
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Jika luka sebesar debu mungkin aku akan berusaha mengumpulkannya agar bisa menjadi sebutir kelereng.
Tapi sayangnya luka itu lebih besar dari gunung sekalipun.....
🐰
Kanaya memang suka tempat sepi untuk menenangkan diri, tapi jika jenis sepi yang seperti ini ... ia juga tidak mau.
Seharusnya saat ini Kanaya masih bekerja di cafe, tapi pacar baiknya ini dengan seenaknya membawa dia kabur dari pekerjaan. Sehingga Kanaya harus terdampar di mobil mewah pacar tergemesnnya. Lebih baiknya lagi dia hanya dianggap pajangan saja di mobil ini.
Mungkin Kanaya disamakan dengan bebek yang sedang mangut-mangut di depan mobil. Walaupun bebek itu lucu tapi dia tetap saja merasa kesal.
"Alvaro," tegur Kanaya pelan yang untuk kesekian kalinya diabaikan oleh cowok kelewat ganteng dan menyebelkan itu.
Sekarang Kanaya rasanya sudah tidak tahan lagi dengan keheningan ini. Apalagi dari pertama masuk mobil sampai setengah jam perjalanan Alvaro masih terus mengabaikannya dan masih fokus menyetir.
"Ya ... Tuhan jenis setan apapun yang merasuki cowok di sampingku ini,
Tolong cepat keluar sekarang juga," gumam Kanaya frustrasi.
Alvaro menjadi seperti ini setelah tahu selesai mengobrol santai dengan Dennis. Kanaya jadi curiga jenis mengobrol santai seperti apa yang mereka bicarakan sampai membuat Alvaro mendadak jadi pendiam seperti ini.
Waktu Kanaya tadi mencoba bertanya pembicaraan tentang apa ia dan Dennis, tapi dengan polosnya Alvaro menjawab 'gak penting cuman ngobrol santai'.
Hello ... itu jenis ngorol santai seperti apa sih?
"Kita mau kemana sih?" tanya Kanaya lagi dan berhasil ia masih diabaikan.
"Kita perasaan gak nyampe-nyampe deh dari tadi." Kanaya tetap masih diabaikan oleh pacar gemesnya ini.
"Alvaro dengerin aku ngomong gak sih?" tanya Kanaya benar-benar merasa putus asa. Kali ini ia sedikit membentak Alvaro.
Alvaro hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus melihat ke jalan. Membuat Kanaya geram rasanya ingin mencakar dengan kukunya. Kemudian sekalian saja merobek Alvaro supaya ia tidak bisa berbicara untuk selamanya.
Ckitt......
Kanaya terlonjat kaget saat Alvaro tiba-tiba mengerem mendadak. Kanaya sedikit bersyukur karena setidaknya cowok itu mengerem di pinggir jalan bukan di tengah jalan. Kalau sampai seperti itu, mungkin ia pulang akan tinggal namanya saja.
"Arrghhhh ....!" Kanaya menoleh melihat Alvaro memukul stir mobil lalu menyandarkan kepalanya ke stir mobil.
"Kamu kenapa?" Kanaya kembali bertanya walau kembali yakin akan diabaikan.
Alvaro menoleh ke arah Kanaya, raut wajahnya benar-benar terlihat frustasi. "Aku ...."
Tiba-tiba Kanaya merasakan sebuah pelukan di tubuhnya. Ia juga merasakan punggung Alvaro bergetar seolah sedang menangis, apa dia mungkin memang sedang menangis?
"Apa yang harus aku lakuin?" Kanaya hanya terdiam mendengar pertanyaan pilu Alvaro.
Alvaro melepas pelukannya. Ia memandang Kanaya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Alvaro memang terlihar tidak menangis saat ini. Tapi raut wajahnya sudah cukup menjelaskan bahwa keadaan cowok itu sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Apa yang harus aku lakuin Nay sekarang?" tanya Alvaro lagi yang membuat Kanaya seakan bisa merasakan semua kesedihan yang Alvaro rasakan saat ini.
