Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
8. Gaji Gue Hilang



**Happy and enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Karena sebuah takdir tidak dapat dirubah. Seberapa keras kita lari dan melawan takdir, seberapa cepat juga takdir itu menghampiri kita...


🐰


Maya saat ini sedang berjalan di koridor sekolah. Matanya fokus melihat ke kaca cermin di tangannya.


"Gue baru sadar kalau ada jerawat di wajah gue. Ya ampun ... gue harus cepet pergi ke salon nih!" serunya heboh dan panik.


Karena terlalu fokus melihat kaca, Maya tidak sadar kalau dia menabrak seseorang. Sehingga keningnya menyentuh dagu orang yang ia tabrak.


Maya meringis. "Aw ... sakit. Jidat gue, siapa sih yang jalan gak lihat-lihat!" omelnya sambil menyentuh jidatnya.


Saat dia mendongak ingin melihat orang yang menabrak. Ia terkejut saat melihat seorang cowok tampan yang dia tabrak.


"Ya ampun ... ya ampun ... ini cowok tampan banget. Ah ... kenapa gak sekalian aja barusan jatuhnya kayak di drama-drama India gitu? Kan lumayan nyentuh cowok ganteng," gumamnya pelan dan heboh menatap penuh kagum.


Cowok itu menatap Maya datar. "Kalau ngerasa punya jidat selebar lapang bola basket, tau diri dikit dong. Kalo lagi jalan,  lihat jalan bukan kaca. Untung ponsel gue gak papa," sewotnya dingin.


Maya seketika langsung syok saat mendengar perkataan cowok barusan yang tak lain adalah Vino. "Wajah lo tampan tapi kenapa mulut lo ya ampun!"


Maya melotot kaget, saat tiba-tiba cowok di depannya mencapit mulutnya dengan sebelah tangan.


"Jangan mangap terlalu lebar entar lalat masuk terus lo mati di sekolah. Sayang nama sekolah tercemar gara-gara kematian gak etis lo karena lalat."


Setelah itu Vino pergi meninggalkan Maya yang masih syok di tempatnya.


"Gila!"


**


Kanaya yang baru masuk kelas tiba-tiba kaget, saat melihat sahabat satu-satunya yang super unik dan langka sedang menangis sesenggukan.


"Lo kenapa May? Kenapa lo nangis?" tanya Kanaya khawatir. Ia berusaha mengusap belakang kepala Maya, berusaha menenangkannya.


Kanaya semakin gelisah saat Maya semakin menangis terisak. Bahkan mereka sudah menjadi tontonan seisi kelas.


"Jawab dong lo kenapa? Kalo gak ngomong-ngomong gue tinggal nih." kata Kanaya lagi saat Maya kembali tak merespon.


Maya mendongak menatap Kanaya dengan wajah penuh air mata. "Jangan dong! Jangan pergi. Gue lagi sedih malah ditinggal. Jahat lo Nay," rengek Maya masih sesenggukan.


"Yah ... terus kenapa lo nangis? Cerita sama gue sekarang!" ujar Kanaya kesal.


"Jadi gini ... tadi gue habis dari toilet. Gue ketemu cowok ganteng banget. Terus dia bilang jidat gue lebar kaya lapangan basket, karena gue nabrak dia terus gitu dia doain gue biar mati keselek lalat." Cerita Maya  terbata-bata sambil masih menangis  sesenggukan.


Kanaya mendengus jengkel mendengar celotehan Maya yang membuatnya dari perasaan iba menjadi perasaan kesal.


"Jadi lo nangis cuman dibilang jidat lo lebar. Memang kenyataannya jidat lo lebar kan May!" sewot Kanaya frustrasi.


Serius kalau Maya bukan satu-satunya sahabatnya saat ini. Mungkin ia sudah mengirim Maya ke Afrika sekarang juga. Karena rasanya Kanaya mulai jengah melihat tingkah konyol Maya.


"Tadinya gue hari ini mau ngajak lo makan eskrim. Sekali-kali kan gue teraktir lo, mumpung lagi ada rezeki mau gajian,"  cibir kanaya. Lalu memfokuskan dirinya ke buku pelajaran. Berusaha mengabaikan Maya yang sudah melihat penuh minat.


"Janji lo mau traktir gue eskrim? Awas kalo bohong," heboh Maya antusias. Bahkan sudah terlihat gembira kembali seakan lupa kalau barusan baru saja menangis.


"Iya janji ... asal lo juga janji juga jangan nangis karena hal-hal konyol kaya barusan lagi."


Maya kembali mengangguk antusias sambil mengacungkan kedua jempol semangat. Kanaya akhirnya bisa bernapas lega. Baginya meladeni sikap Maya seperti meladeni sikap seorang bocah berumur 5 tahun yang kehilangan balon.


