
Happy and enjoy reading 💜
Sorry for typo🤗
Kita tidak bisa mengulang waktu yang
salah di masa lalu. Tapi kesalahan itu bisa diganti dengan sebuah perbaikan di waktu sekarang dan masa depan.
🐰
"Kamu masih marah?"
"Nay ... udah dong marahnya. Tunda dulu aja kalau bisa. Nanti habis acara baru boleh marah lagi."
"Nay ...!"
Mau dia berbicara sampai berbusapun aku tetap tidak akan jawab. Enak saja mengatakan tidak perlu marah, setelah apa yang dia lakukan selama ini. Dia tidak tahu bagaimana merananya aku menunggu kabarnya. Memandang ponsel setiap detik sampai mata ini mau copot. Karena takut ada panggilan yang tidak terjawab dari dirinya.
"Nay ... sayang ma--"
"Selamat yah ... semoga kalian jadi pasangan yang sakinah, mawadah dan warahmah. Kita ikut senang."
Aku ikut menyalami Mitha teman sekolah dulu dengan senyum semanis mungkin. "Iya ... terimakasih Mit udah dateng."
Melirik dia namanya yang tak mau kusebutkan terlihat tersenyum masam. Kusenggol sikunya pelan. Dia kelihatan tersentak, menatap penuh tanya. Akhirnya setelah aku memberikan kode lewat tatapan tajam dia mengerti dan ikut melakukan apa yang kulakukan tadi.
"Terimakasih udah datang," ujarnya terlihat sekali terpaksa dengan senyum tipisnya.
"Kalau begitu aku ke sana dulu," pamit Mita yang seolah terlihat sungkan oleh sikap Alvaro. Memang tidak tahu diri. Eh ... tadi barusan sudah sebut namanya.
Hapus lagi pokoknya. Tidak Sudi!
"Nikmati pestanya!" Aku sedikit berteriak karena Mitha sudah berjarak lumayan jauh.
Satu persatu tamu undangan datang menghampiri dan memberikan selamat. Dari mulai keluarga kita, kerabat sampai tetangga dekat dan jauh juga datang. Bahkan semua teman-teman dari SD sampai kuliah juga datang semua. Aku merasa menjadi orang yang paling bodo yang tidak tahu apa-apa tentang hari ini. Sementara bisa kupastikan orang-orang di dalam ruangan ini sudah tahu dari jauh-jauh hari. Sungguh rencana yang matang tanpa sepengetahuanku. Mereka benar-benar kurang ajar!
Kapan ini semua akan berakhir? Bibirku seperti sudah kering karena kebanyakan tersenyum. Kaki juga sudah sangat pegal karena terlalu lama berdiri dengan highils 10 cm sialan ini.
Tiba-tiba kulihat Maya berjalan sedikit takut bersama tunangannya menuju ke arah pelaminan. Dari jauh kutatap dia dengan tatapan tajam. Dia adalah sahabat yang menjadi tokoh kedua pembohong terbesar. Padahal dia tahu bagaimana merananya aku selama ini. Tapi dia tetap bungkam dengan kepura-puraan tidak tahunya.
"Sayang," panggil dia yang kesekian kalinya yang masih kuabaikan. Sengaja kutepis tangannya yang menyentuh lengan. "Udah dong. Gak kangen sama aku? Lagian dosa loh nyuekin suami gini."
Kuhela napas kasar. Balik memandang dia tajam. "Dosa mana suami yang bohongin istri?
"Bohongin gimana?" tanyanya tanpa dosa dan minta ditendang dari pelaminan.
"Pernikahan ini?"
Dia terkekeh kecil. "Kan waktu bohong belum jadi istri masih pacar," balasnya tanpa ingat dosa yang sudah dilakukan. Apa aku beneran tendang saja yah?
"Terserah!" Kembali membalik badan membelakangi dia. "Jangan ngomong lagi berisik!"
