Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
27. Papa_Mama ?



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Biarkan cinta yang berbicara..


Biarkan cinta yang menjelaskan...


Tentang hati yang selalu ingin bersama.


🐰


Sudah lebih satu setengah jam Kanaya berdiri di depan rumahnya. Menunggu kedatangan Alvaro yang semalam mengajaknya pergi dan janji akan menjemput jam 7 pagi. Tapi lihat dia sudah menunggu di depan rumah, tapi batang hidung cowok itu belum juga terlihat.


"Awas aja kalau sampai gak dateng. Gue jadiin perkedel besok buat dijadiin makan si Blacky, anjing tetangga rumah gue."


Padahal Kanaya sudah rela mengorbankan hari libur sekolah dan libur kerjanya di cafe. Tapi lihat cowok itu seenaknya membuat dia menunggu, sampai rasanya sudah jamuran dan berakar di sini.


Tit..tit..tit..


Kanaya mendengus sebal, saat cowok itu dengan santainya menolehkan kepalanya di kaca mobil sambil tersenyum tanpa dosa.


"Ayo naik! kita udah telat," seru Alvaro.


Kanaya rasanya ingin mencekik cowok itu, karena dengan santainya menyuruhnya masuk tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Ayo ... serius ini kita telat loh!" ajak Alvaro sekali lagi, tapi Kanaya malah melipat tangan di depan dada.


Aneh tuh cewek kenapa? Salah makan apa mimpi buruk semalam?


"Ok ... gue gandong mau?" tanya Alvaro lengkap dengan kedua alis yang diturun naikan.


"Gak usah, gue bisa sendiri," balas Kanaya jutek.


Kanaya akhirnya masuk ke mobil dengan menghentak-hentakan kaki kesal, membuat Alvaro sedikit merinding melihat aura gelap dan hitam di sekitar Kanaya.


Alvaro berdehem. "Ehemm ... lo belum makan? Apa lo belum nyuci? Apa lo belum mandi?" tanya Alvaro beruntun. Ia menjadi gelagapan saat Kanaya menatapnya tajam.


Kenapa pertanyaan yang keluar dari mulut gue malah aneh? Serius itu tatapannya bikin gue merinding.


"Lo tau ini jam berapa?" Akhirnya setelah lama bungkam Kanaya membuka suara, walaupun masih bernada jutek.


"Jam setengah 9. Maka dari itu kita terlambat, karena acaranya akan dimulai jam 9," balas Alvaro.


"Terus kenapa lo jemput gue jam segini?" teriak Kanaya. Mengusap dada pelan. "Terus siapa yang semalem nyuruh gue siap-siap jam 7 dan jangan sampai telat!" 


Oh ... ya ampun gue lupa! ternyata dia ngambek gara-gara gue telat jemput.


"Ya ... udah cepat katanya telat!" perintah Kanaya jutek lalu sibuk dengan ponsel.


Alvaro melirik Kanaya takut. "Gak mau tau kenapa alasan gue telat?" tanya Alvaro mencoba menjelaskan.


"Gak usah gak penting. Udah telat buat bahas itu, cepet jalan," balas Kanaya masih ketus.


"Gue salah pasang alarm. Tadinya niat gue pasang alarm jam 6 eh ... malah jam 8. Sorry udah bikin lo lama nunggu," terang Alvaro mencoba menjelaskan alasannya. Walaupun sepertinya Kanaya masih tidak merespon sedikitpun.


Akhirnya Alvaro membiarkan Kanaya dulu untuk saat ini. Karena percuma dia berbicara juga gadis itu pasti tidak meresponnya, karena masih dalam mode marah.


Alvaro lalu menjalankan mobil dalam diam. Walaupun sesekali matanya malirik Kanaya yang masih sibuk dengan ponsel. Entah apa yang gadis itu kerjakan di ponselnya.


"Kita udah sampai." Kanaya mendongak melihat ke luar saat Alvaro berbicara.


"Kita ke Panti Asuhan?" tanya Kanaya, matanya memicing melihat keadaan panti yang lebih ramai dari biasanya.


Alvaro mengangguk. "Iya ... hari ini akan ada pertunjukan dari anak-anak. Bisa dibilang Panti lagi ngadain pertunjukan untuk menarik minat para donatur dan para orang tua yang ingin mengadopsi anak," terangnya.


"Ya udah ayo kita turun!"


