Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
30. Jangan Pergi!!!



**Happy & enjoy reading💜


sorry for typo🙏**


karena lebih baik meninggalkan dari pada ditinggalkan...


Karena setidaknya saat kita meninggalkan tidak ada perasaan kehilangan dan terluka...


🐰


Cahaya sinar matahari tidak membuat tidur seorang gadis terusik, malah semakin membuatnya merasa lebih nyenyak. Entah hanya perasaan gadis itu saja atau apa. Tapi yang pasti rasanya bantalnya saat ini terasa lebih empuk dan nyaman dari biasanya.


Apa lagi gulingnya terasa lebih hangat untuk dipeluk. Tapi badannya rasanya terasa sakit, apa posisi tidurnya kurang nyaman, tapi kenapa?


Sebuah sentuhan halus di pipi membuat tidurnya mulai terganggu dan terusik.


"Emmhhhh ...," lenguhnya.


"Hey ... putri tidur bangun ini udah siang," ujar Alvaro semakin gemas saat melihat Kanaya makin terlelap tidur.


Kanaya semakin memeluk erat Alvaro. "Kok putri tidur. Aku kan lagi jadi Elsa," racau Kanaya.


Alvaro yang gemas lalu mencubit hidung Kanaya dan menarik ke depan, membuat Kanaya memekik sakit.


"Aw ... sakit hidung gue mau lepas!" teriak Kanaya heboh terbangun dan mengelus hidungnya.


Suara tertawa di samping membuat Kanaya langsung menoleh ke sampingnya. Bisa Kanaya lihat jika Alvaro sedang tertawa heboh dan entah apa yang menjadi objek tertawanya.


Tapi tunggu kenapa cowok itu ada di situ? Bukannya ia tadi sedang tidur di kamarnya. Lalu sekarang kenapa cowok itu ada di sampingnya? Eh... tunggu ini juga bukan di kamarnya tapi ini di dalam sebuah mobil.


Jadi semalam dia tidur di dalam mobil bukan di kamarnya. Terus bantal dan guling itu apa jangan-jangan? Kanaya menjadi panik sendiri.


"Jangan bilang semalam kamu lupa kita ngapain?" selidik Alvaro saat melihat ekspresi kaget Kanaya.


Kanaya menatap Alvaro penasaran. "Emang semalem kita ngapain?" tanya Kanaya sedikit panik. Pikirannyya sudah merambat ke hal yang tidak-tidak.


Dengan gerakan gugup Kanaya melihat ke tubuhnya untuk memeriksa keadaannya. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, saat melihat dirinya masih berpakaian lengkap.


Suara tertawa kembali membuat Kanaya menoleh ke samping ke tempat Alvaro. Hey! Kenapa cowok itu kembali tertawa? Memangnya ada kejadian lucu di sini.


"Jangan bilang pikiran kamu pagi-pagi udah mesum?" tanya Alvaro berusaha menahan ketawanya.


Sungguh ekspresi gugup, cemberut dan kesal Kanaya malah terlihat semakin menggemaskan di mata Alvaro.


Kanaya cemberut. Memalingkan wajah ke arah lain. "Apaan sih siapa yang mesum coba?" sangkal Kanaya jengkel.


Alvaro mendekatkan wajah."Emang beneran gak inget semalam kita ngapain aja?" katanya. Menyentuh dagu Kanaya agat kembali menoleh ke arahnya. "Serius aku suka permainan kamu semalem. Bikin aku ketagihan," kata Alvaro dengan ekspresi menggodanya.


Kanaya yang mendengar ucapan Alvaro tersebut langsung panik. Pikirannya kembali teringat dan mereplay ulang semua kejadian semalam. Tapi sungguh tidak ada adegan yang aneh dan negatif di pikirannya yang ia ingat semalam.


"Tuhkan otak kamu udah mesum?" seru Alvaro geli. Ini lebih tepat dibilang pernyataan dibanding pertanyaan.


Alvaro menjauhkan wajahnya. "Semalem itu waktu kita lagi lihatin kapal, kamu ketiduran. Berhubung udah malem buat kita pulang dan kamu juga susah dibangunin. Ya udah kita akhirnya tidur di mobi," lanjutnya.


Helaan napas lega Kanaya keluarkan, membuat Alvaro tidak tahan untuk mencubit sebelah pipinya.


"Emang maunya semalam kita ngapain Nay?" goda Alvaro lagi membuat Kanaya mendelik jengkel.


Kruuukkk.....


Ya Tuhan itu suara perut gue. Kenapa dia bunyi gak tepat waktu sih? Malu-maluin aja.


Alvaro mengusap kepala Kanaya. "Kamu lapar? Ya udah kita cari makan dulu," katanya.


Kanaya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alvaro.