Sepertinya dia kembali duduk dan tidak ada lagi ganguan seperti tadi. Akhirnya bisa bernapas lega. Kulihat Maya yang berhenti di stand makanan. Ia terlihat bersembunyi dibalik punggung tunangannya. Tahu dosa juga itu anak! Tidak seperti cowok di sampingku ini yang sekarang sudah sah jadi suami. Mengingat itu kepalaku mendadak pusing!
Saat ini aku masih belum percaya jika sudah menikah. Sudah sah menjadi istri sejak dua jam yang lalu. Niat awal datang untuk kondangan tapi kenyataanya tiba-tiba pas datang langsung diseret menjadi pengantin tanpa diberitahu apa-apa. Kurang kesal apalagi coba?
Pernikahan adalah sebuah momen sakral sekali seumur hidup. Pasti hampir semua wanita ingin menikmati rasanya momen menyiapkan pernikahan. Tapi aku tanpa tahu apa-apa sudah sah menjadi seorang istri. Yang paling membuat kesal adalah menikah tanpa mengunakan baju pengantin. Walaupun sekarang sudah berganti dengan gaun penganti yang ditunjukan Maya kemarin. Tapi tetap saja masih sangat kesal. Rasanya mau membunuh orang-orang yang ada dibalik ini semua.
"Nay ... se ... la ... mat." Terdengar suara Maya pelan. Otomatis aku mendongak untuk melihat. Maya sudah berdiri bersama tunangannya didepanku. Wajahnya cengengesan minta direbus.
"Mau apa lo?" tanyaku sedikit menyentak. Supaya dia tahu bahwa ini masih dalam mode marah.
"Mau ucapin selamat lah atas pernikahan lo," balasnya terdengar mulai takut. "Sumpah Nay ... gue dipaksa buat setuju. Gue cuman tahu seminggu mau acara."
Kukerutkan alis tak yakin. "Serius?"
Maya menggeleng cepat. "Ehm ... dua Minggu." Kutatap dia lebih tajam. "Iya ... iya sebulan sebelum acara. Ke tiga teman Alvaro yang maksa buat gabung."
"Pergi sana!" usirku pada Maya yang langsung membuatnya terkejut. "Gue gak mau lihat wajah lo sekarang!"
Maya terlihat tersentak. "Jangan marah dong Nay. Maaf," cicitnya pelan. Ia lalu memandang tajam cowok di sampingku. "Kak ... tanggung jawab dong! Ini Kanaya marah!"
"Dia juga marah sama gue," balas Alvaro sengit.
"Nay ...," rengek Maya menbuatku semakin kesal. "Maafin gue dong."
"Nanti dimaafin. Gak sekarang. Karena gue lagi mau makan orang ini." Aku tetap mempertahankan wajah judes. Lagian memang aku tidak pernah bisa marah lama ke Maya. Cuman kali ini sudah kelewatan dan dia harus diberi pelajaran.
"Nay gu--"
"Udah sayang kasih Kanaya waktu," ujar tunangan Maya bijak. Aku menganguk setuju. "Ini juga salah kita yang ikut bohongin dia."
"Tapi ...." Tunangannya terlihat menggeleng. "Ya udah. Jangan lama-lama marahnya yah ... Nay."
Aku menganguk malas. Tanpa bisa dicegah sebelum pergi Maya sempat mengecup cepat pipiku. Aku cuman bisa memandang Maya malas yang sudah berjalan menjauh.
Akhirnya setelah tiga kali berganti baju pengantin pestanya selesai juga. Ballroom hotel yang tadi ramai perlahan mulai sepi. Cuman ada beberapa anggota keluarga yang masih mengobrol. Setelah meminta izin ke om Bram yang sekarang sudah harus memanggil papa kuputuskan pergi ke kamar. Setelah sebelumnya papa memberikan kunci kamar yang ditempati, tentunya bersama dia.
