
**Happy & enjoy reading💜
Sorry for typo 🙏**
Karena cinta membuat semuanya menjadi lebih indah.
Biarkan waktu menjadi saksi tentang prosesnya
🐰
Hari ini Alvaro bersikap sangat manis melebihi manisnya permen gulali favorit Kanaya. Entah berapa kali Kanaya dibuat terbang dan tersipu malu oleh sikap manis Alvaro. Bahkan gombalan receh Alvaro yang biasanya terdengar begitu memuakkan, tapi sekarang malah terdengar romantis oleh Kanaya.
Ah ... mungkin ini yang namanya jatuh cinta.
"Nay tunggu bentar di sini yah. Gue mau beli eskrim dulu karena lo pasti haus." Kanaya hanya mengangguk, setelah itu Alvaro pergi.
Kanaya mendudukan dirinya pada salah satu bangku yang kosong. Maklum hari ini taman kota begitu ramai karena ada acara pameran oleh salah satu Kampus Negri. Berbagai macam aneka makanan daerah, pernak pernik daerah ada. Bahkan setiap stand pun bertema adat daerah, benar-benar unik.
Sebenarnya dia dan Alvaro tidak berniat untuk pergi ke pameran ini. Tapi berhubung tadi mereka kelaparan saat pulang dari pemakaman dan kebetulan mereka melihat pameran ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk mampir mencari makanan di sini.
Akhirnya mereka terjebak di sini sekarang. Tapi Kanaya merasa bahagia, karena ia terjebak dengan Alvaro ylselalu bertingkah ajaib yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
"Permisi boleh saya duduk di sini," sapa seseorang, membuat Kanaya menoleh dan tersenyum sopan untuk mempersilahkan.
"Kamu sendiri?" tanya orang itu membuat Kanaya kembali menoleh.
"Enggak Kek, saya bareng teman saya," jawab Kanaya sopan. Ia sedikit canggung karena orang di sampingnya adalah seorang kakek kira-kira berumuran di atas 60 tahun.
"Kalau saya sendiri," katanya, Kanaya hanya tersenyum simpul menanggapinya.
Sebenarnya Kanaya agak risih juga, karena sedari tadi kakek itu terus menatapnya. Demi sebuah kesopanan ia hanya membiarkan kakek itu tanpa berani menegurnya.
"Saya bukan asli orang sini. Saya di sini sedang mencari seseorang," kata Kakek itu kembali.
"Seseorang yang tidak pernah bertemu dengan saya, tapi terikat ikatan batin yang sangat kuat dengan saya," lanjut kakek itu lagi. Kanaya menoleh sedikit tertarik dengan ucapan kakek itu.
Tunggu... sepertinya Kanaya baru sadar jika kakek itu ternyata seorang bule. Ia pikir saat kakek itu bilang bukan orang sini maksudnya seperti dia bukan berasal dari Jakarta tapi dari daerah lain yang masih berada di Indonesia.
"Kakek seorang bule?" tanya Kanaya dan langsung mendapat anggukan setuju dari kakek itu.
"Kenapa kamu baru bertemu dengan seorang bule tampan seperti saya?" tanya balik kakek itu dengan sombong.
Kanaya mendecih, kakek itu ternyata menyebalkan dengan tingkat kesombongan yang luar biasa.
"Kamu punya aura yang berbeda dan saya suka waktu pertama lihat kamu tadi." Kanaya refleks menoleh dan mendapati kakek itu sedang tersenyum ke arahnya.
"Ya Tuhan! Apa saat ini gue lagi ditembak oleh seorang kakek yang jatuh cinta pada pandangan pertama sama gue," gumam Kanaya frustrasi.
Kanaya tidak menyangka jika hari ini akan ada dua orang lelaki yang menyatakan cinta kepadanya. Tapi setidaknya ia bersyukur kalau Alvaro menyatakan cintanya terlebih dahulu sebelum kakek itu.
