Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
28. Aku_Kamu



**Happy & enjoy reading💜


sorry for typo🙏**


Karena sejak awal hati ini tertuju hanya pada satu nama yaitu kamu..


🐰


Setelah pulang dari Panti Asuhan dan resmi menjadi mama dan papa? Akhirnya mereka terpaksa harus meninggalkan Silla di panti.


Tapi Alvaro susah berjanji kepada Silla jika dia akan datang lagi untuk menjemput Silla dan membawanya tinggal bersama. Akhirnya berbekal janji itu Silla merelakan mereka pergi.


"Papa janji nanti bakal jemput Silla dan nanti kita bisa tinggal bareng."


"Jangan bikin janji yang gak bisa ditepatin. Kasian nanti Silla," kata Kanaya membuka suara saat mereka dalam perjalanan di mobil.


 "Siapa bilang gak bisa ditepatin," jawab Alvaro tanpa menoleh masih sibuk menyetir.


"Silla bakal percaya sama janji lo yang bakal bawa dia pergi dari panti."


"Gue emang serius mau bawa Silla pergi dari panti dan tinggal sama gue," kata Alvaro serius dan masih serius menyetir


Kanaya menoleh, menatap Alvaro. Mencari kebohongan di sana. "Maksud lo?" tanya Kanaya penasaran.


Alvaro menepikkan mobilnya ke pinggir jalan, menatap Kanaya dalam. "Mulai sekarang jadi aku-kamu, jangan gue-lo lagi," katanya tiba-tiba.


"Apaan sih jawab pertanyaan gue," balas Kanaya gemas karena ucapan tidak penting Alvaro.


Alvaro menggeleng. Menatap kesal Kanaya."Aku Nay ... bukan gue," kata Alvaro lagi membuat Kanaya semakin gemas.


Lalu Alvaro kembali menjalankan mobilnya.


"Ok ... sekarang KAMU jawab pertanyaan AKU," ujar Kanaya pasrah. Wajahnya terlihat frustrasi. "Apa maksud KAMU dengan mau bawa Silla tinggal di apartment KAMU?"


Sumpah lidah gue jadi pegel.


"Nah ... pinter," seru Alvaro senang. "Kalau gini kan aku tambah sayang sama kamu." Sebelah tangannya menepuk pelan kepala Kanaya berulang-ulang.


"Ish ... emang gue eh ... aku anak kecil," balas Kanaya kesal. Sementara Alvaro terkekeh melihatnya.


"Aku mau adopsi Silla."


"Adopsi oh ... iya bagus. Iya bagus kok kalo kamu adopsi." Kanaya terlihat berpikir serius lalu menggeleng cepat. "Eh ... apa adopsi? Lo gila eh kamu eh lo kamu ah ribet!" Kanaya malah sibuk dengan kata aku-kamu dan lo-gue yang membuat lidahnya keseleo.


"Ya udah jangan aku-kamu ganti deh emm ... apa ya  ...." Alvaro terlihat  berpikir serius.


Kanaya mengangguk senang. "Wah ... iya bagus ganti. Keseleo lidah gue bilang gitu," serunya antusias. Bahkan sudah lupa dengan topik awal mereka.


"Kalo gitu beib aja deh ... itu lebih cocok," ujar Alvaro yakin.


"Beib ...," gumam Kanaya lirih terlihat berpikir keras.


"Iya jadi gini aku contoin. Beib Naya udah makan? Kalo beib Alva belum," ucap Alvaro serius membuat Kanaya merinding mendengarnya.


"Ah ... gak mau!" tolak Kanaya. "Bukan keseleo lagi itu tapi patah tulang. Gak pokoknya, gak mau!" Kanaya benar-benar merinding sekarang.


"Terus maunya apa dong beib?" Alvaro semakin berniat menggoda Kanaya, ia sangat menikmati ekspresi cemberut Kanaya.


"Ya udah aku- kamu aja. Itu lebih mending kayaknya," jawab Kanaya  pasrah. Setidaknya itu cuma sedikit menggelikan.


"Ya udah. Deal."


Kanaya pikir Alvaro sepertinya salah makan tadi karena malah berubah manis yang berujung menjadi merinding seperti ini.


"Eh ... iya kamu belum jawab tadi ... lo eh kamu serius mau adopsi Silla?" tanya Kanaya  lagi yang mendapat anggukan dari Alvaro.


"Ini adopsi loh? Bukannya apa ... tapi posisi kamu masih sekolah. Nanti kalo kamu adopsi dia terus pas kamu sekolah, dia siapa yang jagain?" Kanaya lega akhirnya si aku-kamu itu lancar diucapkan.


"Kan ada kamu, dia juga kan anak kita," jawab Alvaro enteng.


"Anak kita eh iya ... tapi aku juga kan sekolah. Please deh ... lo aduh kamu harus pikirin baik-baik." Kanaya jadi kesal sendiri dengan si aku-kamu.


