Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
17. Sial



Happy and enjoy reading💜


Sorry for typo🙏


Jika adari awal tahu senyummu mampu membuatku sebahagia ini.


Mungkin takkan pernah kubiarkan air matamu jatuh walau hanya setetes...


🐰


( Maya & vino )


"Yeyeye ... akhirnya dapet juga body lotion sama lipstik keluaran terbaru yang waw ... ini."


Maya benar-benar merasa bahagia hari ini. Rasanya penantian selama sebulan untuk menunggu launching produk terbaru dari brand produk kosmetik langganannya terbayar sudah.


Bahkan ia sampai rela merelakan waktu libur sekolah yang biasanya  digunakan untuk mempercantik diri dan tidur. Tapi hari ini ia rela bangun pagi dan mengantri panjang demi kosmetik keluaran terbaru.


"Senengnya hatiku sungguh senang hatiku kini aku lebih cantik," seru Maya heboh.


Sebenarnya tadi ia mengajak Kanaya untuk menemani, tapi Kanaya bukan remaja bebas seperti dirinya. Terkadang Maya merasa kasihan pada sahabatnya itu. Waktu mudanya ia gunakan untuk bekerja keras, bukan bersenang-senang seperti dirinya.


"Mungkin kalau gue jadi Naya. Gue udah gila saking gak kuatnya sekarang. Tapi gue salut sama dia."


Hari ini masih ada beberapa tempat yang akan Maya kunjungi. Ia akan pergi untuk memborong diskon baju di butik langganannya, lalu akan melakukan perawatan kecantikan di salon. Karena ia merasa kulitnya terlihat lebih kusam akhir-akhir ini.


Karena saking terlalu antusiasnya Maya sampai tidak sadar menabrak seseorang saat  sedang berjalan menuju go-car pesanannya.


"Aduh ... maaf saya gak sengaja tadi," ujar Maya merasa bersalah. Ia membantu membereskan bawaan orang yang ditabrak yang  berceceran.


Saat Maya tengah membereskan bawaan orang yang ditabrak. Ia mulai merasa aneh karena orang yang ia tabrak masih tetap berdiri tanpa berniat membantunya.


Songong banget sih jadi orang. Gue kan udah minta maaf. Harusnya kan dia sekarang bantuin gue. Bukan lihatin kaya gitu. Ini kan barang-barang dia juga.


Dengan perasaan sangat terpaksa dan berbagai umpatan kekesalan di dalam hati, akhirnya ia telah selesai. Maya lalu berdiri dan berniat akan memberikan bawaan orang tadi.


Gerakan tangannya terhenti saat dia melihat orang yang ditabrak tadi tengah menatapnya dengan penuh antusias. Wajah dan tatapan matanya sangat berbinar. Seperti tatapan Kanaya yang akan ditraktir eskrim selama sebulan.


Tapi tunggu ada yang aneh. Maya mencoba melihat keadaan penampilan orang yang ditabraknya tadi. Seorang lelaki berambut gondrong menggunakan pakaian yanghanya memakai celana, itu juga robek-robek di berbagai bagian. Wajahnya juga kusam seperti orang yang tidak pernah mandi bertahun-tahun.


"Ya ampun ... kok gue baru sadar sekarang ternyata dia ...," ucapan Maya terhenti saat melihat orang itu akan memeluknya penuh antusias.


"Istriku ... ternyata kamu di sini. Aku mencarimu kemana-mana. Ayo kita pulang istriku sayang!" seru orang itu girang. Tangannya berusaha terus untuk memeluk Maya yang terus menghindar.


"Oh ya ampun .... orang gila. Hus ... hus sana pergi jangan ganggu gue. Ya ampun tolong siapapun tolong gue sekarang!" teriak Maya heboh sambil terus menghindar dari pelukan orang di depannya.


Saat tangan orang itu hampir memeluknya, Maya dengan refleks menginjak kaki orang itu. Ia berusaha berlari sekuat tenaga, meninggalkan orang itu yang sedang meringis kesakitan.


"Mimpi apa gue dikejar orang gila dan hampir dipeluk terus disangka istrinya."


Saat ini Maya jadi menyesal karena ia kurang menyukai olahraga. Ia sering menolak ajakan kakaknya untuk lari pagi. Tapi lihat sekarang, ia bahkan sedang berlari di bawah terik matahari yang panas.