Aku masih mendiamkan dia. Sebenarnya rasa kesal sudah mulai berkurang. Sekarang aku lebih merasa gugup karena sudah menjadi seorang istri. Sekesal apapun tetap aku tidak bisa berbohong kalau merasa sangat senang hari ini.
Sejak tadi aku berusaha menahan diri untuk tidak memeluknya karena perasaan rindu ini. Tapi dia juga harus diberi pelajaran. Memberi kejutan sebuah pernikahan itu tidak lucu. Ini konyol!
Setelah bersusah payah membuka semua riasan dan gaun menyebalkan ini kuputuskan untuk mandi. Alvaro sendiri mungkin saat ini masih ada di pesta. Terserah, aku juga bingung harus bersikap seperti apa sekarang dengan dia.
Aku keluar kamar mandi hanya mengunakan handuk kecil. Tunggu sepertinya ada yang lupa. Aku tidak punya baju sama sekali sekarang! Bagaimana ini?
Aku langsung mengecek lemari dan juga tidak menemukan satu bajupun yang bisa dipakai. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Ceklek
Terdengar suara pintu. Pasti itu Alvaro. Dia tidak boleh melihatku yang seperti ini. Aku langsung berlari kecil ke ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh sampai batas leher.
"Sudah mandi?" Alvaro bertanya setelah membuka jasnya. Dia mendudukan diri di ujung ranjang.
"Nay ...," panggilnya lembut. Aku masih menunduk tidak berani melihatnya. Entah kenapa semakin malu. "Maaf yah ... Aku gak ada maksud buat bikin kamu gak merasa dihargai atas pernikahan ini. Aku--"
"Lebih baik kamu mandi dulu. Setelah itu aku baru mau dengar penjelasan kamu," potongku ketus.
"Ok." Dia menarik daguku sehingga mendongak ke arahnya.
Cup
Dia mencium keningku lembut. Setelah itu aku hanya bisa merasakan jantung yang bertalu cepat. Sudah bisa dipastikan wajah ini juga pasti memerah. Alvaro tersenyum kecil, mengacak rambutku sebentar. Setelah itu cowok itu sudah berlalu ke kamar mandi.
Menunggu cowok itu mandi makin membuatku tak karuan. Sekujur tubuh sudah dibasahi oleh keringat saking gugupnya.
Ceklek
Aku menelan ludah gugup saat melihat Alvaro sudah keluar dengan hanya menggunakan boxer tanpa menggunakan atasan. Cowok itu tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk.
"Nay ... aku gak ada baju nih."
"Kamu pikir aku ada," balasku kesal. "Ini semua kan rencana kalian!"
Alvaro yang sedang menghadapi cermin sontak berbalik. Senyum kecil tercetak di bibirnya. Pandangannya kali ini terlihat aneh. Seketika aku langsung menunduk.
Saat merasakan sisi kasur bergerak, semakin kutundukan wajah tidak mau melihat dia yang sudah bisa dipastikan duduk di sana.
"Jadi dibalik selimut ini gak pakai apa-apa?" Alvaro bertanya dengan suara pelan.
Kuberanikan untuk mendongak. "Bukan urusan kamu," balasku berusaha ketus tapi malah terdengar gugup.
Alvaro terkekeh. "Ngambeknya belum selesai nih ceritanya? Ok ... kali ini aku akan menjawab semua pertanyaan kamu tentang apapun."
Kubenarkan posisi duduk dengan tetap mempertahankan selimut. Kali ini harus menanyakan semuanya sampai ke akar-akarnya.
"Ya udah ceritain dari awal!"
"Dari mana dulu?" Sungguh itu pertanyaan polos. Aku mendengus kesal dan dia malah balik terkekeh.
"Rencana pernikahan ini sebenarnya sudah aku rencanakan dari dulu sebelum berangkat ke Amerika. Aku memang berniat mau nikahin kamu pas usia kamu 23 tahun."