**


"Makasih," kata Kanaya saat sudah sampai di depan rumahnya.


"Makasih buat apa?" tanya Alvaro menahan sebelah tangan Kanaya.


Kanaya tersenyum. "Buat semuanya," katanya sedikit geli. "Buat hal indah semalem dan buat traktiran nasi gorengnya barusan." Jawaban antusias Kanaya membuat Alvaro cemberut.


Bagaimana Alvaro tidak kesal. Seperti biasa setiap kali mereka akan makan pasti selalu diawali dengan keributan. Karena Alvaro selalu akan memilih restoran mahal dan Kanaya akan selalu memilih rumah makan biasa. Akhirnya perdebatan panjang mereka dimenangkan oleh Kanaya. Karena Alvaro akhirnya lima kali kalah permainan batu gunting kertas. Alvaro memang selalu kalah di akhir jika tentang permainan itu.


"Udah ih cemberut terus. Kamu kan tadi udah akuin kalau nasi gorengnya enak," ujar Kanaya sedikit masih geli.


"Enak sih cuman yang gak enaknya itu ehemmm ...," ucap Alvaro ragu. Menatap Kanaya dengan wajah kesal. "Kamu tahu sendiri tadi kenapa kan Nay!"


Seketiwa tawa Kanaya meledak saat mengingat kejadian tadi. Saat mereka sedang makan tadi pelayan nasi goreng yang ternyata laki-laki menggoda Alvaro.


Jadi kebetulan mas anak penjual nasi gorengnya itu sangat tampan. Kanaya pikir awalnya, bukan dia merasa kegeeran. Tapi mas tampan itu awalnya ia kira suka sama kepadanya. Karena dari pertama masuk mas tampan itu selalu melihatnya terus dengan Alvaro.


Awalnya Kanaya tidak mengira jika mas tampan itu melenceng. Sampai akhirnya masnya itu tiba-tiba memberikan tisu ke Alvaro yang ada tulisannya seperti ini.


083819702115


Call me..😍


I wait you in my hotel and my apartment😍


Saat mereka melihat ke arah si mas itu, dia malah melambaikan kiss jauh ke arah Alvaro.


"Jadi kamu mau aku selingkuh sama dia?" tanya Alvaro kesal. "Terus kamu mau gitu diduain sama yang kaya gitu?" Ia sudah membuang muka ke arah lain.


Tuhkan ngambeknya lucu.


"Aduh ... ada yang lagi ngambek nih." Kanaya semakin giat menggoda Alvaro. Bahkan tangannya sudah menoel-noel pipi Alvaro.


"Terserah ...." Alvaro berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan Kanaya.


Karena merasa Alvaro yang semakin marah akhirnya Kanaya menyerah untuk terus menggodanya. Sebelah tangannya menyentuh pipi Alvaro membuatnya menoleh ke arahnya.


"Ya udah aku minta maaf," kata Kanaya lembut. "Aku masuk dulu yah kasian Bunda. Gak enak juga sama tante Tika direpotin terus suruh jagain Bunda."


Beruntungnya semalam Kanaya sempat memberi pesan kepada Tante Tika tetangganya untuk menitip Bunda. Kalau tidak ia mungkin sudah merasa seperti anak durhaka karena menelantarkan Bunda dari semalam.


Alvaro tersenyum. Mencium kening Kanaya dalam."Ya udah aku balik dulu. Salam buat Bunda," katanya.


Kanaya tersipu, rona merah muncul di kedua pipinya. Tanpa membalas ucapan Alvaro, lalu turun dari mobil Alvaro masih dalam keadaan tersipu.


"Hati-hati di jalan," pamit Kanaya setelah turun dan berhasil menguasai diri.


"Aku pamit jalan. By Nay."


Kanaya mengangguk. Melambaikan tangan saat melihat mobil Alvaro yang berjalan sampai semakin jauh dan hilang dari pandangannya.


Cinta memang manis dan kadang bisa membuat logika kita lupa diri dan lupa akal.


Waktu sudah menunjukan jam 3 sore saat Kanaya telah selesai memandikan dan menyuapi makan Bunda. Sekarang Bunda telah tidur di kamar. Jadi ia bisa bersantai-bersantai.


"Ah ... sekarang waktunya nyantai. Mumpung lagi bolos kerja," ujar Kanaya senang sudah merebahkan diri di sofa ruang tamu.


Saat Kanaya tengah tidur sambil memainkan ponsel, tiba-tiba ada telepon masuk kemudian mengangkatnya.


"Hello ... Kak putri! Tumben lagi banyak pulsa yah nelpon aku?" tanya Kanaya berusaha santai. Ia sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan, karena tahu Putri pasti akan membahas tentang bolos kerjanya.


"..."