Ajaib memang sahabat satunya itu ....


**


"Ceria amat lo bocah. Katanya gaji lo gak jadi hari ini tapi bulan depan."


Saat ini sebelah tangan Ardi mencapit leher Kanaya dari belakang dan menyeret Kanaya masuk ke ruang karyawan.


"Lepasin om jahat! Lepasin ... tolong-tolong gue diculik om-om jahat nih!"


Kanaya berteriak meminta pertolongan, sementara Ardi semakin tertawa puas melihatnya. Saat mereka tiba di ruang karyawan. Ternyata di sana sudah banyak karyawan yang berkumpul dan mereka semua langsung melihat ke arah Ardi dan Kanaya.


"Emmmmm ... ternyata udah banyak orang. Diem lo bocah jangan berisik."


Ardi melepaskan tangannya di leher Kanaya dan mendorong ke dekat Putri yang ada di depannya. Kanaya mendelik saat didorong secara paksa oleh Ardi.


"Tuh ... Kak Putri aku hari ini dianiyaya lagi sama om jahat," adu Kanaya kepada Putri.


Putri yang mendengar aduan Kanaya hanya memutarkan kedua bola matanya malas. "Dasar kalian berdua sama-sama bocah," cibir Putri ketus.


Kanaya mengerucutkan bibir saat Putri menjitak kepalanya. Saat ia akan kembali bersuara tiba-tiba suasana yang tadinya ramai berubah menjadi hening saat manager mereka sekarang sudah ada di depan mereka, untuk memberikan gaji.


" Nay ... jadi lo udah punya pacar sekarang?" tanya Putri kembali karena masih penasaran.


Kanaya mendelikan matanya tajam saat Putri kembali menanyakan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya dari tadi.


"Terus kalo bukan cowok lo, kenapa gaji lo diambil sama dia?"


Kanaya menghembuskan nafas berat, saat mendengar pertanyaan Putri. "Mana gue tau," balasnya ketus.


Rasanya saat ini Kanaya ingin sekali membunuh orang atau membakar cafe ini. Ingatannya kembali kepada saat tadi pembagian gaji. Saat manager-nya telah memberikan gaji seluruh karyawan terkecuali dirinya. Manager-nya lalu memanggil dan memberi tahu kalau gajinya sudah diambil oleh pacarnya.


Pacar *** kebo!


Kanaya benar-benar kaget, karena ia tidak mempunyai pacar. Manager-nya juga bilang  Kalau pacarnya adalah sepupu yang punya cafe yang bernama Alvaro.


Kali ini gue serius bakal ngebunuh lo cowok gila!


Tunggu ajal lo!


Saat tadi Kanaya mengajukan protes kalau tidak punya pacar tapi Manager-nya hanya memberikan sebuah alamat apartemen tempat cowok gila itu berada.


"Sebenarnya apa sih mau dia? Apa dia kurang duit sampai ngambil gaji gue selama sebulan!" omelnya benar-benar frustrasi.


Tiba-tiba ia melihat sebuah kotak eskrim ada di depannya.


"Tadi Ardi nge-chat gue suruh nalangin dulu buat beliin lo eskrim. Katanya eskrim bisa ngeredam amarah lo," ujar Putri.


Kanaya mendongak lalu mengambil eskrim itu dalam diam. Setelah memberikan eskrim, Putri kembali meninggalkan Kanaya yang masih terduduk di ruang karyawan. Hari ini ia sedang marah dan sedang melakukan mogok kerja karena tidak mendapatkan gaji. Dia tidak peduli digaji atau tidak hari ini. Pokoknya hari ini ia akan mogok kerja.


Kanaya menjadi ingat saat Ardi tadi berusaha menghibur dan menenangkannya. Tapi usaha Ardi sia-sia karena Kanaya masih dalam mode marah. Sayangnya hari ini jadwal Ardi libur. Ia hanya sengaja datang ke cafe untuk mengambil gaji dan harus buru-buru pergi karena ada jadwal kuliah.


Seandainya Ardi ada di sini. Mungkin Kanaya tidak akan sesengsara ini. Karena Ardi akan selalu berusaha membuatnya kembali tersenyum. Bahkan tadi Ardi akan memberikan gajinya untuk mengganti gaji Kanaya, tapi sayang Kanaya menolaknya.


"Gue bakal bikin perhitungan sama lo. Gue bakal bunuh lo nanti sekalian."


Tangannya meremas kertas yang berisi alamat Apartemen cowok gila itu, Alvaro. Sorot matanya benar-benar memancarkan amarah saat ini.


Thanks for reading 💜


Jangan lupa vote and commentnya yah🙏