Aku diam menyimak semua penjelasan Alvaro. Tangan cowok itu sudah bermain-main dengan rambutku. Sesekali bergerak mengelus pipi. Jadi cerita tidak sih? Perasaanku malah jadi tidak enak.
"Udah segitu ceritanya," ujarnya begitu saja. Dosa menampar suami besar tidak sih?
"Gitu aja?"
Dia mengangguk yakin. "Iya ... gitu aja." Tangannya makin aktif memainkan rambutku.
"Gak mau jelasin kenapa di sana sibuk banget. Sampai gak bisa pulang?" Kutepis tangannya yang sudah turun ke area leher. Dia kembali terkekeh. Kemudian tangannya kembali sibuk menyentuh semua sisi wajahku.
"Al ...!"
"Apa sayang ...."
Sumpah ini sudah sangat kesal. Alvaro tidak kelihatan sama sekali ingin menjawab. Karena cowok itu sekarang semakin sibuk bermain dengan area pipiku. Tatapan matanya selalu tertuju ke area bibir. Tolong ini bawa pulang suami siapa? Eh?
"Jawab gak?" Aku menepis kasar semua tangannya. Menutupi semua tubuh sampai kepala dengan selimut. "Tinggal tidur nih!"
Kuturunkan pelan selimut sampai di bawah mata. "Beneran mau cerita?" Dia mengangguk. Lalu kuturunkan selimut sampai pundak.
"Gitu dong." Alvaro tersenyum."Aku berusaha menyelesaikan semuanya dengan cepat Nay. Menyelesaikan S1 aku dengan cepat. Mengurus beberapa perusahaan kakek yang bermasalah. Memastikan semua urusan di sana dengan cepat untuk mengejar bisa selesai sampai umur kamu 23 tahun Nay."
"Sesibuk itu di sana sampai kematian Bunda aku tetap gak bisa datang?"
Aku menunduk. Merasakan sebuah perasaan sesak. Memori ini seakan kembali mengulang setiap kejadian yang sudah terjadi selama 5 tahun ini. Setiap hal sulit dan penting yang kulewati tanpa kehadiran Alvaro.
Kematian Bunda dua tahun yang lalu adalah kejadian terberat dalam hidupku. Setelah dua tahun berjuang dengan sakit paru-parunya akhirnya Bunda pergi. Mungkin itu yang terbaik karena Bunda sudah terlalu sering menderita selama ini.
Waktu itu setelah dinyatakan kondisi Bunda membaik dari gangguan kejiwannya, aku kembali membawanya pulang. Tapi hanya setahun aku merasakan kebahagian bersama Bunda. Karena setelah itu penyakit itu mulai menggerogoti Bunda. Karena kehilangan Bunda yang membuatku bertekad menjadi seorang dokter spesialis. Sekarang aku masih dokter umum. Karena saat ini aku masih berjuang untuk mencapai gelar dokter spesialis itu.
Beruntungnya kak Rio menawarkan aku untuk bekerja di rumah sakit milik keluarganya 6 bulan lalu, tanpa mengganggu jadwal kuliahku. Walaupun masih tahap magang.
"Maaf yah ...."
Aku bisa melihat rasa bersalah dari tatapan Alvaro. Seharusnya saat ini aku tidak egois. Karena waktu itu Alvaro juga menjelaskan alasannya tidak hadir karena kakek masuk rumah sakit dalam keadaan koma. Kondisi kakek juga sampai hari ini belum membaik dan tidak bisa datang ke acara pernikahan kita.
Sebenarnya bukan hanya kakek yang tidak datang, tapi Kadin dan Kadim juga tidak bisa datang. Mereka sedang berada di Bali karena Kadim pindah tugas kerja di sana setahun yang lalu. Mereka juga adalah orang yang sama sekali tidak tahu tentang rencana pernikahan ini. Makanya tadi pas di tengah acara aku sempat melakukan panggilan video dan mereka marah-marah. Aku juga senang karena amukan mereka ke Alvaro seakan mewakili perasaan kesalku padanya.
