
****Happy and enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Tidah harus selalu ada alasan untuk kita ingin memiliki.
Tapi harus selalu ada alasan untuk kita selalu bahagia.
🐰
"Nay bagus gak jepitan rambut baru gue?" tanya Maya heboh memperlihatkan jepitan rambutnya.
Kanaya hanya menoleh sebentar, lalu kemudian kembali menenggelamkan kepalanya ke atas meja.
"Nay ... kenapa sih lo? Kaya ayam kena flu burung aja lo. Gak ada semangat-semangat nya gitu," protes Maya risih melihatnya.
Kanaya mendelik tajam ke arah Maya. Sementara Maya hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Akhirnya ia lebih memilih kembali fokus melihat ke jepit rambut barunya.
"Tuhkan bener lo kaya ayam kena flu burung. Sekarang aja lo komat-kamit aja kaya dukun. Ih ... serem ... tau Nay, " cibir Maya pura-pura takut.
Kanaya mencoba menghembuskan napas berkali-kali, agar tidak menjambak rambut Maya sampai rontok. "May ... bisa diem gak? Suara lo bikin kepala gue tambah mau pecah aja tau!" omel Kanaya frustrasi.
"Emang gelas mau pecah segala Nay," tukas Maya santai.
Kanaya kemudian menggertakan giginya, pertanda ia benar-benar sedang kesal. Sementara Maya akhirnya tahu kalau Kanaya benar-benar sedang marah. Maya lalu memilih menyerah untuk mengganggu Kanaya.
Akhirnya Kanaya bisa bernapas lega saat melihat Maya tidak mengganggunya lagi, karena sahabatnya itu sudah asyik bergosip dengan teman kelasnya yang lain.
**
Brakkkk...
Suara gebrakan meja yang dipukul keras oleh Alvaro, membuat ketiga orang lainnya yang berada di sana terkejut.
Saat ini Alvaro sedang bersama ketiga temannya. Mereka sekarang sedang berada di ruang ganti olahraga. Tiba-tiba setelah Alvaro membaca pesan di ponsel, tanpa aba-aba langsung menggebrak meja.
"Hey upil emas ... kenapa sih lo? Bikin jantung gue deg-deg an aja. Gue kan mau dowload video, jadi gagal kan gara-gara kaget," protes Diego kesal. Gara-gara Alvaro saat ia akan berniat mengklik play menjadi batal.
Sementara Vino hanya mendengus malas, melihat tingkah abstrak hobi baru Diego yang suka mendowload dan nonton video 'seperti itu'.
"Dasar tua bangka sialan! Apa sih maunya? Ngapain coba ngancam-ngancam gue segala!" teriak Alvaro masih emosi.
Setelah itu Alvaro pergi meninggalkan ketiga temannya yang masih sangat penasaran dengan tingkahnya barusan. Kemudian mereka bertiga saling pandang untuk saling meminta jawaban.
"Mungkin masalah keluarganya biasa. Biarin dulu tuh anak sendiri," ujar Vino santai, matanya masih fokus ke ponsel.
"Kehidupan keluarga kita gak ada yang beres semua. Tapi karena ketidak beresan itu yang ngebuat kita dipertemukan dan sampai sekarang masih bareng-bareng."
Diego hanya mengangguk-gangguk setuju atas apa yang Rio ucapkan barusan.
"Jadi intinya kita anak-anak yang gak beres dan akhirnya berteman," timpal Diego antusias.
Vino mendengus jengkel. "Sorry ... kita bertiga berada dipihak yang waras. Kayaknya cuman lo di sini yang berada dipihak gak beres dan gak waras."
Diego mengerucutkan bibirnya sebal. Ia melirik Vino yang kini sudah fokus lagi ke ponsel. Sungguh sialan teman satunya itu!
"Vin ... asli lo jahat curut," protesnya tidak terima.
**
Brakkkk...prukkkkk....prang....
Suara barang-barang di rootrof yang ditendang dan dipukul Alvaro tanpa belas kasih.
"Brengsek! Selama ini gue diem dan gak ikut campur urusan mereka. Tapi kenapa mereka yang terus ngusik dan ganggu urusan gue!"
Alvaro selama ini berusaha tidak peduli dengan apapun yang keluarga ayahnya urusi. Sekalipun yang mereka urusi bahkan harta peninggalan ibunya.