"Hey ... kamu kenapa?" Jari-jari Kanaya menyentuh pelan wajah Alvaro membuat Alvaro terdiam memejamkan mata.
"Papa terkena serangan jantung dan sekarang dia di rawat di rumah sakit," gumam Alvaro lirih, bahkan terdengar berbisik tapi Kanaya masih bisa mendengarnya.
Kanaya mengangkat dagu Alvaro yang tertunduk membuat Alvaro menatapnya. "Ya udah nanti kita tengokin ke rumah sakit yah."
Alvaro menggeleng membuat Kanaya bingung. "Kenapa? Nanti aku temenin yah."
Sekali lagi Alvaro menggeleng, membuat Kanaya semakin bingung atas respon Alvaro.
"Ya udah gak hari ini, besok aja kita tengoknya yah?" Walaupun dalam hati ia bertanya-tanya atas respon Alvaro tapi sebisa mungkin Kanaya mencoba untuk mengerti.
"Enggak Nay ... aku gak mau ke sana. Aku gak mau ketemu dia dan mereka." Alvaro memijat kening, seakan semua beban hidupnya terkumpul di sana perlahan bisa menghilang.
Pikirannya kembali teringat pada ucapan Dennis tadi. Tentang seseorang yang ia benci dan diberi title nama oleh Tuhan untuk ia panggil dalam sebuah kata papa. Jika orang itu dua hari ini sedang dirawat di rumah sakit karena mendadak terkena serangan jantung.
"*Papa terkena serangan jantung dan udah dua hari ini dirawat di rumah sakit."
"Gue harap sebenci apapun lo sama papa. Lo bisakan jengukin dia di rumah sakit*?"
Arrghhhhhh......
Alvaro memang membenci orang yang ia sebut papa. Tapi ada satu sisi dalam dirinya yang membuat ia tidak bisa untuk tidak khawatir dan untuk tidak peduli.
"Ternyata lo bener, kalo gue salah selama ini. Sekarang akhirnya gue tau sebusuk apa nyokap gue selama ini*."
Hanya mengingat semua percakapan itu malah membuat pikiran Alvaro semakin kacau.
Alvaro berharap jika Tuhan bisa membuat ia lupa untuk satu hari saja atas semua yang pernah terjadi antara dia dan papanya. Menghilangkan semua rasa sakit yang ia rasakan atas semua perbuatan papanya untuk satu hari saja. Agar ia bisa pergi ke sana dan melihat kondisi papanya sebagai seorang anak.
"Al ... Alva," tegur Kanaya untuk yang kesekian kalinya karena melihat Alvaro yang kembali melamun.
Alvaro tersentak dari lamunannya saat merasakan sentuhan kecil di bahunya. Ia lalu melihat Kanaya yang sedang menatap khawatir.
"Kenapa?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Walaupun sebenarnya ia tahu maksud Kanaya.
"Kamu yang kenapa? Hey ... inget kamu punya aku. Apapun yang terjadi ada aku di sini buat kamu." Alvaro tertegun mendengar ucapan Kanaya.
"Yah ... ada kamu di sini," gumamnya yang membuat Kanaya tersenyum saat melihat sebuah senyum simpul di wajah Alvaro.
"Mamaku meninggal waktu aku berumur 12 tahun dan papaku 3 bulan kemudian menikah lagi dengan sahabat mama. Kamu mau dengerin cerita sinetron keluarga aku gak?" Ada rasa ragu dalam pertanyaan Alvaro. Pasalnya kisah hidup keluarganya sangat sulit dimengerti akal sehat.
Kanaya mengangguk. "Iya Al ... aku mau dengerin."
"Ternyata sebelum sama mama, papa udah pacaran sama tante Mega sahabat mama. Geli kalo inget itu karena saking miskinnya mereka bisa menipu mama selama ini hanya demi harta. Gila ... pura-pura berteman dan jadi suami hanya demi harta."
Kanaya hanya diam untuk meresponnya. Karena ia tahu kalau Alvaro saat ini hanya butuh seorang pendengar. Kanaya mencoba memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik.