"Eh ... eh ... Kak kenapa nangis?" tanya Kanaya panik. Ia takut sedang terjadi sesuatu yang buruk dengan Putri.


"...."


"Lo kenapa sih Kak?" tanya Kanaya makin panik saat Putri bukannya menjawab malah kembali menangis.


"..."


"Kakak bercandanya gak lucu ah,"  sangkal Kanaya berusaha berpikiran positif.


"..."


Tiga kata dari Putri mampu membuat Kanaya diam. Seketika ponselnya jatuh ke lantai. Padahal biasanya Kanaya selalu menjaga ponsel satu-satunya kesayangannya. Bahkan sampai tersenggol Maya saja, dia sudah heboh. Tapi ini bahkan Kanaya sudah tidak peduli lagi ponselnya seperti apa.


"Gak ... gak mungkin ini gak mungkin. Ini pasti gak mungkin."


Tanpa memikirkan kondisi dirinya, Bunda dan ponsel kesayangannya, Kanaya lalu berlari sekuat tenaga. Dalam hati ia selalu menguatkan diri jika ini semua hanya bercandaannya Putri. Jika ini semua tidak benar terjadi. Ia harus memastikan sendiri dan harus pergi ke alamat yang Putri berikan.


Beberapa buket bunga besar menjadi penyambut tamu, saat Kanaya tiba di depan gerbang sebuah rumah. Ia mati-matian tidak ingin membaca apapun tulisan yang ada di buket bunga itu. Bahkan ia juga mengabaikan rasa sakit kaki karena berlari dari rumah mencari taxi sampai turun di sini tanpa alas kaki.


"Di sini pasti lagi ada hajatan," gumam Kanaya pada diri sendiri. Padahal air matanya sudah mulai menetes.


Sebuah tenda dan puluhan kursi menyambut Kanaya, saat telah berada di halaman rumah itu. Semua ini semakin membuat keyakinannya menipis. Apalagi saat melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya yang menggunakan pakaian serba hitam.


"Nay sini!" teriak seseorang di depan pintu yang tak lain adalah Putri.


Ya Tuhan ... rasanya keyakinan dan pikiran positifnya semakin hilang, saat melihat kondisi Putri dengan pakaian serba hitamnya. Dengan langkah perlahan Kanaya berjalan menuju pintu. Sesampainya di sana, Putri lalu menghambur memeluknya erat dan tangisnya pecah di pelukan Kanaya.


Kanaya masih dengan keadaan kedua tangannya di samping tubuhnya tanpa membalas pelukan putri. Dalam pelukan Putri ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyangkal semua pikiran negatifnya.


Putri lalu melepas pelukannya. Memegang kedua bahu Kanaya, membuat Kanaya yang awalnya menunduk menjadi menatapnya. Kanaya semakin menggeleng saat melihat kondisi Putri yang berantakan dan air mata yang terus menetes.


"Bilang sama aku ... kalau ... Kakak ... lagi bercanda ...." Mati-matian Kanaya menahan air mata yang membuat suaranya terbata.


Putri mengggeleng lemah. Ia lalu menutup mulut berusaha meredam isak tangisnya yang semakin pecah. Kondisi Putri itu membuat Kanaya semakin berpikiran negatif.


"Bilang sama aku kalau Kakak lagi bercanda! Bilang sama aku Kak Bilang!" bentak Kanaya. Pada tahap ini tangis Kanaya pecah.


"Bil ... lang ... samm ... ma ... aku ... ini ... lagi ... ber ... candakan?" tanya Kanaya semakin lemah dan tangisannya semakin pecah.


Rasanya kakinya sudah tidak mampu untuk berdiri lagi. Mungkin jika Putri tidak menahannya Kanaya sudah jatuh ambruk.


"Maaf Nay ... ini gak lagi bercanda. Ini nyata Nay," kata putri lirih. Ia sudah menduga Kanaya akan bereaksi seperti ini.


Lalu dengan langkah pelan Putri membantu Kanaya berjalan menuju ke dalam rumah. Seketika Kanaya langsung ambruk jatuh terduduk saat melihat seseorang yang ia kenal, ia sayang, yang berarti untuknya. Seseorang yang saat ini di depannya tengah terbaring kaku, dengan kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya dari kaki sampai sebatas dada.


Sosok itu tengah dikelilingi sekumpulan orang-orang yang sedang melantunkan ayat suci. Kehadiran seorang wanita yang sedang menangis di samping orang itu yang tengah memandang wajahnya, mungkin memandang untuk yang terakhir kalinya.


Pada tahap ini tangis Kanaya pecah..


"Kak ... Ardi ... tolong ... bilang ... kalau ... lo ... sekarang ... lagi bercanda?"


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote & commentnya💜**