"Hey ... anak muda jangan kamu pikir saya sedang menyatakan cinta kepadamu! Anak muda sekarang tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi ckckckc ...," kata Kakek seperti berpura-pura kesal.
Kanaya merengut kesal mendengarnya. Kakek itu benar-benar menyebalkan dan benar-benar menguji kesabarannya.
"Maksud saya itu saya menyukai kamu. Karena kamu mempunyai aura baik yang akan membuat orang yang berada di sekitar kamu akan tertular aura baik kamu itu," kata Kakek menjelaskan.
"Aura ... Kakek seorang paranormal yah? Aku baru tau kalo ada seorang paranormal seorang bule. Tapi eh ... pasti kakek bule gadungankan. Masa ngomongnya gak ada bule -bulenya!" tuduh Kanaya curiga.
Pletakkkk....
"Aw ... sakit kek. Kenapa kepala aku digetok aduh sakit," ringis Kanaya terus mengusap kepalanya.
Kanaya merengut sebal saat kakek itu sekarang sedang tertawa melihatnya. Untung kakek-kakek jika bukan sudah dia akan getok balik kepalanya.
"Ngomong sembarangan. Saya ini bule asli bukan gadungan. Saya ini bule pintar, bisa menguasai bermacam-macam bahasa berbagai negara," kata Kakek sombong tersenyum penuh kemenangan melihat Kanaya.
"Mana ada orang pintar yang ngomongin dia pintar, yang ada tuh orang sombong yang ngomongin dia pintar!" sewot Kanaya jengkel.
"Tidak sopan kamu berbicara dengan orang tua. Tapi kamu itu lucu ngingetin saya sama si Axel," kata Kakek disertai kekehan geli.
"Emang si Axel siapa?" tanya kanaya sewot, tapi juga sedikit penasaran.
"Itu nama Buaya piaraan saya. Mirip banget dia sama kamu," jawabnya masih dengan terkekeh senang, membuat Kanaya menggeram kesal.
"Enak aja aku disamain sama Buaya kakek. Aku ini cantik gak kaya buaya kakek pasti jelek," protes Kanaya tidak terima.
"Tapi buaya saya itu sama cantik kaya kamu, diakan perempuan. Dia juga udah mau lahiran loh," jawab kakek itu antusias.
"Sialan!" umpat Kanaya kasar tanpa sadar.
Pletakkk
"Aww ... salah aku apa lagi Kakek kok getok kepala aku lagi? Sakit tau!"
"Anak gadis dilarang mengumpat kasar," ujar kakek.
"Ya udah ah ... saya pergi. Saya masih banyak urusan, saya ini sibuk tidak seperti kamu seorang pengangguran," ujar Kakek itu yang membuat Kanaya mendengus jengkel.
Kakek itu berdiri tapi sebelum berjalan ia menengok ke belakang dan menyerahkan sebuah bingkisan kecil ke arah Kanaya.
"Apaan nih kek?" Kanaya mendongak mengambil bingkisan yang kakek itu berikan kepadanya.
"Sebagai kenang-kenangan buat kamu. Entah kenapa saya merasa akan ketemu lagi dengan kamu. Mungkin kita berjodoh, oh.. iya jangan dibuka di sini nanti di rumah biar suprise," ujar kakek itu sambil berlalu pergi meninggalkan Kanaya.
Kanaya hanya melihat sosok kakek itu yang berjalan pergi, sampai sosok kakek itu hilang.
"Suprise katanya, bisa gila gue. Ya udah nanti aja gue bukanya," gumam Kanaya lalu memasukan bingkisan itu ke tas.
Kanaya lalu hanyut dalam permainan di ponsel. Bahkan kedatangan seseorang yang duduk di sampingnya membuatnya tidak menyadari. Tapi sebuh tepukan pelan di lengan membuat ia mendongak melihat ke arah orang itu.
"Sorry ... gue lama yah Nay, ini eskrimnya," kata Alvaro ngos-ngosan.
Kanaya sedikit mengernyit heran, saat melihat penampilan Alvaro yang terlihat acak-acakan dan terlihat cape. Seperti habis dikejar tante girang eh .. maksudnya maling.