Kurasakan kembali sentuhan lembut di pipi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan orang yang hari ini resmi berstatus menjadi suami. Kutarik napas secara perlahan. Mencoba melupakan perasaan sesal di masa lalu. Karena di masa sekarang dan masa depan aku dan dia akan menjalani semuanya bersama.
"Aku udah gak marah kok." Berusaha tersenyum. Membawa tangannya dalam satu genggaman. "Kita bakal mulai kisah kita yang baru dari mulai sekarang. Kita lupain apa yang udah terjadi di belakang. Karena di masa sekarang hidup aku udah sepenuhnya buat kamu."
Alvaro mencium tanganku yang masih dalam genggamannya. Ciuman yang cukup lama sampai membuatku merasa terharu. Satu tetes air mata jatuh. Semuanya terasa masih seperti mimpi.
"Hei ... kok nangis?" Alvaro terlihat panik. Jari-jarinya menghapus tetesan air mata di pipi. Perlakuannya ini malah membuat air mataku semakin deras.
"Kamu kenapa? Bilang kalau aku bikin salah apa sama kamu?"
Wajahnya cemasnya terlihat menjadi lucu. Aku tidak tahan. Langsung kupeluk tubuhnya dengan erat. Hal yang ingin kulakukan sedari tadi. Melepaskan semua perasaan di dalam dekapannya.
"Aku bahagia." Aku berucap pelan di dalam pelukannya. "Aku sangat bahagia. Terlalu bahagia malah sampai rasanya semua ini terasa tidak nyata."
Kurasakan usapan lembut di kepala. Setelah itu Alvaro menghujani pucuk kepalaku dengan kecupan-kecupan kecil.
"Aku sayang kamu Al ... aku sayang banget sama kamu," ocehku berulang-ulang. Terserah jika dia bosan mendengarnya. Tapi aku memang sangat menyayanginya.
Dia melepaskan dekapannya. Aku masih tidak rela melepaskannya dan masih ingin memeluknya. Sepertinya dia tahu bahwa aku masih ingin memeluknya. Tangannya mengusap rambut dan mencium keningku dalam.
"Nay ...." Pandangannya tiba-tiba jatuh ke arah bawah. Seketika wajahnya terlihat menegang.
Aku mengikuti arah pandangan dia. Ya ampun aku malu! Dengan cepat kutarik handuk yang sudah melorot sampai pinggang. Masalahnya aku tidak memakai apa-apa dibalik handuk itu. Sudah kubilang tidak ada pakaian yang bisa dipakai. Dengab cepat menarik kembali selimut sampai batas leher. Kenapa sedari tadi aku melupakan fakta itu?
"Pantesan aku ngerasa ada yang aneh saat kita pelukan." Alvaro berujar pelan. "Ternyata--"
"Stop! Jangan dibahas!" Kupotong ucapannya dengan sedikit berteriak. Dia tidak tahu aku sudah sangat malu apa?
"Kenapa?"
"Aku malu. Jangan dibahas lagi."
Dia tertawa. "Kenapa harus malu? Kita kan sekarang udah suami istri."
Aku kembali menunduk. Memangnya aku tidak boleh malu kalau sudah suami istri? Pokonya malu!
"Nay ...." Panggilan pelannya membuatku kembali mendongak. "Aku kangen. Rasanya rasa kangen ini bisa buat gila. Setiap hari aku selalu disibukan oleh berbagai aktifitas dari pagi sampai malam. Tapi kesibukan itu gak bisa buat aku sedetikpun enggak kangen kamu. Aku juga mau menghubungi kamu setiap saat. Menanyakan keadaan kamu setiap waktu. Aku juga mau pulang kalau bisa sebulan sekali buat lihat kamu. Tapi aku harus bertahan demi bisa bersama kamu selamanya. Setiap hari harus berusaha menahan kangen agar bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat dan hidup sama kamu tanpa terpisah lagi. Aku sayang kamu Nay."
