimas bersamaan.
"Sorry ... yang aku keceplosan," kata Dimas, saat Kanaya sudah tidak ada di sana.
Dinda menggeleng, lalu menyandarkan kepala di bahu Dimas. "Gak papa ... kita berdua cuman terlalu kangen sama Dia."
Dimas mengecup pucuk kepala Dinda sayang. "Aku ngerti yang." Lalu merengkuh Dinda dalam pelukan.
Sementara Kanaya sekarang sedang menyandarkan tubuh ke bahu ranjang. Setelah tadi sempat melihat Bunda di kamar yang sudah tidur, lalu kembali ke kamarnya ah bukan lebih tepatnya kamar Ardi.
Kanaya berdiri, berjalan ke arah balkon kamar. Ia memejamkan matan secara perlahan, mencoba menikmati udara malam yang begitu dingin.
"Haruskah semuanya berakhir seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Sejauh apapun ia berusaha pergi dan sejauh apapun berusaha menghindar dari Alvaro. Tapi pada akhirnya hati dan pikirannya selalu kembali jatuh dan pulang pada cowok itu.
"Apa yang harus gue lakuin Kak? Kadang gue pengen banget lo jemput gue, biar gue bisa pergi nyusul lo Kak."
Dibalik kesedihannya saat ini ada satu hal yang Kanaya syukuri, yaitu sebuah keluarga baru yang ia punya. yang masih ada hubungannya dengan Ardi.
Kehadiran Dinda dan Dimas di hidupnya memberikan warna sendiri dalam kehidupan Kanaya. Sebuah warna yang mampu membuat hidup Kanaya menjadi lebih berarti.
"Terima kasih Kak Ardi. Sampai udah gak ada di dunia pun lo masih selalu nepatin janji lo buat selalu bikin gue bahagia."
Kanaya memandang jauh kedepan. Mencoba meresapi semua yang terjadi padanya beberapa hari ini. Semoga semua ini cepat berakhir.
**
Sementara di sebuah kamar tiga orang cowok tampan saling lirik satu sama lain. Seolah mereka sedang mengirimkan sinyal percakapan tersembunyi, untuk membahas satu orang cowok yang sedang asyik bermain playstation di depan mereka.
Diego menggaruk kepalanya bingung. "Lo berdua ngapain sih tatap-tatapan kaya gitu? Apa jangan-jangan bener kalau kalian ada 'hubungan'?" tanya Diego mulai panik, lalu menjauhkan dirinya dari Vino dan Rio.
Vino dan Rio saling lirik malas dan mengusap dada sambil menekankan kata sabar dalam hati karena mempunyai teman seunik Diego.
"Rio J&E malam gini buka gak sih?" tanya Vino sangat serius.
Rio tampak berpikir, melihat Vino heran. "Ngapain nanyain J&E?"
Lewat tatapan mata Vino seakan kembali mengirim sinyal percakapan dan langsung dimengerti Rio. "Buka ... ada yang masih buka kok."
Vino tersenyum misterius. "Rumah lo ada duskan? Ambil sana cepet sekarang!"
Rio mengangguk mantap. "Ok ... bentar, gue ambil dulu."
Diego yang mendengar percakapan Vino dan Rio hanya menatap bingung dan tidak mengerti. Ia jadi berpikir apa karena otaknya yang kurang, apa mereka yang terlalu pintar sampai dia menjadi bingung sekarang.
"Sebenarnya lo mau ngirim apa sih ke J&E?" tanya Diego dan hanya mendapat senyuman misterius dari kedua temannya.
Dengan gerakan perlahan Vino dan Rio mendekat ke arah Diego, membuat Diego refleks mundur saat jarak kedua temannya semakin dekat dengannya.
"Gue dapet kakinya!" seru Vino sudah mengangkat kaki Diego.
"Gue juga udah dapat tangannya!" Dengan bangganya Rio mengangkat tangan Diego ke atas.
Diego berontak. "Heh ... ngapain kalian lepasin gue!" teriaknya, tatapannya beralih kesatu temannya yang masih asyik dengan playstation. "Al ... tolongi ... gue mau di nodai! Oh ya Tuhan ... gue masih perawan tolong!"
Alvaro hanya menoleh sebentar, mengangkat bahunya tidak peduli dan kembali melanjutkan permainan playstationnya.
"Oh ya Tuhan ... kalian akan dihukum karena udah melecehkan gue. Apalagi lo Rio hukuman berat, karena lo sebagai pihak tuan rumah!" Sementara kedua temannya tidak merespon jeritan frustrasi Diego.
"Berisik ... nih Rio iket tangannya!" Vino melempar sebuah tali kearah Rio, ia mengikatkan sebuah tali lain untuk mengikat kaki Diego.
"Selesai," ujar Rio bangga saat sudah selesai mengikat kedua tangan Diego keatas ranjang.
"Yeeee ... akhirnya ...." Vino dan Rio merayakan keberhasilan mereka dengan bertos ria.
Sementara Diego mencoba menggulingkan badan, tapi sayang karena tangannya terikat pada ranjang. Ia sedikit meringis. "Tega lo ... gue laporin mami lo berdua."
Vino dan Rio hanya mengedikan bahu tidak peduli dengan rengekan Diego. Tatapan mereka kembali fokus ke arah satu teman mereka yang mulai mendekati level tidak waras, karena sudah lebih dari 4 jam bermain playstation tanpa berhenti sedikitpun.
"Kita mesti lakuin sesuatu buat si Alvaro," ujar Rio yang langsung diangguki setuju oleh Vino.
"Iya ... kita harus bertindak sekarang," balas Vino setuju.
"TOLONG LEPASIN GUE!"
"BERISIK!"
"DIEM GAK ... KALO GAK DIEM KITA DUSIN DAN KITA KIRIM KE ISRAEL! IYA GAK RIO?"
"Yoi ... lumayan buat bantu senjata perang buat lawan mereka!" jawab Rio mantap.
Malam ini di kamar Rio diwarnai oleh rengekan Diego, yang akhirnya dilepaskan setalah 3 jam kemudian. Mereka juga mendapatkan sebuah misi baru, yaitu misi menyatukan cinta Alvaro.
**Thanks for reading🙏
Jangan lupa vote & comment💜**