Alvaro tahu ayahnya hanya seseorang yang sangat miskin pada saat menikah dengan ibu. Ibunya adalah anak tunggal dari oma yang keturunan konglomerat dan sudah bercerai dengan oppa yang keberadaannya sekarang entah berada di negri mana. Bahkan hidup ataupun sudah matinya pun ia tak tahu.
"Akh ... dasar iblis!"
Memikirkan itu semua hanya membuat Alvaro kembali merasakan rasa sakit itu lagi.
Kemudian ia mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan ke seseorang. Tanpa sadar Alvaro tersenyum setelah pesan itu terkirim.
**
Saat ini Kanaya tengah terburu-buru memasukkan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam. Membuat Maya hanya mengerutkan kening bingung, ia tidak berani berbicara dengan Kanaya. Saat mengingat Kanaya yang dari tadi persis seperti tawon yang kena sentuh sedikit langsung nyengat. Akhirnya Maya memilih membiarkan Kanaya dari pada kena semprot lagi.
"Gue duluan May!" pamit Kanaya terlihat terburu-buru.
Belum sempat Maya menjawab, Kanaya sudah pergi duluan meninggalkan kelas.
Saat ini Kanaya tengah berusaha berlari dari lingkungan sekolah. Ia sengaja pergi secepat mungkin meninggalkan sekolah untuk menghindari seseorang. Pikirannya kembali teringat pada saat tadi di kelas. Saat tiba-tiba ada nomer yang tidak dikenal yang mengiriminya sebuah pesan.
From : 083819754×××
Pulang sekolah ikut gue, kita kencan.
Tiba-tiba ia merasa tangannya ditarik dan diseret paksa oleh seseorang. Saat melihat siapa pelakunya seketika ia langsung mencebikan bibirnya kesal.
"Akhirnya ketemu di sini."
Kanaya mendengus malas karena rencana kaburnya akhirnya gagal total. "Gue gak bisa. Gue harus kerja."
Kanaya mencoba melembutkan suaranya selembut mungkin. Ia berusaha memasang muka semelas mungkin untuk membuat Alvaro sedikit luluh.
"Gue udah bayar jam kerja lo hari ini. Jadi walaupun gak kerja, hari ini tetep lo dianggap masuk kerja."
Alvaro semakin tersenyum senang penuh kemenangan saat melihat raut muka pasrah Kanaya yang sedang ditekuk masam.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Kanaya ketus.
Setelah tadi Kanaya dipaksa dan diseret masuk oleh Alvaro ke dalam mobilnya. Saat ini Kanaya akhirnya tengah terdampar di mobil Alvaro. Dari pertama masuk mobil setengah jam yang lalu, tidak ada yang membuka suara diantara mereka. Kanaya yang tidak tahan dengan keheningan, akhirnya membuka suara duluan.
"Hello! Gue lagi ngomong yah butuh tanggapan, bukan lagi pidato kebangsaan cuman disimak!" ketus Kanaya jengkel.
Alvaro hanya menoleh sekilas ke Kanaya, lalu kembali melihat jalan di depannya lagi.
"Ok ... gue dipaksa ikut sama lo, tapi gue gak dikasih tau mau dibawa ke mana. Gimana kalo gue mau dimutilasi terus organ-organ dalam gue dijual," ucap Kanaya heboh semakin mendramatisir suasana.
"Tau aja lo."
Kanaya melotot kaget. Ia merasa panik dan takut seketika. Sementara Alvaro hanya terkekeh kecil melihat tingkah Kanaya.
"Lo lucu, imajinasi lo ketinggian. Emang menurut lo muka ganteng kaya gue ada kelihatan tanda-tanda kejahatan kaya gitu," balas Alvaro angkuh, khas dengan muka sombongnya.
Kanaya mendengus jengkel melihatnya. "Makanya kasih tau! Jadikan gue gak curiga kaya gini!"
Lalu Kanaya merasakan sebuah tangan mengusap puncak kepalanya lembut, untuk sesaat Kanaya terkesiap akan tindakan Alvaro.
"Diem aja, nanti juga tau dan lo pasti suka."
Kanaya hanya mengangguk singkat saat Alvaro tersenyum begitu manis ke arahnya. Akhirnya ia lebih memilih melihat jalanan di samping luar kaca mobil.