Aku kembali menangis. Perkataan dia kembali membuat terharu. Kenapa aku cengeng sekali malam ini? Tiba-tiba jadi kepikiran sesuatu.
"Kamu balik lagi ke Amrik?" Perasaanku tiba-tiba menjadi cemas kalau dia harus ke sana lagi. Kumohon jangan. Karena aku tidak bisa ikut.
Alvaro menggeleng pelan. Dia tersenyum begitu hangat. "Urusan aku udah selesai di sana. Aku mau tinggal di sini bareng kamu dan anak-anak kita nanti."
Langsung kupeluk lagi dia erat. Aku bahagia dan kembali menangis haru. Alvaro kembali mengusap-usap pelan kepalaku dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan. Dia seolah membiarkan aku menangis sampai puas. Kenapa air mataku terasa diobral malam ini?
"Jadi kapan nih mau bikin anak?"
Pertanyaan Alvaro membuatku terpaku. Buru-buru melepaskan pelukan di tubuhnya. Kuarahkan tatapan ke area bawah. Aku bisa bernapas lega saat handuk masih berada di tempatnya.
"Kenapa?" Dia tertawa. Seolah meledekku. "Mau aku bantu lepasin?"
"Apaan sih?" Kupalingkan wajah ke arah lain. Demi apa lupa kalau ini malam pertama kita. Aku harus bagaimana?
"Nay ....." Kurasakan tangan Alvaro melingkari pinggang. Kepalanya menyusup di leher. "Kangen."
Hembusan napas dia menerpa leher seketika membuatku merinding. Jantungku sudah bertalu cepat.
"Kalau kamu belum siap gak papa sih?" Pelukan Alvaro mulai merenggang. Dengan cepat aku menghadapkan wajah ke arahnya. Entah kenapa aku merasa tidak rela momen ini berakhir begitu saja.
Tatapan kita saling berpandangan. Tangannya yang semula masih di pinggang bergerak pelan mengusap-usap lenganku. Dengan cepat aku menunduk. Menghindari tatapannya yang semakin membuat merinding. Tatapanku jatuh ke area perutnya. Dengan cepat segera mamalingkan muka. Semua yang ada di sana terbentuk sangat pas. Untuk pertama kalinya aku melihat jelas apa itu yang dinamakan roti sobek. Aku malu!
Tangan Alvaro meraih daguku, membuat mata kita kembali saling berpandangan. Tatapan teduhnya membuat kembali hanyut. Dia mulai mendekatkan wajah. Aku terpaku merasakan atmosfir di ruangan ini semakin panas. Hidung kita sudah bersentuhan. Sementara aku masih membuka kedua mata dengan menelan ludah gugup.
"Boleh?" Ujung bibir kita saling bersentuhan. "Aku milikin kamu sekarang."
Aku mengangguk pelan. Kulihat dia tersenyum tipis sebelum kembali mendekatkan wajah. Refleks aku menutup mata. Merasakan sentuhan lembut di bibir yang perlahan mulai bergerak. Menikmati setiap gerakannya sampai merasa melayang.
Detik ini sudah siap menyerahkan semuanya untuk Alvaro, suamiku. Saat tangan dia mulai menyingkirkan handuk. Setelah itu semuanya mungkin akan dimulai. Memberikan apa yang kujaga selama ini untuknya.
**
"Pesawat kita berangkat jam 10."
"Iya ... bawel!"
"Takutnya kamu lupa kita mau honeymoon di Bali. Kelamaan nangis di sana." Alvaro berujar sewot. "Ngantuk nih."
Sepanjang perjalanan turun dari mobil Alvaro tidak berhenti mengeluh. Aku yang mendengarnya saja sudah berasa panas ini kuping. Lagian siapa yang mengajak bergadang sampai pagi?
"Nay--"
"Kalau kamu ngoceh terus mending tunggu aja di mobil!" Aku memotong ucapannya dengan sedikit membentak.