"Ya ampun! Lo kemana aja, gue hampir lupa sama lo. Lo beli eskrim di mana? Di tempat yang bikinnya apa? Lama banget!" omel Kanaya heboh.
"Gue ngantri panjang banget tadi belinya. Tahu gak tadi gue juga berantem sama bocah laki yang rese banget," cerita Alvaro yang membuat Kanaya sedikit penasaran.
"Ceritanya panjang, tuh bocah nyerobot antrian. Nah ... gue gak terima langsung aja gue jitak kepalanya sampai dia nangis. Yang parahnya emak tuh bocah balik marah dan ngebogem wajah gue. Lihat nih sakit tau," adu Alvaro dan menunjukan pipi kanannya yang sakit.
Kanaya hanya cekikikan lucu mendengar cerita Alvaro. Alvaro mendengus jengkel saat melihat Kanaya malah menertawakannya.
"Kok malah ketawa. Pacar lo lagi sakit nih, abis ngebela lo." Alvaro merajuk semakin cemberut kesal.
"Adu du duh... kok tambah jadi lucu dan gemes sih kalo cemberut kaya gini," goda Kanaya sambil menoel-noel pipi Alvaro.
"Gue serius gue lagi ngambek nih," rengek Alvaro semakin cemberut.
Akhirnya Kanaya yang melihatnya tidak tega dan mencoba untuk menahan ketawanya.
Cup
Alvaro terkejut saat mendapat sebuah ciuman tiba-tiba di pipinya yang terluka. Ia sangat senang, karena biasanya dia yang mencium Kanaya terlebih dahulu. Tapi sekarang cewek itu yang menciumnya.
Sementara Kanaya saat ini merasa sangat malu atas tindakannya barusan. Apa yang ia lakukan barusan adalah tindakan spontan, karena sangat gemas melihat Alvaro tengah cemberut.
"Duh ... pacar gue udah mulai nakal nih. Satu lagi dong pipinya takutnya entar berat sebelah," goda Alvaro sambil menunjukan sebelah pipinya ke arah Kanaya, membuat Kanaya semakin malu.
"Ih .... rese anggap aja itu ucapan terima kasih buat lo karena udah beliin gue eskrim," jawab Kanaya masih malu.
Kanaya lalu pura-pura menyibukkan dirinya makan eskrim, untuk menyembunyikan kegugupannya. Sementara Alvaro hanya tersenyum memperhatikan tingkah Kanaya.
Akhirnya mereka sibuk dengan eskrim masing-masing. Mencoba menahan getaran rasa yang semakin membesar diantara mereka.
"Itu dia orangnya Pah, yang bikin anak kita nangis."
Kanaya dan Alvaro yang sedang asyik makan eskrim, sontak melihat ke sumber suara. Mereka sama-sama terkejut saat melihat sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki, sedang berjalan ke arah mereka dengan raut muka yang penuh kemarahan.
"Siapa mereka? Kok kaya menuju kita, lo kenal?" tanya Kanaya pelan.
"Kok kayanya gue kenal, ini pertanda gak baik," jawab Alvaro. Kanaya semakin bingung saat melihat Alvaro seperti ketakutan.
"Jadi kamu yang udah ngebuat anak saya nangis? Kurang ajar yah kamu beraninya kamu sama anak saya!" bentak seorang Bapak yang telah mencengkram kerah baju Alvaro dan sontak membuat cowok itu berdiri.
"Iya saya, memangnya kenapa ada masalah?" tanya balik Alvaro santai, membuat Bapak itu semakin menggeram marah.
"Tung ... tunggu ini ada apa? Lepasin dia!" seru Kanaya khawatir melihat kondisi Alvaro.
"Oh ... jadi ini istri kamu yang sedang hamil itu?" tanya Ibu itu, tatapannya menghunus tajam ke arah Kanaya.