Mungkin ini juga karma karena Maya sering mengejek kakaknya sepulang lari pagi. Menurutnya lari pagi hanya membuat kulit kakaknya kusam dan badan bau.


Oh ... Kakak maafkan aku.


Kekuatan tubuh Maya sudah diakhir batas. Rasanya sekarang ia sudah tidak mampu lagi untuk berlari. Maya harap orang gila itu merasakan lelah sama seperti dirinya dan akhirnya memilih menyerah untuk mengejarnya.


Tapi saat Maya menengok ke belakang betapa terkejutnya dia, saat melihat orang gila itu masih semangat mengejar. Bahkan semakin heboh meneriakinya.


Sumpah rasanya ia ingin menenggelamkan kepala ke dasar laut paling dalam. Meihat orang-orang di sekitar yang melihatnya malah menertawakan, bukan membantunya.


Ya Tuhan betapa malunya gue sekarang!


"Gue harus cari tempat sembunyi. Gue gak bisa lari terus. Harga diri gue ya ampun!" jeritnya frustrasi.


Tak jauh dari tempatnya berlari sekarang Maya melihat sebuah mobil yang terparkir di depan sebuah toko kue. Tanpa berpikir panjang lagi ia langsung masuk ke kursi penumpang untuk bersembunyi.


"Ehemmmmm ...." Suara deheman seseorang membuatnya refleks melihat ke kursi pemudi.


"Ya Tuhan ... ternyata ada orangnya! Gue pikir gak ada orangnya. Gimana ini?" serunya heboh yang hanya mendapat delikan tajam dari orang yang punya mobil yang tak lain seorang cowok.


"Turun sekarang atau mau gue turunin paksa lewat jalur polisi!" titah cowok itu dingin dan ketus.


Maya hanya terkejut menatap cowok di depannya. Dibenaknya betapa cowok itu tampan sekali, tapi kenapa mulutnya berbicara sangat pedas. Tapi tunggu kalau diperhatikan sepertinya Maya pernah melihat cowok itu. Maya sekarang ingat dimana!


"Ya ampun lo kan cowok yang waktu itu di depan toilet, yang doain gue mati keselek laler," kata Maya heboh. Bahkan sekarang semakin terang-terangan menatap tajam cowok di depannya.


"Gue hitung sampai 5. Kalo lo gak turun gue bakal lapor polisi atas tuduhan penyusupan," kata Vino ketus membuat Maya mendadak panik.


"Ya ampun ... lo serius! Jangan dong jangan please ... jangan nyuruh gue turun!" teriak Maya panik.


Maya semakin panik saat melihat ke belakang. Orang gila itu masih terus mengejarnya dengan teriakan heboh yang membuat Maya malu setengah mati.


"Turun sekarang!" bentak Vino yang mulai risih dengan tingkah aneh dan heboh Maya.


"Please  ... jangan turunin gue. Gue mohon, gue lagi dikejar orang gila di belakang. Dia ngaku-ngaku gue istrinya. Ya ampun ... gak level banget." Cerita Maya heboh dan panik  tanpa ingat siapa yang diajak bicara di sampingnya.


Sebenarnya Vino ingin tertawa mendengar Maya sedang bercerita heboh. Tapi ia berusaha menahan dan tetap memasang muka datar lagi.


"Please ...  jangan turunin gue. Gue janji bakal ngelakuin apa aja pokoknya. Please ... masa depan gue dipertaruhin nih sama orang gila itu. Apapun serius deh." Maya sudah merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


Vino terdiam melihat cewek aneh yang sedang memohon, tiba-tiba sebuah ide terpikir olehnya.


"Apapun?" tanya Vino kembali memastikan. Ini kesempatan bagus untuk mamfaatkan cewek di sampingnya.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Maya mengganggukan tanda setuju. Ia benar-benar tidak punya pilihan lain. Masa depannya di tangan cowok ganteng di depannya ini. Saat ini  hanya bisa pasrah. Ini lebih baik dibanding berakhir jadi istri orang gila. Ia lebih memilih jadi sandra cowok ganteng saja.


"Ok ... lo ikut gue. Satu hal jangan banyak tanya."


"Ikut kemana? Emang kita mau kemana?" tanya Maya mulai heboh saat Vino mulai menjalankan mobilnya.


Vino mendelik tajam ke arah Maya, berusaha memperingatkan maya lewat tatapan. Akhirnya Maya yang paham arti tatapan Vino memutarkan kedua bola matanya malas.