"Apa kamu tega biarin dia sedih? Terlepas dari luka itu, dia cuman gadis kecil biasa yang hanya butuh kasih sayang dari orang tua." Alvaro jadi teringat saat kenangan masa kecilnya dulu yang penuh kebahagiaan.


Kanaya tahu bahwa kadang dunia ini memang tidak adil untuk sebagian orang. Kenapa gadis sekecil Silla harus mengalami pedihnya kehidupan seperti ini? Padahal permintaan gadis kecil itu sederhana, hanya ingin punya orang tua yang lengkap dan menyayanginya. Tapi luka itu seakan selalu menghambat semua keinginan sederhananya.


Kanaya menoleh ke arah Alvaro, apa keputusan cowok itu adalah keputusan yang terbaik? Tapi apakah mereka sanggup menjaga Silla di saat mereka sekarang masih sekolah. Tapi keinginan gadis kecil itu sederhana, apa permintaan sederhana itu sangat sulit untuk Silla?


Enggak ... Silla juga pantas untuk bahagia seperti gadis kecil lainnya. Iya dia juga pantas bahagia, Kanaya mulai yakin.


"Kalo kamu yakin sama keputusan kamu ya udah. Tapi aku minta maaf gak bisa bantu jagain. Kamu tahu sendirikan aku kerja. Terus juga ada Bunda yang harus aku jaga," kata Kanaya sedikit merasa bersalah.


"Ya udah kamu berhenti kerja aja," ujar Alvaro santai, sangat santai malah.


"Kamu gila aku harus berhenti kerja! Gimana aku makan sama Bunda? Kamu ngerti dong posisi aku!" pekik  Kanaya kesal. Ia bingung semua keadaan membuatnya serba salah.


"Maksud aku kamu berhenti kerja di cafe dan kerja sama aku." Saat ini Alvaro sangat serius dengan ucapannya.


"Kerja apaan? Jangan ngaco deh," kata Kanaya. Ia heran dengan pikiran dangkal Alvaro yang suka memutuskan semuanya seenak sendiri.


"Maksud aku kamu kerja sama aku buat jagain Silla sepulang jam sekolah. Kaya kamu kerja di cafe, mau kan?" tanya Alvaro berharap Kanaya setuju.


"Nanti gue pikirin," balas Kanaya akhirnya. Bahkan ia sudah tidak peduli dengan aku-kamu saking lelah dengan pikirannya.


Semuanya tidak semudah yang kita bayangkan. Kanaya juga butuh waktu untuk memikirkannya. Mungkin bagi Alvaro berhenti bekerja di cafe itu adalah hal mudah, tapi bagi Kanaya pekerjaan di cafe bukan hanya sebagai pekerjaan. Entahlah mungkin Kanaya sudah sangat nyaman dengan pekerjaannya. Apalagi rasanya tidak rela kalau harus berpisah dari Ardi.


Sepertinya Kanaya baru ingat sudah beberapa hari ini tidak ada kabar dari Ardi. Bahkan tidak ada satu pesanpun masuk di ponselnya dari Ardi. Padaha biasanya Ardi paling sering merecoki dia, mau langsung ataupun di ponsel.


"Nay ...," tegur Alvaro karena merasa diabaikan. "Nay ... kok kamu ngelamun?" tanyanya lagi yang masih diabaikan Kanaya.


Akhirnya karena kesal terus diabaikan, Alvaro mencubit hidung Kanaya membuat yang punya hidung memekik kesakitan. Kanaya lalu melotot tajam ke arah Alvaro yang dibalas kekehan oleh Alvaro.


Alvaro selalu bisa membuat tensi darah Kanaya naik, membuatnya  kadang gemas ingin membawa Alvaro untuk di ruQiah ke dukun. Entahlah pikirannya kadang ikut tidak waras saat bersama Alvaro.


"Kok lo malah cubit hidung gue, sakit tau!" protes Kanaya sambil mengelus hidungnya yang mungkin sudah merah.


"Kok buka seatbeth? Emang mau kemana lo eh ... kamu?" Kanaya menjadi geram sendiri dengan si aku-kamu.


"Kita mau makan dulu, aku laper nih," jawab Alvaro. Kanaya merasa heran karena cowok itu bisa santai mengucapkan aku-kamu.


"Ayo turun, apa kamu mau tunggu di sini?" tanya Alvaro lagi karena kanaya tidak bergeming masih terdiam.


"Eh ...  iya ayo," jawab Kanaya lalu melepaskan seatbethnya dan keluar meninggalkan Alvaro yang masih di mobil.


"Dasar gadis itu," gumam Alvaro lalu menyusul Kanaya.


Menjaga cinta itu bukanlah


satu hal yang mudah....


Namun sedetikpun tak pernah kau berpaling dariku...