"Kamu tau yang lebih brengseknya lagi mereka yang udah bunuh mama di depan mata aku sendiri. Dia mukul mama pake pas bunga, sampai mama meninggal. Brengseknya lagi orang yang disebut papa itu hanya diam. Kemudian pergi dengan dia meninggalkan aku dan mama yang sudah berlumuhan darah."
Ada sebuah gejolak emosi yang kembali muncul kepermukaan, saat alvaro kembali menceritakan semua masalah ini ke Kanaya.
"Orang yang kamu panggil Dennis itu adalah anak wanita itu dan anak kandung dari ... papa." Kanaya mengusap lembut punggung Alvaro, berusaha untuk menenangkannya.
"Lepasin tante? Alva mohon jangan. Tolong tante jangan robek baju Alva!"
"Diam! Kamu ternyata sangat tampan dan saya menginginkan kamu sekarang. Rasanya papa kamu itu terlalu tua buat saya."
Kilasan memori yang bermunculan itu membuat kebencian Alvaro kembali meradang dan rasa sakit itu kembali terasa.
"Wanita itu juga sempat beberapa kali hampir melecehkan aku. Aku yang masih berumur belasan tahun, aku yang sekecil itu, aku hampir dilecehkan." Untuk semua alasan akhirnya Alvaro menunduk untuk menyembunyikan satu tetes air mata yang akhirnya lolos.
"Iya Al ... ada aku di sini." Kanaya juga bingung harus merespon apa. Ia hanya ingin memberitahu Alvaro kalau saat ini cowok itu tidak sendiri.
"Aku benci mereka Nay ...."
"Iya Al aku tau ... aku ada di sini."
"Aku gak mau ketemu mereka. Aku gak mau Nay ... mereka udah ngancurin hidup aku Nay. Mereka udah buat Mama pergi dari aku Nay."
"Iya Al aku tau ... aku ada di sini."
"Mereka jahat Nay. Aku benci mereka tapi aku lebih benci diri aku sendiri, kenapa aku masih sempat ada rasa khawatir sama dia Nay!"
Kanaya tahu walaupun sebenci apapun Alvaro terhadap mereka atau lebih tepatnya papanya. Tapi jauh di lubuk hatinya masih sangat menyayangi papanya. Karena sajatinya seorang tidak akan benar-benar membenci ayah kandungnya sendiri.
Kanaya menganggkat dagu Alvaro yang tertunduk. Ia menatap lembut Alvaro. "Iya Al ... aku tau mereka jahat sama kamu. Mereka udah buat mama kamu pergi. Kamu gak mau ketemu sama mereka. Aku tau juga kalau kamu khawatir sama kondisi papa kamu."
"Aku gak tau Nay ... apa yang harus aku lakuin sekarang? Aku ...," ucapannya terpotong karena ada jari telunjuk Kanaya di bibirnya menyuruh untuk berhenti.
Kanaya menggeleng. "Syut ... aku tau. Nanti kita tengok yah. Aku temenin. Nanti di sana kamu tunjukin kalo kamu sekarang udah bahagia. Kalo kamu udah menang dari kejahatan mereka."
"Aku gak mau ketemu mereka."
"Kamu harus ketemu mereka agar mereka bisa lihat seberapa berhasilnya dan bahagianya kamu sekarang."
"Tapi ...." Ada jeda dalam ucapannya. Alvaro tahu seberapa keras mencoba menerima, tapi rasa benci itu semakin mendominasi.
Ada sebuah pelukan yang Alvaro rasakan di tubuhnya. Yah ... Kanaya memeluknya membuat Alvaro kembali balas memeluk Kanaya.
"Nanti kita tengok bareng yah."
"Iya Nay ...."
Dalam pelukan Kanaya, Alvaro merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian.
Karena sejatinya rasa benci itu seperti sebuah tanaman yang akan selalu tumbuh jika kita terus memupuk dan menyiraminya.
**Thanks for reading🙏
Jangan lupa vote & comment💜**