Alvaro  mengangguk, lalu turun dari mobil. Ia berjalan memutar ke sisi pintu mobil Kanaya. Kemudian membuka pintu mobil untuk Kanaya, membuat Kanaya sedikit bergeming atas sikap manis Alvaro.


Sebelum Kanaya turun dari mobil Alvaro menahan Kanaya tepat di depannya.


"Ada apa?" tanya Kanaya bingung karena Alvaro menghalangi jalannya.


Alvaro memegang kedua tangan Kanaya, menatap intens wajahnya. "Maaf ... gue udah bikin lo lama nunggu tadi. Maaf gue udah bikin lo kesel pagi ini," katanya merasa bersalah. "Please ... jangan diem gini, gue lebih suka lo yang cerewet."


Cup..


Kanaya mencium sebelah pipi Alvaro. Ia tersenyum dan mengangguk ke arah Alvaro. "Ih lucu ... deh kalo lagi serius kaya gini," goda Kanaya.


"Gue serius Nay ... lo malah anggap bercanda," ujar Alvaro kesal.


Kanaya terkekeh saat Alvaro  cemberut. "Udah ah ... lebay tau. Ayo masuk! Gak sabar pengen lihat anak-anak tampil," kata Kanaya semangat.


Mereka akhirnya berjalan bersisian menuju ke dalam dengan Alvaro yang menggenggam tangan Kanaya erat.


Beruntung pas mereka masuk acaranya baru dimulai. Mereka juga masih kebagian tempat duduk, walau agak jauh dari  panggung.


Ternyata sudah banyak para tamu undangan yang hadir. Kanaya pikir mungkin itu para donatur. Semoga acaranya berjalan lancar dan banyak para donatur yang menyumbang serta orang tua yang ingin mengadopsi anak.


Semua acaranya berjalan dengan lancar. Anak-anak menampilkan penampilan terbaik mereka. Dari mulai pertunjukan drama, pertunjukan tari dan pertunjukan nyanyi yang membuat acara berjalan semakin meriah.


Setelah selesai acara Kanaya sedang duduk di salah satu bangku. Sementara Alvaro sedang menjadi fotografer yang sedang memotret anak-anak.


"Dari pertama kita ketemu, cuman tempat ini yang bisa bikin lo tersenyum lepas dan tulus."


"Eh bocah ... akhirnya kita ketemu lagi. Sudah saya bilang kita itu jodoh."


Kanaya menoleh ke samping saat merasakan ada seseorang yang menduduki kursi di sampingnya.


"Suka-suka saya lah. Emang ini tempat punya kamu," jawabnya sombong, membuat Kanaya mencebikan bibir kesal.


Ah ... ternyata kakek ini masih sombong.


"Haha ... ternyata kamu itu baperan yah. Dasar anak muda zaman sekarang."


"Ya ampun ... ternyata kakek sudah tua makin sombong," cibir Kanaya kesal.


"Kamu anak panti sini?"


"Emang menurut kakek aku segede gini masih pantas jadi anak panti asuhan?" tanya balik Kanya membuat Kakek itu malah tertawa.


"Ternyata kamu itu pedendam ya!" Tawanya makin meledak membuat Kanaya geram.


Ya Tuhan kuatkan aku menghadapi kakek ini ... amin.


"Gimana suka sama kado saya waktu itu?" tanya kakek membuat Kanaya kembali memperhatikannya.


"Aku hampir lupa! Kenapa Kakek kasih aku dua cincin emas? Kaya cincin pernikahan aja."


Kanaya sudah membuka pemberian dari kakek dan isinya adalah dua buah cincin pernikahan. Waktu itu Kanaya bahkan sempat berpikiran buruk, kalau kakek itu berniat melamarnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidig ngeri.


"Cincin itu adalah cincin pernikahan saya sama istri saya. Tapi karena suatu masalah kami berpisah. Dia mengembalikan cincin itu ke saya dan membawa putri kita satu-satunya pergi bersama dia waktu itu," terang Kakek. Ada sebuah kesedihan dalam ucapannya, membuat Kanaya merasa iba.


"Terus Kenapa kakek kasih cincin ini ke aku?" tanyanya masih penasaran.


"Enggak tau ...," katanya santai. Kakek itu berdiri. "Ya sudah saya sibuk saya pergi." Lalu melangkah pergi meninggalkan Kanaya.


"Dasar kakek bule, udah kaya jelangkung. Datang gak dijemput terus pulang gak diantar," gumam Kanaya kesal.