Sebuah lagu dari Virgoun menyambut kedatangan mereka di restoran. Lagu yang cocok untuk suasana yang romantis.


Beruntungnya aku dimiliki kamu...


Memori kanaya berputar kemasa dia bertemu pertama kali dengan Alvaro. Bukan masa pertemuan romantis tapi lebih bisa dibilang pertemuan yang tidak baik.


Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati...


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi...


Tentang terang dan gelapnya hidup ini.


Kehadiran Alvaro memang merubah hidup Kanaya. Bukan perubahan dalam bentuk fisik, tapi bisa dibilang perubahan dalam bentuk sisi perasaan. Kanaya merasa bahagia. karena hanya itu yang Kanaya rasakan bersama Alvaro.


Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku..


Waktu kan mengusaikan cantikmu..


Kau wanita terhebat bagiku..


Tolong kamu camkan itu..


Kanaya....


Eh kok jadi ada nama guenya?


Kanaya lalu melirik ke depan ke arah Alvaro. Cowok itu sekarang tengah tersenyum manis menatapnya.


"Nay ... aku emang gak bisa seromantis Virgoun buat bisa nyiptain lagu romantis buat kamu dan aku ...," kata Alvaro terlihat gugup. "Aku juga bukan cowok yang selalu bisa ngelakuin hal manis buat kamu. Ini mungkin bakal terdengar gila buat kamu apalagi buat aku. Karena awalnya aku gak pernah berpikir bakal bilang ini sama siapapun ataupun sama kamu."


Kanaya hanya diam saat Alvaro telah menggenggam kedua tangannya.


"Aku sayang kamu lebih sayang kamu dibanding diri aku sendiri. Aku gak bisa janjiin apa-apa buat kamu. Aku cuman bisa bilang tolong percaya sama aku. Karena aku bakal selalu berusaha bahagiain kamu. Jangan pernah nyerah sama aku sampai kita benar-benar menjadi kita dan hidup bahagia sampai menua bersama anak-anak kita," kata Alvaro dalam satu tarikan napas.


Tuhan jika ini mimpi tolong bangunkan Kanaya. Ia rasanya seperti terbang melayang atas ucapan manis Alvaro. Kanaya harap setelah cowok itu berhasil  membuatnya terbang setinggi ini. Tolong jangan pernah jatuhkan dia untuk apapun alasan apapun itu nantinya.


Alvaro masih menggenggam tangan Kanaya lalu mencium kedua tangannya membuat Kanaya tak kuasa menangis terharu.


Kanaya terisak. Menatap Alvaro dalam. "Aku juga sayang kamu. Please ... kamu juga jangan pernah nyerah sama aku apapun itu juga," jawab Kanaya pelan.


Alvaro yang masih mencium tangan Kanaya lalu mendongak menatapnya. Ini pertama kalinya Kanaya mengatakan kata itu. Karena selama ini hanya lewat tatapan dan ekspresi wajahnya, Alvaro tahu perasaan Kanaya.


Alvaro tersenyum. Balas menatap Kanaya dalam. "Percaya sama aku. Setelah ini perjalanan kita masih panjang dan kamu benar-benar harus percaya sama aku, kalau aku sayang kamu. Tetep stay sama aku apapun yang terjadi." Alvaro lalu menghapus lembut air mata Kanaya dengan kedua ibu jarinya.


Setelah itu Alvaro berdiri dan berjalan ke tempat duduk Kanaya. Ia berjongkok dan menggenggam kedua tangan Kanaya. Kemudian mencium kening Kanaya lalu memeluknya erat. Kanaya membalas pelukan Alvaro, ia menangis terharu dalan pelukannya.


Prokk prokk  prokk


"Wah ... saya ikutan terharu melihat mereka."


"Seandainya saya punya anak perempuan. Saya bawa pulang anak cowoknya tak jadiin menantu."


"Ya sudah saya kebetulan punya anak cowok. Saya bawa pulang anak gadisnya buat menantu saya."


"Sayang kaya mereka dong ... so sweet tau."


Kanaya yang masih berada dipelukan Alvaro buru-buru melepaskan pelukannya dan melihat sekeliling. Ya ampun betapa malunya dia. Ternyata dari tadi mereka jadi tontonan para pengunjung restoran. Ia kembali memeluk Alvaro untuk menyembunyikan wajahnya di dada Alvaro.


"Gak mau lagi aku ke sini malu."


"Gak papa biar semua orang tau, bahkan seluruh dunia tau kalau kita saling menyayangi."


"Dasar gak punya malu."


"Iya itu aku."


"Paket ngaku segala lagi!"


"Iya aku sayang kamu Nay."


"Gila!"


"Iya aku gila karena kamu Nay."


Meruntuhkan egoku bukanlah satu hal yang mudah...


Dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku...


Beruntungnya aku Nay dimiliki kamu.


**Thanks for reading 💜


Jangan lupa vote & comment💜**