"Ok ... gue diem deh, diapa-apain aja. Setidaknya saat ini gue diculik cowok ganteng bukan cowok gila," gerutunya pasrah.


Vino melirik lewat ujung mata saat Maya sekarang sudah duduk terlihat diam.


Maya kembali menoleh ke belakang. Ia lega, akhirnya melihat orang gila tadi sudah jauh tertinggal di belakang. Sumpah demi apapun saat ini cowok di sampingnya itu terlewat ganteng. Maya menjadi sedikit deg-degan.


Akhirnya keheningan menemani perjalanan mereka. Menyisakan beribu tanya di kepala Maya, sebenarnya dia mau dibawa kemana sekarang?


" Lo gila lepasin tangan gue sekarang!" teriak Maya berusaha berontak saat diseret paksa oleh cowok ganteng bermulut pedas itu keluar restosan.


Sebenarnya Maya bukan marah karena diseret paksanya, tapi marah karena tadi terasa dipermainkan.


"Lo emang ya ampun! Gue pusing jadinya." Sementara Vino hanya menatap datar Maya yang terlihat frustrasi.


Bagaimana Maya tidak frustrasi. Tadi diseret paksa turun dari mobil untuk masuk ke sebuah restoran. Maya pikir awalnya mungkin Vino akan mentraktir makan tapi pikirannya salah, saat Vino menariknya menuju sebuah meja yang terdapat 5 cewek cantik yang menatap kedatangan mereka penuh tanya dan terkejut.


"Kita putus. Karena gue udah punya pacar baru. Gue sayang sama dia. Mulai sekarang gue gak ada hubungan sama kalian lagi dan jangan ganggu gue lagi." Maya hanya syok karena dengan to the poinnya cowok di sampingnya yang sudah merangkul pinggangnya.


Bisa Maya lihat ke lima cewek di depannya terlihat sangat sedih. Wajar snamanya juga baru diputuskan. Tapi tunggu, di sini Maya merasa ada yang aneh. Ke lima cewek itu baru diputuskan oleh satu orang cowok. Berarti satu cowok mempunyai lima cewek.


"Ya ampun hebat juga dia punya lima cewek," gumam Maya pelan tapi masih bisa didengar oleh Vino yang berada di sampingnya.


"Kita udah gak ada urusan lagi. Karena gue masih ada urusan sama cewek gue," kata Vino dingin. Rangkulan di pinggang Maya semakin erat.


Maya hanya mengangguk-angguk sok paham. Tapi tunggu tadi cowok itu bilang dia pacarnya. Hey ... dia tidak terima, kenapa dia ikut peran dalam drama romantis picisan ini? Saat  akan protes, tangannya sudah diseret paksa keluar dari restoran menuju ke tempat parkir.


Di sinilah sekarang mereka berada, di parkiran restoran dengan Maya yang terlihat emosi dan Vino yang hanya menatap datar.


"Gue gak terima yah! Kenapa lo bilang gue pacar lo? Lo emang ganteng, tapi kita kan belum pacaran. Ya ampun!"


Vino memutarkan kedua bola mata malas saat melihat cewek di depannya menjambak rambut frustrasi.


"Urusan kita udah selesai dan udah impas. Sekarang kita udah gak ada urusan lagi."


Saat Maya akan kembali protes, Vino sudah berjalan meninggalkannya dan masuk ke mobil. Akhirnya Vino sudah pergi meninggalkan Maya yang masih mencak-mencak marah di tempatnya.


"Ya ampun ... tunggu gue ditinggal. Ya Tuhan tuh cowok brengsek banget sih!"


Rasanya saat ini Maya ingin menangis sekencang-kencangnya. Kenapa nasibnya hari ini sangat sial. Pertama dikejar orang gila. Lalu kemudian ditinggal cowok ganteng seperti cabe-cabean di parkiran restoran.


Kalau tidak ingat ini di tempat umum, mungkin dia sudah menangis teriak- teriak. Tapi dia masih punya harga diri. Jadi akhirnya  Maya memilih pergi dari sana lalu mencari sebuah taxy.


Maya tidak akan melupakan kejadian hari ini dalam sejarah hidupnya. Kejadian yang benar-benar membuatnya menderita dan setres tingkat akut.


Thanks for reading 🙏


Jangan lupa vote & comment💜