Pandangan Kanaya lalu tertuju pada tempat di mana Alvaro tadi berada, tapi Alvaro sudah tidak ada di sana sekarang. Kanaya mengalihkan tatapannya ke tempat lain mencari keberadaan Alvaro.


"Ehemm ... cari siapa?"


Kanaya mendongak, ia tersenyum saat orang yang dia cari sudah berdiri di depannya.


"Cari siapa?" tanya Alvaro kembali sudah duduk di samping Kanaya.


"Apaan sih? Gak nyari siapa-siapa kok," balas Kanaya setengah malu.


"Oh masa ... ngomong-ngomong siapa kakek tadi?"


"Oh ... itu ... gak tau kakek bule gak jelas dia," jawab Kayaya. Wajahnya lalu berubah antusias. "Al ... coba gue pengen lihat hasil foto tadi?"


"Ya udah nih," ujar Alvaro langsung memperlihatkan isi kameranya ke Kanaya.


"Lucunya mereka, ih ... jadi gemes tau."


Saat mereka sedang asyik melihat foto, tiba-tiba Silla gadis kecil berumur 4 tahun datang dengan wajah yang sangat murung.


"Kak boleh Silla duduk di cini!"


"Boleh sayang. Sini duduk di tengah-tengah kakak," ujar Kanaya yang menyadari kehadiran Silla.


Kanaya juga menyadari wajah murung Silla. Gadis kecil itu kelihatannya sedang berusaha menahan tangisnya.


"Silla hari ini cantik tau. Suara Silla bagus banget tadi waktu nyanyi. Kakak suka banget," puji Kanaya mencoba menghibur Silla.


"Makacih ... tapi meleka gak suka Cilla Kak." Air matanya jatuh membuat Kanaya sedikit panik.


"Siapa yang gak suka sayang?" tanya Kanaya menghapus air mata Silla.


"Meleka ... buktinya meleka gak ada yang mau jadi olang tua Cilla. Padahal Cilla udah bellatih nyanyi yang bagus. Tapi tetep gak ada yang mau jadi olang tua Cilla," ujar gadis kecil itu akhirnya menangis.


"Apa kalena luka ini? Meleka gak mau jadi olang tua Cilla Kak?" tanyanya polos, membuat Kanaya ikut sedih.


Kanaya menggeleng pelan. "Enggak sayang. Luka ini adalah cara Tuhan menyayangi Cilla. Karena Tuhan yakin Cilla adalah gadis kuat."


Ya ... Tuhan kenapa gadis sekecil ini harus nanggung beban seberat ini?


Silla gadis kecil yang sudah ada di panti sejak bayi. Kata Ibu panti, dulu ada rumah warga dekat panti yang mengalami kebakaran. Silla adalah anak korban dari kebakaran itu. Kedua orang tuanya meninggal dalam kebakaran itu. Sementara Silla berhasil selamat dengan sebuah luka bakar di sebelah wajahnya.


"Kak Alvalo ... Kak Naya ... boleh gak Cilla panggil kalian Mama sama Papa?" pinta Cila polos.


Namun permintaan polos itu mampu membuat Alvaro dan Kanaya terdiam,  mereka saling pandang untuk saling meminta jawaban.


"Boleh sayang, mulai saat ini kita adalah papa mama Silla. Iyakan Ma," kata Alvaro membuat Silla senang, namun mampu membuat Kanaya tersipu.


"Eh ... iy ... ya kita sekarang jadi orang tua kamu sayang," kata Kanaya berusaha membuat Sila senang. Biar nanti dia tanya Alvaro apa maksudnya.


"Cilla sayang sama Papa sama Mama." Saking senangnya gadis kecil itu langsung  memeluk Kanaya.


Kanaya membalas pelukan Silla dan Alvaro pun ikut memeluk kanaya dan Silla. Ah ... rasanya mereka seperti keluarga bahagia.


"Mama juga sayang sama Silla."


"Papa juga sayang sama Silla dan Mama," kata Alvaro lengkap dengan kedipan, membuat Kanaya salah tingkah.


Lewat ekspresi wajah dan tatapan mata, Kanaya meminta jawaban atas semuanya yang terjadi saat ini kepada Alvaro.


"Gak papa ... itung-itung belajar jadi orang tua. Kita nanti juga bakal punya anakkan?" balas Alvaro sedikit menggoda Kanaya.


"Papa sayang Mama."


**Thanks for reading 💜


Jangan lupa vote and comment💜**