Jantung sialan! Berdetak tidak pada waktunya!
Sekarang Kanaya percaya kalau Tuhan selalu menciptakan apapun mempunyai dua sisi, sisi baik dan sisi buruk.
Seperti halnya saat ini. Kanaya pikir sejak pertama bertemu Alvaro. Seketika ia langsung mengklaim Alvaro sebagai cowok mesum, egois, sombong, semaunya sendiri dan tidak punya hati. Tapi sekarang, Kanaya bisa melihat sisi kedua dari cowok itu yang tak pernah ia tahu ada, yaitu sisi baik.
Kanaya jadi bersyukur ikut pergi dengan Alvaro. Walaupun Kanaya pikir Alvaro akan membawanya pergi ke tempat orang biasa kencan. Tempat biasa orang pergi menghabiskan uang dengan percuma, tapi ternyata tidak.
"Gue gak nyangka, ternyata lo juga punya sisi baik kaya gini."
Sebuah senyuman takan pernah lepas dari bibir Kanaya saat ini, saat matanya kembali menyaksikan pemandangan di depannya. Seorang cowok yaitu Alvaro sedang duduk bermain gitar dan dikelilingi oleh sekumpulan anak-anak kecil yang ikut bernyanyi bersama dia.
"Sumpah ... gue beneran gak nyangka kalo lo bakal bawa gue ke Panti Asuhan."
Tiba-tiba Kanaya merasakan sebuah tangan kecil yang menggenggam tangannya.
"Kakak gak mau ikut nyanyi sama temen-temen dan Kak Alvalo?" tanya seorang gadis kecil yang manis.
Kanaya kemudian berjongkok untuk mensejajarkan dirinya setinggi gadis kecil yang berusia sekitar 4 tahun di depannya.
Kanaya tersenyum lembut. "Silla kenapa di sini? Kenapa Silla juga gak ikut nyanyi bareng di sana?"
Kanaya mencubit gemas pipi tembem Silla, membuat Silla mengerucutkan bibir lucu semakin membuat Kanaya gemas.
"Silla tadi di sana, telus Silla lihat Kaka di sini, ya udah Silla sampelin Kaka ke sini," jawab Silla lucu.
"Ya udah ayo kita ke sana, kita nyanyi," ajak Kanaya yang langsung mendapat anggukan antusias dari Silla.
Kanaya lalu menggendong Silla. Sesampainya di sana Kanaya menurunkan Silla yang sekarang sudah asyik bernyanyi bersama teman-temannya.
Saat Kanaya akan duduk, tak sengaja matanya beradu pandang dengan mata Alvaro. Tiba-tiba Kanaya menjadi salah tingkah saat melihat Alvaro tersenyum padanya. Kemudian ia duduk dan ikut bernyanyi bersama.
Hari ini Kanaya benar-benar bahagia. Satu hal yang dipelajari hari ini.
Terkadang kita merasa selalu menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Bahkan kita selalu menyalahkan Tuhan, kenapa hidup kita tak sebaik kehidupan orang-orang di luar sana. Cobalah lebih membuka mata lagi pada sekitar. Mencoba membuka diri lagi. Memang di atas langit masih ada langit. Tapi bukankah di bawah tanah pun masih ada lapisan-lapisan tanah juga.
Saat kita merasa diri kita benar-benar dalam keadaan terpuruk. Cobalah kita pikirkan lagi berapa banyak kebahagiaan yang didapatkan sebelum mendapatkan kesedihan ini. Karena kita akan tahu bahwa terlalu sayang hidup hanya dihabiskan untuk terpuruk dalam kesedihan yang dialami saat ini. Kita harus selalu yakin dan percaya. Masih ada banyak kebahagiaan yang menanti jika kita mampu bangkit dari keterpurukan ini.
Drrtt..drttt...drrtttt
Sebuah suara getaran ponsel menyadarkan Kanaya dari lamunannya malam ini.
From : cowok mesum
Cepet tidur... jangan terlalu mikirin gue. Nanti otak lo jadi bodo karena terlalu penuh tentang gue. Gue tau gue ganteng dan ngangenin..😍😘
Sun jauh 😘😙😍
"Dasar sialan! Nyesel gue udah ngelamunin kebaikan dia barusan. Karena sekali cowok sialan yah tetep cowok sialan dan brengsek!"
**Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment🙏**