Kanaya hanya memperhatikan mereka dengan raut wajah bingung. Tatapannya lalu tertuju pada Alvaro yang tengah menggerakan mulut tanpa suara seolah berkata sesuatu.
Satu ... dua ... tiga ... lari
Bukkk
Alvaro lalu memukul bapak itu tepat di wajahnya, membuat cengkraman di bajunya terlepas. Ia lalu menarik tangan Kanaya untuk berlari. Kanaya yang terkejut, hanya mampu mengikuti Alvaro yang menariknya untuk berlari.
Sementara di belakang mereka, Bapak itu telah berlari mengejarnya bersama beberapa orang yang berpenampilan preman.
"Berengsek! Udah gue duga dia gak sendiri. Dia pasti bawa temen-temennya!" makin Alvaro sambil terus berlari.
"Ini ada apa sih? Kok kita lari terus? Kenapa mereka ngejar kita?" tanya Kanaya ngos-ngosan. Ia benar-benar tidak mengerti situasi apa yang terjadi sekarang.
"Nanti gue jelasin. Sekarang kita cepetan lari kalau gak mau jadi perkedel."
Alvaro semakin kencang membawa Kanaya berlari. Mereka melewati beberapa stand yang hampir mereka tabrak. Melewati banyak orang yang melihat mereka dengan tatapan aneh dan bingung. Sampai akhirnya Alvaro membawa Kanaya masuk untuk bersembunyi di sebuah toilet umum laki-laki.
Napas mereka tidak teratur, keringat dan peluh membasahi wajah mereka. Posisi Kanaya saat ini berada diantara tembok dan tubuh Alvaro. Tubuh mereka terhimpit untuk saling menempel karena ukuran toilet yang sempit.
Kanaya mendongak untuk melihat Alvaro, karena tubuhnya yang hanya sebatas dagu Alvaro. Tiba-tiba Kanaya merasa gugup karena jarak mereka yang sangat dekat. Bahkan Kanaya bisa mendengar detak jantung Alvaro.
"Kemana mereka? Kita cari ke arah sana!" Suara orang yang mencari mereka dari arah luar.
"Sepertinya kita udah aman," kata Alvaro menghela napas lega.
"Cepet jelasin ini ada apa?" tanya Kanaya tidak sabaran.
Alvaro lalu menunduk untuk melihat Kanaya yang sedang menatapnya tajam.
"Itu orang tua yang bocahnya tadi nangis karena gue jitak kepalanya. Gue gak tau kalo tuh bocah bapaknya preman dan sialnya tuh preman bawa temannya," kata Alvaro berusaha menjelaskan.
"Terus apa maksunya istri hamil?" tanya Kanaya masih protes.
"Oh itu ... tadi gue bilang beli eskrim buat istri yang lagi hamil dan ngidam," jawab Alvaro terkekeh menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dasar rese, jadi gara-gara itu sekarang kita berakhir kaya gini!" omel Kanaya cemberut.
Cup..
"Kenapa lo cium pipi gue?" tanya Kanaya semakin cemberut.
"Emang salah kalo gue cium pipi pacar sendiri. Bahkan kalaupun gue pengen di sini, itu hak gue," jawab Alvaro, ibu jarinya mengusap lembut bibir Kanaya.
"Apaan sih? Ayo kita ke ... keluar." Kanaya semakin gugup saat Alvaro terus menatapnya intens.
Cup
Alvaro mencium bibir Kanaya singkat membuat Kanaya kaget.
"Ya udah kalo kita di sini dengan posisi kaya gini terus. Gue takut gue kelepasan sama lo. Gak lucu kan kalo kita berciuman di toilet. Kita cari tempat lain aja ayo!"
"Emang siapa yang mau ciuman sama lo, awas minggir!" omel Kanaya, lalu keluar diikuti oleh Alvaro di belakangnya
"Lucu makin gemes gue kalo lagi ngambek gitu," goda Alvaro.
Alvaro lalu mengejar langkah Kanaya dan menggenggam tangannya. Membuat mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan.
**Thanks for reading🙏
Jangan lupa vote & comment💜**