"Dosa loh bentak-bentak suami," rengeknya terdengar kesal. "Aku itu kaya suami teraniaya tau. Akukan juga mau ikut ketemu mertua."
Cukup! Ini suami siapa sih nyebelin terus? Aku berbalik menghadapnya yang sudah melipat bibir terlihat kesal. Dia memandang ke arah lain seolah tidak mau menatapku. Dari semenjak bangun tingkah Alvaro sudah aneh. Seperti anak kecil yang banyak maunya. Padahal semalam siapa coba yang kelihatan dewasa sekali. Eh?
"Mau ikut apa enggak?"
Alvaro melirikku sesaat. Lalu kembali membuang pandangan ke arah lain. "Ikut," balasnya ketus.
Kutarik napas secara perlahan. Tidak ada cara lain memang harus melakukan itu.
Cup
Aku mencium pipinya cepat. Dia terlihat terkejut. Menyentuh pipi dan menatapku bergantian. Seketika senyumnya terbit. Menggandeng tanganku dan berjalan terlihat bersemangat.
"Ayo dong! Makannya jangan lambat. Gak sabar nih ingin ketemu mertua."
Aku mendelik ke arahnya. Lalu ikut melangkahkan kaki karena dia menarikku. Menolak lupa dia siapa tadi yang banyak tingkah? Untung suami.
Kita mendudukan diri di tengah-tengah dua batu nisan. Seketika perasaan sesak itu menyeruak. Tanpa bisa ditahan air mataku tumpah.
"Ayo berdoa dulu."
Alvaro memimpin doa. Sejenak kita berdua sama-sama larut dalam lantunan doa. Di sela-sela lantunan doa air mataku tak bisa dicegah untuk keluar.
Setelah selesai berdoa kuamati dua batu nisan itu perlahan. Mengelusnya seolah sosok mereka yang sedang disentuh. Sayang dua sosok lagi tidak berada di sini karena makam Ayah dan Dava dimakamkan di Bandung di tempat kelahiran ayah.
"Bunda ... Kak Ardi ... Kanaya datang. Sekarang aku udah resmi menjadi seorang istri dan udah menjadi seorang dokter. Aku udah bahagia sekarang dengan Alvaro suamiku. Aku juga yakin kalian di sana juga bahagia. Bunda pasti sudah bertemu ayah dan Dava. Kak Ardi juga udah bahagia di tempat paling indah di sana. Karena kalian orang-orang baik, jadi aku percaya tempat kalian adalah di mana orang-orang baik berada."
Alvaro mengusap punggungku berulang. Seolah memberi kekuatan dan memberitahu keberadaannya. Padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis pada Alvaro tadi. Tapi air mata ini memang tidak bisa ditahan.
"Tante ... emmm Mama ... Ardi saya Alvaro suami Kanaya. Saya berjanji akan menjaga Kanaya seumur hidup dia. Membahagiakan dia setiap saat. Saat dia bersama saya akan selalu dipastikan hanya senyuman kebahagiaan yang ia rasakan."
Alvaro merangkulku dalam dekapannya. Kali ini aku kembali menangis. Bukan tangis kesedihan tapi tangis haru kebahagiaan.
Kita tahu hidup tidak berhenti di sini. Ini bukan akhir kisah kita yang berakhir happy ending. Tapi ini awal kisah dengan perjalanan yang baru.
Aku sudah menemukan tempat pulang yang sebenarnya. Menyerahkan semua hidupku menjadi seorang istri dari Alvaro. Melabuhkan cinta pada pelabuhan terkahir kepadanya.
Terimakasih Tuhan untuk semua kebahagiaan ini. Alvaro adalah anugrah terindah yang Kau beri untukku.
"I love you my wife."
"I love you too my husband."
The end
**Thank for reading🤗
Terimakasih telah mengikuti cerita ini sampai akhir. 💜
Ada yang mau Maya?
Jangan lupa vote & comment💜**